Fakta & Sejarah tentang Nasi Pecel, Kuliner Tradisional yang Menyehatkan

Pecel memiliki keunggulan salah satunya adalah kaya serat dan anti oksiden serta sangat menyehatkan.

Editor: Geafry Necolsen
istimewa
Pecel memiliki keunggulan salah satunya adalah kaya serat dan anti oksiden serta sangat menyehatkan. 

TRIBUNTRAVEL.COM -Kamu pasti sudah tidak asing dengan pecel.

Kuliner tradisional berbahan dasar sayuran ini cukup mudah ditemukan khususnya di Pulau Jawa. 

Terbuat dari berbagai jenis daun yang bisa dimakan direbus lalu dimakan dengan saus kacang yang berbumbu kencur, asem, garam dan cabai.

Baca juga: 5 Fakta Unik Nasi Kucing, Kuliner Khas di Warung Angkringan

Rasanya tak hanya segar, tapi juga pedas, wangi dan gurih.

Pecel memiliki keunggulan salah satunya adalah kaya serat dan anti oksiden serta sangat menyehatkan.

Baca juga: Ada Banyak Jenis Nasi Pecel di Indonesia, Kamu Suka yang Mana?

Baca juga: Bagaimana Cara Membedakan Pecel, Karedok, dan Gado-Gado?

Lalu bagaimana sejarah pecel?

Pecel Pincuk Hj Lulut Ponorogo dengan aneka lauk.
Pecel Pincuk Hj Lulut Ponorogo dengan aneka lauk. (Instagram/@pecel.buhjlulut)

Dalam buku Babad Tanah Jawi diceritakan Ki Gede Pamanahan beritirahat di Dusun Taji saat melakukan perjalanan ke Tanah Mataram.

Di Dusun Taji, Ki Ageng Karang Lo menyiapkan jamuan untuk Ki Gede Pamanahan yakni nasi pecel daging ayam, sayur menir.

Selasai makan, Ki Gede Pamahanan berkata, "Terimakasih Ki Sanak. Hidangannya enak sekali. Saya sungguh sangat berhutang budi pada Ki Sanak. Semoga kelak saya bisa membalasanya."

Saat ditanya hidangan apakah itu. Ki Ageng Karang Lo menjawab, "Puniko ron ingkang dipun pecel." Artinya adalah dedaunan yang direbus dan diperas airnya.

Sejak itu hidangan tersebut dikenal dengan pecel.

Disebut di Serat Cethini

Pecel juga disebutkan di naskah Centhini yang menjadi koleksi milik Badan Pelestarian Nilai Budaya yogyakarta.

Serat Centhini diawali dengan cerita kedatangan Syekh Wali Lanang dari Tanah Arab ke Tanah Jawa yang kemudian menurunkan Sunan Giri.

Singkat kata, Sunan Giri Prapen memiliki tiga putra yakni Jarengresmi, jayengsari, dan Niken Rancangkapti. Mereka kemudian meninggalkan Giri.

Pecel Kawi di Malang, Kamis (2/4/2020).
Pecel Kawi di Malang, Kamis (2/4/2020). (Instagram.com/@pecelkawi)

Perjalanan Raden Jayengresmi disertai kedua santrinya Gathak dan Gathuk mengembara melewati wilayah Surabaya, Kediri, Bojonegara, Rembang, Purwadadi, Semarang, Pekalongan, Cirebon, Purwakarta, Krawang dan Bogor.

Ketika sampai di Dukuh Argapura, Raden Jayengsari dan adiknya membayangkan makanan yang ingin mereka makan yaitu sekul pulen, panggang pudhak, jangan menir, pecel dhere, dhendheng manjangan gepuk, lalap sledri cambah kemangi, carabikang, koci, mendut, dan timus.

Sedangkan abdinya yang bernama Buras membayangkan sekul gaga blenyik putih, pecel iso myang semanggi, dan dhendheng pendhul maesa.

Saat itu pecel menjadi salah satu hidangan yang disajikan untuk Jayengsari.

Di Serat Cethini juga terdapat hidangan yang bernama rurujakan yang bebahan buah atau sayur yang kemudian berkembang menjadi hidangan pecel yang dikenal saat ini.

Sumber: Kompas.com

Halaman selanjutnya

Pecel di Yogyakarta

...

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved