Tak Perlu PCR untuk Memastikan Pasien Covid-19 Sudah Sembuh, Ini Kriterianya

Meski demikian, ada beberapa kriteria yang harus dipenuhi, dan pasien wajib berkonsultasi dengan dokter untuk memastikan kondisinya.

Editor: Geafry Necolsen
istimewa
Embarkasi Haji Balikpapan ini beralih fungsi menjadi rumah sakit darurat untuk menangani pasien covid-19. Foto ini diambil sebelum pandemi. 

Tak Perlu PCR untuk Memastikan Pasien Covid-19 Sudah Sembuh, Ini Kriterianya

TRIBUNKALTIM.CO - Pasien positif Covid-19 dengan gejala ringan yang menjalani isolasi mandiri bisa dinyatakan sembuh tanpa harus menjalani tes PCR ulang.

Meski demikian, ada beberapa kriteria yang harus dipenuhi, dan pasien wajib berkonsultasi dengan dokter untuk memastikan kondisinya.

Orang sudah bisa mengakhir isolasi mandiri (isoman) jika gejala yang dirasakannya sudah mereda.

Baca juga: Bertemu dengan yang Orang Positif Covid-19 Selama 15 Menit, Sudah Termasuk Kontak Erat

Demikian dikatakan dr. RA Adaninggar Primadia Nariswari SpPD, ahli kesehatan yang juga aktif dalam edukasi Covid-19.

"Orang bergejala ringan setelah 10 hari sudah bisa bebas isolasi, karena tidak lagi menular jika gejalanya sudah benar-benar hilang," kata dia kepada Kompas.com.

Jika masih ada gejala, masa isolasi harus ditambah tiga hari sebelum bisa dinyatakan sembuh dan tidak menularkan virus.

Beberapa kondisi yang dianggap sudah sembuh ialah tubuh yang lebih segar, fit, tidak mengalami batuk atau pun demam.

Baca juga: Pasien Isolasi Mandiri di Rumah, Segera ke RS Jika Muncul Gejala Ini

Namun Ning -demikian dokter ini kerap disapa, mewajibkan pasien untuk berkonsultasi, dengan tenaga kesehatan di puskesmas terdekat atau melalui telemedicine, untuk memastikannya.

Sudah menjadi wewenang dokter untuk memastikan apakah seseorang layak dinyatakan sembuh dari Covid-19.

Selain itu, ia menegaskan, tidak perlu dilakukan tes ulang PCR untuk bisa disebut sembuh.

"Banyak yang pakai PCR dua kali, seperti yang dilakukan berbagai perusahaan, itu yang tidak tepat," tandas dia.

Pasalnya, tes PCR mendeteksi materi genetik di tubuh manusia tanpa membedakannya menjadi virus yang aktif atau sudah mati.

Akibatnya, ujar Ning, hasil tesnya bisa terus positif hingga tiga bulan setelah terpapar virus.

Dengan alasan ini maka tes PCR dimaksudkan sebagai diagnosis bukan evaluasi kondisi pasien.

Baca juga: Apa yang Harus Dilakukan Jika Tes Antigen Menunjukan Hasil Positif?

Pengecualian dilakukan pada pasien bergejala berat yang membutuhkan tes ulang PCR karena efek sampingnya lebih banyak.

Untuk pasien seperti ini, dokter perlu melakukan lebih banyak tes termasuk foto rontgen dan pemeriksaan darah untuk menyatakan kesembuhannya.

Hal ini sebenarnya sesuai dengan ketetapan WHO yang juga diacu oleh Pemerintah Indonesia sejak Juli 2020 lalu.

Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor Hk.01.07/Menkes/4641/2021 tentang Panduan Pelaksanaan Pemeriksaan, Pelacakan, Karantina, dan Isolasi dalam Rangka Percepatan Pencegahan Dan Pengendalian Covid-19 mengatur hal ini.

Ada beberapa kriteria yang menyatakan seseorang bisa bebas dari isolasi.

Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved