Kudeta Guinea, Rentetan Tembakan Terdengar Sebelum Presiden Diculik

mereka melaporkan melihat sejumlah tentara di jalan-jalan yang meminta warga kembali ke rumah dan tetap di dalam.

Editor: Geafry Necolsen
Istimewa
Warga melaporkan melihat sejumlah tentara di jalan-jalan yang meminta warga kembali ke rumah dan tetap di dalam. 

Kudeta Guinea, Rentetan Tembakan Terdengar Sebelum Presiden Diculik

TRIBUNKALTIM.CO - Suara rentetan tembakan terdengar di pusat ibu kota Guinea, Conakry, sesaat sebelum Presiden Alpha Conde diculik.

Para saksi mata berkata kepada AFP, mereka melihat sekumpulan tentara turun ke jalanan.

Tak lama kemudian tentara pemberontak mengirim video ke AFP, yang menyatakan mereka telah menculik presiden dan membubarkan pemerintah.

Namun, pemerintahan Conde sebaliknya menyatakan bahwa serangan di istana presiden bisa dihalau, sehingga situasi di lapangan masih belum jelas.

Sementara itu, warga yang dihubungi AFP melalui telepon di kota Kaloum dekat Conakry melaporkan mendengar suara tembakan yang berkelanjutan.

Berbicara dengan syarat anonim demi keselamatan, mereka melaporkan melihat sejumlah tentara di jalan-jalan yang meminta warga kembali ke rumah dan tetap di dalam.

Guinea adalah salah satu negara termiskin di dunia, meskipun memiliki sumber daya mineral yang kaya, dan telah dilanda ketidakstabilan politik selama bertahun-tahun.

Presiden Alpha Conde memenangi masa jabatan ketiga di Guinea dalam pemilu yang disengketakan dengan kekerasan pada Oktober 2020.

Dia mencalonkan diri setelah mengubah konstitusi pada Maret 2020, yang memungkinkan dirinya melebihi dua masa jabatan, sehingga memicu protes massa.

Puluhan orang tewas selama demonstrasi, sering kali dalam bentrokan dengan pasukan keamanan. Ratusan orang juga ditangkap.

Conde (83) kemudian ditetapkan sebagai presiden pada 7 November tahun lalu - meskipun ada keluhan kecurangan pemilu dari penantang utamanya, Cellou Dalein Diallo, dan tokoh oposisi lainnya.

Sebagai mantan aktivis oposisi, Conde menjadi presiden pertama Guinea yang terpilih secara demokratis pada 2010, lalu menang lagi tahun 2015 dan yang terbaru tahun lalu.

Namun, para kritikus menuduhnya membelok ke arah otoritarianisme.

Sumber: Kompas.com

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved