Manten Sapi, Tradisi Unik Hari Raya Idul Adha di Pasuruan Jawa Timur

Indonesia, negara dengan mayoritas penduduk pemeluk agama Islam sangat kaya akan tradisi dan budaya.

Editor: Geafry Necolsen
Tribunnews
Salah satu daerah dengan tradisi unik dalam rangka menyambut Hari Raya Idul Adha adalah Kabupaten Pasuruan. 

Manten Sapi, Tradisi Unik Hari Raya Idul Adha di Pasuruan Jawa Timur

TRIBUNTRAVEL.COM - Indonesia, negara dengan mayoritas penduduk pemeluk agama Islam sangat kaya akan tradisi dan budaya.

Dalam menghadapi momen-momen penting seperti kelahiran dan kematian, beragam suku di Indonesia punya cara atau tradisi sendiri untuk memperingatinya.

Tak terkecuali, momen besar keagamaan seperti Hari Raya Idul Adha, penduduk Indonesia memperingatinya dengan cara yang berbeda dan cenderung unik.

Masyarakat Pasuruan memiliki tradisi unik dalam menyambut Idul Adha, yakni tradisi manten sapi atau mantenan sapi.

Satu di antara banyak desa di Pasuruan yang masih melakukan tradisi manten sapi ini adalah Desa Sebalong dan Desa Watestani di Kecamatan Nguling, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur.

Dalam tradisi ini manten sapi ini puluhan ekor hewan kurban dirias secantik mungkin oleh masyarakat.

Tradisi ini biasa dilakukan pada hari sebelum sapi dan kambing disembelih.

Sebelum dirias, sapi dan kambing dimandikan terlebih dahulu.

Lantas, mereka dihias menggunakan bunga-bunga dan diberi pewangi layaknya seorang manten atau pengantin.

Selanjutnya, hewan-hewan kurban sapi dan kambing tersebut diarak keliling desa.

Sapi dan kambing ini diarak dan dipamerkan ke masyarakat.

5 Tradisi Unik Pernikahan Berbagai Negara, Pria di Rumania Harus Bayar Tebusan

6 Fakta Unik Yordania, Negara dengan Ibu Kota Tertua di Dunia

Sementara, masyarakat yang ikut berkeliling mengarak hewan kurban ini membawa berbagai bahan pangan seperti beras, minyak goreng, dan bumbu-bumbu.

Bahkan, kayu bakar pun ikut diarak.

Semua bawaan itu juga akan diberikan kepada warga yang tidak mampu bersama dengan daging hewan kurban.

Menurut seorang tokoh daerah setempat, M Ilyas, sembako yang dibawa saat mengarak hewan kurban tersebut akan dibagikan pada warga kurang mampu, agar mereka tak kesusahan saat harus mengolah daging kurban yang dibagikan.

"Jadi bukan hanya membagikan dagingnya saja. Tapi kami siapkan juga beras, bumbu , minyak dan lainnya. Jadi bagi warga yang tidak mampu bisa langsung memasaknya. Tidak bingung, dapat daging tapi tidak bisa memasaknya. Makanya disiapkan semuanya," tutur M Ilyas, dikutip dari Surya.co.id, Jumat (31/7/2020).

Selain sebagai syiar Islam, esensi dari tradisi manten sapi ini adalah berkurban dan membantu sesama.

Selain itu, tradisi manten sapi ini dilakukan sebagai wujud penghormatan pada hewan-hewan kurban yang akan disembelih pada Hari Raya idul Adha.

Tradisi turun-temurun itu juga menjadi pengingat warga lain yang mampu, agar berkurban pada Idul Adha.

Meski sudah ada sejak bertahun-tahun lalu, tradisi manten sapi itu hingga kini masih dipertahankan oleh masyarakat setempat.

"Tradisi manten sapi ini sudah ratusan tahun, konon sejak kakek saya masih kecil sudah digelar. Tujuannya untuk syiar Islam dan memotivasi warga untuk bersedekah dengan membantu sesamanya,” kata Muhammad Yasin, masyarakat setempat.

Ia menjelaskan, di sini, semua orang memahami, bahwa hewan yang dikurbankannya saat Idul Adha, akan menjadi tunggangan mereka saat di akhirat nanti.

Tentu saja mereka ingin tunggangan itu nyaman dan enak dikendarai dalam kondisi bersih dan rapi.

“Seperti di dunia ini, mengendarai mobil inginnya mobil itu bagus dalamnya harum, sehingga enak dan nyaman dikendarai. Sama dengan sapi yang dikurbankan saat Idul Adha, dimandikan agar suci dan sehat, diselimuti sorban serta diberi bunga agar sapinya harum. Saat di akhirat nanti, penunggangnya bisa gagah,” tambahnya.

Sumber: Kompas.com

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved