Mengapa Sebagian Besar Patung Kuno Kehilangan Hidungnya?

Jika terjadi satu atau dua kali, mungkin Anda bisa menganggapnya kecelakaan.

Editor: Geafry Necolsen
istimewa
Kepala Patung Sphinx 

Kebanyakan benda-benda tersebut disimpan di makam atau kuil. Ini dilakukan agar keturunan almarhum dapat ‘menyuapi’ leluhur mereka di akhirat dengan hadiah dan makanan. Selain itu, manusia kerap mengirim persembahan kepada dewa sebagai balasan karena telah menjaga Mesir.

Beberapa orang menganggap cara tersebut dapat memberi kekuatan lebih kepada roh. Oleh karena itu, mereka–terutama para perampok makam–mencoba mengambil kekuatannya melalui aksi vandalisme.

Patung kuno ini juga mengalami nasib yang sama, bagian hidungnya hilang.
Patung kuno ini juga mengalami nasib yang sama, bagian hidungnya hilang. (istimewa)

“Bagian tubuh patung yang rusak dipercaya tidak akan mampu lagi melakukan tugasnya,” ujar Bleiberg.

Tanpa telinga, roh yang ada di dalam patung tidak akan mendengar doa. Tanpa lengan, ia tidak mampu menerima persembahan. Dan tanpa hidung, mereka dipercaya tidak akan bisa bernapas.

Para perampok makam mungkin sengaja merusak hidung patung kuno agar roh tidak bisa balas dendam kepada mereka.

Menurut Bleiberg, Mesir Kuno memiliki sejarah panjang mengenai perusakan citra manusia. Pada masa prasejarah misalnya, mumi-mumi sengaja dirusak. Kemudian, saat Kekristenan tiba, patung-patung, relief, serta ikon dewa Mesir Kuni sengaja dirusak untuk mencegah ‘setan kafir’ bangkit kembali.

“Perusakan merupakan gerakan simbolis yang kuat terkait dengan ketidakberdayaan, penghinaan, kehilangan identitas, dan rasa sakit,” katanya.

Meskipun motif aksi vandalisme tersebut belum diketahui dengan pasti hingga saat ini, tapi setidaknya kita tahu bahwa itu bukanlah kecelakaan–melainkan memang disengaja.

Sumber: Kompas.com

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved