Musim Menetas, Waspada Bayi Ular Kobra yang Terbawa Banjir

Ular kobra termasuk salah satu hewan mematikan. Kendati panjang anak ular kobra sekitar 30 cm, tetap saja berbahaya dan perlu ditangani dengan baik.

Editor: Geafry Necolsen
istimewa
Meskipun masih bayi, ular kobra sudah memiliki kelenjar bisa yang mampu menghasilkan bisa dan berbahaya bagi manusia 

TRIBUNKALTIM.CO, WIKI - Musim hujan adalah musim menetas bayi-bayi kobra. Mereka biasanya juga terbawa banjir, jika arusnya cukup kuat.

Ular kobra termasuk salah satu hewan mematikan. Kendati panjang anak ular kobra sekitar 30 cm, tetap saja berbahaya dan perlu ditangani dengan baik.

Apalagi jika sampai terkena bisa ular kobra, perlu penanganan intensif agar tak membahayakan nyawa.

Oleh karena itu, pengetahuan cara pertolongan pertama saaat digigit ular kobra sebelum mengunjungi rumah sakit adalah hal penting.

Baca juga: Mengapa Ular Bermunculan Saat Banjir?

Perawat satwa reptil Eka Siwi menjelaskan, pertolongan pertama bisa menggunakan dua bongkah balok kayu atau papan dan seutas tali yang kuat.

Cara ini berbeda dengan metode lampau di mana menangani gigitan ular berbisa dengan menghisap bekas gigitan ular, menyobek, dan mengikat di sekitar area bekas gigitan.

Seharusnya, cara tersebut tidak dilakukan. "Terkadang kalau sedang sikat gigi, gusi mungkin akan berdarah (dan ada luka terbuka di gusi).

Baca juga: Mengapa Setiap Tahun Banjir di Indonesia Makin Parah?

Jika menghisap bisa kobra ke dalam mulut, itu sama saja seperti kita memindahkan bisa kobra dari korban ke mulut kita," kata Eka saat ditemui di Museum Komodo dan Taman Reptilia, Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta.

Sementara untuk teknik menyobek luka gigitan, hal tersebut justru kian membuat parah luka dan menyebabkan infeksi.

Baca juga: Apa yang Harus Dilakukan Jika Terjadi Musibah Kebakaran?

Menurut Eka, akibat infeksi itu adalah luka yang sulit disembuhkan.

Sementara untuk teknik mengikat, kendati ikatan di sekitar area gigitan ular kobra diperkirakan dapat menghentikan penyebaran bisa, hal tersebut sebenarnya tidak demikian.

Pasalnya, tubuh pada dasarnya tetap dapat menyerap bisa ular. Selain itu, bagian tubuh yang terkena gigitan justru membusuk dan mengharuskan seseorang untuk melakukan amputasi.

Maka dari itu, teknik pencegahan efektif agar bisa ular kobra tidak menyebar adalah dengan melakukan imobilisasi.

Jika bagian tubuh yang digigit jari, perlu pembidaian dari ujung jari hingga bahu.

Baca juga: 6 Hal yang Harus Dilakukan Jika Terjadi Gempa, Jauhi Laut Hindari Tsunami

"Dibidai seperti orang patah tulang. Gunakan papan atau kayu untuk membidai dari ujung jari hingga bahu, kemudian ikat dengan tali. (Hal ini dilakukan) agar menjaga tangan tidak bergerak.

Tidak boleh ada gerakan sama sekali," kata Eka.

"Bisa ular akan cepat menyebar jika bagian tubuh yang digigit banyak bergerak. Pastikan juga posisi tangan tidak melebihi posisi jantung, dan pastikan korban tidak terlalu panik agar penyebaran bisa tidak cepat," lanjutnya.

Baca juga: Odol dan Es Batu Hanya Memperparah, Begini Cara Menangani Luka Bakar

Tingkatan bisa ular

Sementara itu, Kasi Koleksi dan Perawatan Satwa Museum Komodo dan Taman Reptilia Erik Hendrayana mengatakan, beberapa ular memiliki tingkat bisa menengah dan tingkatan bisa tinggi.

Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR
6884 articles 182 0

Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.


Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved