Pesan Moral dalam Setiap Bungkus Nasi Padang

Jangan heran jika Anda membawa pulang sebungkus nasi padang dan menemukan porsi yang super besar untuk dimakan.

Editor: Geafry Necolsen
istimewa
Jangan heran jika Anda membawa pulang sebungkus nasi padang dan menemukan porsi yang super besar untuk dimakan. 

Pesan Moral dalam Setiap Bungkus Nasi Padang

TRIBUNKALTIM.CO - Jika membeli nasi padang, bisa dipastikan porsi take away akan lebih banyak dibanding makan di tempat.

Ternyata ada alasan di balik hal tersebut.

Jangan heran jika Anda membawa pulang sebungkus nasi padang dan menemukan porsi yang super besar untuk dimakan.

Hal ini merupakan kebiasaan warga Minang dan dilakukan oleh seluruh restoran Padang di Nusantara.

Ada pesan moral dalam sebungkus nasi padang.

"Kalau dibungkus, nasinya pasti lebih banyak. Memang begitu kebiasaannya, di semua restoran," tutur Reno Andam Suri, ahli kuliner Minang sekaligus penulis buku 'Rendang Traveler: Menyingkap Bertuahnya Rendang Minang' kepada KompasTravel.

Baca juga: 5 Fakta tentang Nasi Kucing, Kuliner Paling Digemari Pengunjung Angkringan

Baca juga: Ini Alasan Mengapa Warung Gudeg di Jogja Buka 24 Jam

Menurut Uni Reno, hal ini didasari beberapa alasan.

Pertama, semua orang Minang menyadari bahwa mereka yang nasinya dibawa pulang tidak akan dimakan sendirian.

"Kalau dibawa ke rumah, pasti untuk lebih dari satu orang," tuturnya.

Nasi Padang
Nasi Padang (istimewa)

Kedua, di setiap tempat, nasi bungkusan punya patokan tersendiri.

Ada patokan berapa centong nasi (centong ini terbuat dari batok kelapa) untuk pengunjung yang pesan take away.

Baca juga: Sejarah Gudeg, yang Kini Jadi Kuliner Khas Kota Jogja

Baca juga: Tidak Hanya di Palembang, Pempek Juga Jadi Makanan Khas Daerah Lain

"Entah kenapa, memang sudah ada patokan banyaknya nasi untuk dibungkus. Besarnya akan lebih bagus jika nasinya sekian centong. Jadi memikirkan estetikanya juga," papar Uni Reno. 

Oleh karena itu, mereka yang nasinya dibawa pulang pasti akan mendapat beberapa 'bonus'. Jika pesannya nasi dan ayam, akan mendapatkan 'bonus' seperti kuah kari, sayur nangka, daun singkong rebus, sambal hijau.

"Kalau nasinya banyak dan lauknya cuma satu, sepertinya ada yang kurang. Orang Padang paham betul itu," tambah wanita yang kini berbisnis Rendang Uni Farah itu.

Baca juga: 5 Warung Bakso Paling Enak di Jogja, Dijamin Murah Meriah

Baca juga: Daftar 5 Bakso di Balikpapan yang Wajib Dicoba, Yuk Makan!

Meski begitu, kebijakan penambahan harga berbeda di setiap rumah makan padang. Ada restoran yang tidak menerapkan penambahan harga untuk nasi yang dibungkus, ada pula sebaliknya.

Salah satu rumah makan padang tertua di Jakarta, RM Sepakat misalnya, menambah harga nasi yang dibungkus sebesar Rp 1.000.

Rumah makan ini dibuka sejak 1969, dan memiliki dua cabang yakni Blok M Square dan Pasar Mayestik.

"Itu untuk biaya kertas, seperti itulah. Kalau dibawa pulang sudah termasuk nasi tambah," tutur Yuniar (55), salah satu anak pendiri RM Sepakat yang meneruskan bisnis orangtuanya.

Jangan heran jika Anda membawa pulang sebungkus nasi padang dan menemukan porsi yang super besar untuk dimakan. Hal ini merupakan kebiasaan warga Minang dan dilakukan oleh seluruh restoran Padang di Nusantara.
Jangan heran jika Anda membawa pulang sebungkus nasi padang dan menemukan porsi yang super besar untuk dimakan. Hal ini merupakan kebiasaan warga Minang dan dilakukan oleh seluruh restoran Padang di Nusantara. (istimewa)
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved