6 Jenis Vaksin Covid-19 yang Digunakan di Indonesia

Tahapan pelaksanaan vaksinasi virus corona Covid-19 di Indonesia dimulai sejak awal Januari 2021. Ditargetkan, proses vaksinasi bisa selesai pada Mare

Editor: Geafry Necolsen
Shutterstock
Tahapan pelaksanaan vaksinasi virus corona Covid-19 di Indonesia dimulai sejak awal Januari 2021. Ditargetkan, proses vaksinasi bisa selesai pada Maret 2022. 

TRIBUNKALTIM.CO - Tahapan pelaksanaan vaksinasi virus corona Covid-19 di Indonesia dimulai sejak awal Januari 2021. Ditargetkan, proses vaksinasi bisa selesai pada Maret 2022.

Pelaksanaan vaksinasi virus corona tertuang dalam Keputusan Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit No. HK.02.02/4/1/2021 tentang Petunjuk Teknis Pelaksanaan Vaksinasi dalam Rangka Penanggulangan Pandemi Covid-19.

Baca juga: Ada Begitu Banyak Merek Vaksin Covid-19, Mana yang Terbaik?

Ada 6 merek vaksin yang akan digunakan yaitu vaksin buatan PT Bio Farma (Persero), AstraZeneca, Sinopharm, Moderna, Pfizer Inc and BioNTech, dan Sinovac Biotech Ltd.

Berikut rincian dan spesifikasi dari masing-masing vaksin:

1. PT Bio Farma (Persero)

Dilansir dari Kompas.com, (6/12/2020), produsen vaksin virus corona dalam negeri, PT Bio Farma, membangun dua jalur untuk pengadaan vaksin.

Pertama, pemerintah melalui Bio Farma menjalin kerja sama dengan perusahaan vaksin asal China, Sinovac Biotech.

Kedua, mengadakan vaksin dalam negeri yang disebut vaksin Merah Putih.

Menurut data terbaru, Bio Farma sedang mengolah 15 juta dosis bahan baku vaksin yang telah didatangkan. Bahan baku tersebut diperoleh berdasarkan hasil kerja sama dengan Sinovac.

Baca juga: 3 Pertanyaan Penting Tentang Vaksin yang Dijawab Ahlinya

Sedangkan untuk vaksin Merah Putih, saat ini pihak peneliti Eijkman Bio Farma masih meneliti dan mengembangkan vaksin tersebut.

2. AstraZeneca

Vaksin AstraZeneca merupakan vaksin berbasis vektor adenovirus simpanse.

Artinya, tim pengembang vaksin mengambil virus yang biasanya menginfeksi simpanse, kemudian dimodifikasi secara genetik untuk menghindari kemungkinan konsekuensi penyakit pada manusia.

Virus yang dimodifikasi ini membawa sebagian dari Covid-19 yang disebut protein spike, bagian menonjol seperti paku yang ada di permukaan virus corona SARS-CoV-2.

Baca juga: Bagaimana Efek Samping Vaksin Covid-19 pada Ibu Hamil?

Alasan mereka sangat masuk akal, mengingat survei ini dilakukan pada November 2020, sebelum ada vaksin Covid-19 yang dinyatakan aman dan manjur oleh Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM).
Alasan mereka sangat masuk akal, mengingat survei ini dilakukan pada November 2020, sebelum ada vaksin Covid-19 yang dinyatakan aman dan manjur oleh Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM). (Istimewa)

Saat vaksin dikirim ke sel manusia, akan memicu respons kekebalan terhadap protein spike, menghasil antibodi dan sel memori yang akan mampu mengenali virus penyebab Covid-19.

Satu dosis vaksin AstraZeneca disebut memilik efikasi sebesar 76 persen terhadap Covid-19 dengan gejala dalam 90 hari pertama setelah vaksinasi, tanpa penurunan perlindungan yang signifikan selama periode ini.

Efikasi vaksin setelah pemberian dosis kedua lebih tinggi apabila diberikan dengan interval yang lebih lama yakni mencapai 81,3 persen jika interval pemberian dosis pertama dan kedua mencapai 12 minggu atau lebih.

Baca juga: Vaksin AstraZeneca Tak Disarankan untuk Usia di Bawah 30 Tahun

3. Sinopharm

Perusahaan farmasi milik pemerntah China, Sinopharm, mengumumkan bahwa vaksin virus corona buatan mereka diklaim 79,34 persen efektif melindungi dari infeksi Covid-19. 

Adapun angka 79 persen yang dilaporkan dari hasil uji klinis di China juga lebih rendah bila dibandingkan tingkat efektivitas 86 persen untuk vaksin Sinopharm yang menjalani uji klinis fase 3 di Uni Emirat Arab.

Baca juga: Seorang Remaja Meninggal Usai Divaksin Pfizer, CDC Selidiki Penyebab Kematian

4. Moderna

Vaksin Moderna memakai teknologi terbaru berbasis versi sintesis molekul virus SARS-CoV-2 yang disebut "messenger RNA" atau disingkat mRNA.

Pada vaksin Moderna mengandung mRNA sintetis dengan kode struktur yang disebut "glikoprotein lonjakan stabil pra-fusi" virus.

Dalam kasus ini, mRNA bertugas menginstruksikan sel-sel di dalam tubuh untuk membuat bagian tertentu dari protein lonjakan virus.

Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved