Makna Ketupat Bagi Masyarakat di Indonesia

Makanan ini telah menjadi sebuah fenomena kebudayaan yang khas di Indonesia.

Editor: Geafry Necolsen
Istimewa
Makanan ini telah menjadi sebuah fenomena kebudayaan yang khas di Indonesia. 

TRIBUNKALTIM.CO - Ketupat adalah makanan yang tidak asing keberadaannya menjelang ataupun sesudah hari raya Idul Fitri. Makanan ini telah menjadi sebuah fenomena kebudayaan yang khas di Indonesia.

Menurut buku Myth and Meaning (1978), kode-kode kebudayaan memang dapat dijelaskan melalui makanan tertentu yang dipilih oleh seubah suku. 

Mengutip Harian Kompas, 19 September 2009, Raymond Thallis meneliti hubungan antara makanan, pembentukan kosa kata, dan identitas kebudayaan.

Baca juga: Bukan Sekadar Makanan, Tempe Punya Filosofi, Sekaligus Simbol Keharmonisan  Rumah Tangga

Adanya menu makanan yang berbeda dapat menjadi media untuk mengenang berbagai peristiwa penting dalam hidup manusia.

Filosofi ketupat

Pemahaman ketupat dengan metode semiologi Charles Sanders Peirce dapat dilihat sebagai ikon, lambang, dan simbol.

Ikon adalah penunjuk langsung. Lambang merupakan proses pengangkatan ikon ke dalam norma-norma keseharian.

Baca juga: Filosofi Nasi Tumpeng yang Identik dengan Perayaan Hari Kemerdekaan Indonesia

Sedangkan simbol adalah lapis pemaknaan reflektif atas lambang yang terkait dengan struktur kebudayaan.

Menjadi ikon, ketupat digambarkan sebagai makanan yang berbahan beras dan dibungkus dengan daun mudah dari pohon kelapa atau janur. 

Baca juga: Kumpulan Ucapan Hari Raya Idul Fitri, Cocok Dibagikan saat Lebaran

Sebagai lambang, ketupat memberi arti penting dalam proses perayaan. Makna ini dapat dilihat pada sebagian masyarakat pesisir Jawa yang membagi perayaan Lebaran menjadi dua, yaitu Idul Fitri dan Lebaran Ketupat. 

Kemudian, sebagai simbol, ketupat lahir sebagai wujud budaya pesisiran.

Mengutip Harian Kompas, Sabtu (19/9/2009), sumber dari Malay Annal (1912) oleh HJ de Graaf menyebutkan bahwa ketupat merupakan simbol perayaan hari raya Islam pada masa pemerintahan Demak yang dipimpin oleh Raden Fatah pada awal abad ke-15.

Baca juga: Pandemi, Mungkinkah Tak Terima Tamu Saat Lebaran?

De Graaf juga menduga-duga alasan mengapa bungkus ketupat yang asli menggunakan janur. 

Ia menyebut bahwa alasan pemilihan ini berkaitan dengan identitas budaya kepesisiran. Sebab, pohon kelapa dikenal banyak tumbuh di daratan rendah.

Selain itu, warna kuning memberikan arti khas untuk membedakan dari warna hijau dari Timur Tengah dan merah dari Asia Timur.

Baca juga: 3 Tradisi Lebaran yang Berubah karena Pandemi 

Budaya yang tak tergantikan

Selain makanan seperti ketupat, budaya saling mengunjungi juga menjadi salah satu budaya yang tidak bisa lepas dari tradisi hari raya Idul Fitri.

Baca juga: Tips Aman Menerima Tamu Saat Lebaran di Tengah Pandemi

Kebiasaan ini juga dapat dijelaskan melalui etimologi kata ketupat, yakni dalam bahasa Jawa disebut kupat.

Pada frase kupat berarti ngaku lepat atau mengaku bersalah. 

Makna ini menuntut kita untuk menghilangkan rasa benci dan saling memaafkan. Meskipun sederhana, ketupat membimbing manusia untuk berdamai dan memahami hakikat manusia itu sendiri.

Baca juga: Atur Ulang Ruang Tamu Sebelum Open House Lebaran

Meskipun zaman telah berkembang dan banyak tradisi lebaran yang dapat dilakukan melalui media sosial, budaya ketupat tetap tidak tergantikan.

Budaya ketupat membuat orang-orang hadir, bertatap muka, dan saling bercerita sembari menyantapnya. 

Saat itu, kita disadarkan, betapa kehidupan sehari-hari telah membuat kita jauh dari keluarga, kerabat, dan sahabat.

Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved