Inilah Bank Pertama di Indonesia

Selama ini, banyak orang menganggap Bank Indonesia atau BI sebagai bank pertama di Indonesia

Editor: Geafry Necolsen
Shutterstock
Museum Bank Indonesia Surakarta. Selama ini, banyak orang menganggap Bank Indonesia atau BI sebagai bank pertama di Indonesia. 

TRIBUNKALTIM.CO - Pasang surut ekonomi Indonesia tak bisa dilepaskan dari keberadaan perbankan.

Bank dan lembaga keuangan sebenarnya sudah bermunculan sejak sebelum berdirinya republik ini.

Selama ini, banyak orang menganggap Bank Indonesia atau BI (dulunya bernama De Javasche Bank) sebagai bank pertama di Indonesia (bank tertua di Indonesia).

Baca juga: Profil Presiden Pertama RI: Soekarno, Nama Aslinya Koesno

Baca juga: Tahukah Kamu, Siapa Orang Pertama yang Menjadi PNS di Indonesia? Ini Dia Sosoknya

Sementara predikat bank komersial tertua di Tanah Air, sejauh ini dipegang oleh Bank Negara Indonesia (BNI).

Lalu, bank apa yang pertama kali didirikan di Indonesia?

Dikutip dari keterangan resmi Bank Indonesia pada Senin (15/2/2021), bank yang pertama kali berdiri di Indonesia adalah Bank Courant en Bank Van Leening.

Bank ini lahir pada tahun 1746 atau bahkan saat pemerintah kolonial Hindia Belanda belum terbentuk.

Baca juga: Di Indonesia Disebut Uang atau Duit, Dari Mana Sebutan Ini Berasal?

Baca juga: Daftar Mata Uang Paling Unik dalam Sejarah, Ada Pecahan 500 Miliar

Tepatnya, Bank Courant en Bank Van Leening berdiri di masa Persekutuan Dagang Hindia Timur atau Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC).

Bank paling pertama di Nusantara ini lahir setelah seabad VOC datang ke Indonesia dan menerapkan monopoli dagang pada komoditas rempah-rempah.

Kredit pegawai VOC

Bank Courant en Bank Van Leening sangat berperan penting dalam menunjang kegiatan perdagangan di era VOC.

Bank ini memiliki tugas untuk memberikan pinjaman dengan jaminan emas, perak, perhiasan, dan barang-barang berharga lainnya.

Baca juga: dr Marie Thomas, Dokter Wanita Pertama di Indonesia

Baca juga: Belum Sempat Diproduksi Massal, Pesawat Pertama Buatan RI Dimuseumkan

Pada tahun 1752, Bank van Courant disempurnakan menjadi De Bank van Courant en Bank van Leening. Bank ini bertugas memberikan pinjaman kepada pegawai VOC agar mereka dapat menempatkan dan memutarkan uang mereka pada lembaga ini.

Baca juga: Mengenal Herman Johannes, Sosok yang Ada di Uang Logam Rp 100

Baca juga: Mengenal Suku Tidung, Suku Asli di Kalimantan Utara, Ada di Uang Rp 75 Ribu Baru

Hal ini dilakukan dengan iming-iming imbalan bunga. Lembaga keuangan ini juga berfungsi sebagai pengirim dana dari dan ke Negeri Belanda.

Pada tahun 1799 atau menjelang awal abad ke-19, VOC dinyatakan bangkrut karena praktik korupsi yang akut dari pegawai rendahan hingga pejabatnya.

Sementara itu wilayah koloni VOC kemudian secara resmi berpindah tangan menjadi Hindia Belanda yang berada di bawah Kementerian Urusan Tanah Jajahan atau Kementerian Koloni Belanda.

Baca juga: Sejarah Diskon atau Potongan Harga, Diterapkan Pertama Kali pada 1887

Baca juga: Film Pertama Indonesia, Modalnya Cuma Rp 150.000

Meski VOC bubar di Hindia Timur, Bank Courant en Bank Van Leening masih tetap bisa bertahan dan operasinya berlanjut di era Hindia Belanda.

Namun di tahun 1818, bisnis bank ini tumbang setelah ikut diterpa krisis ekonomi. Bank ini kemudian resmi ditutup pemerintah.

Sepuluh tahun setelah penutupan Bank Courant en Bank Van Leening, De Javasche Bank yang jadi cikal bakal Bank Indonesia kemudian berdiri di tahun 1828.

Tak seperti pendahulunya, Bank Courant en Bank Van Leening, De Javasche Bank tak hanya sebagai penyimpan dan pemberi kredit, namun juga berfungsi sebagai bank sirkulasi mata uang gulden di Hindia Belanda.

Baca juga: Inilah Wanita Pertama yang Menjadi Pramugari, Awalnya Pekerjaan Ini Hanya untuk Pria

Baca juga: Ini Dia, Pasien Covid-19 Pertama di Indonesia

Tak lama setelah beroperasi, pemerintah Kerajaan Belanda memberikan octrooi atau hak-hak istimewa kepada De Javasche Bank untuk bertindak sebagai bank sirkulasi.

Sebagai bank sirkulasi, DJB memiliki kewenangan untuk mencetak dan mengedarkan uang Gulden di wilayah Hindia Belanda.

Octrooi secara periodik diperpanjang setiap 10 tahun sekali. Secara keseluruhan, DJB telah melalukan tujuh kali masa perpanjangan octrooi.

De Javasche Bank merupakan bank sirkulasi pertama di Asia dan yang terbesar saat itu. 

Penulis : Muhammad Idris
Editor : Geafry Necolsen


Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR
6885 articles 182 0

Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.


Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved