Bukan Sekadar Lauk, Tempe Punya Filosofi

Lebih dari sekadar bahan makanan, tempe memiliki makna yang melekat pada budaya Jawa.

Editor: Geafry Necolsen
istimewa
Lebih dari sekadar bahan makanan, tempe memiliki makna yang melekat pada budaya Jawa. 

TRIBUNKALTIM.CO - Tempe bagi orang Jawa seperti makanan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Lebih dari sekadar bahan makanan, tempe memiliki makna yang melekat pada budaya Jawa.

Peneliti pusat studi pandan dan gizi Universitas Gadjah Mada, Murdijati Gardjito, menjelaskan tempe memiliki kiasan dan filosofi.

Zaman dahulu, pembuatan tempe memerlukan kerja sama antar anggota keluarga.

Murdijati menjelaskan, proses merebus dan mengupas kedelai biasanya dilakukan kaum laki-laki.

“Tetapi setelah kedelai rebusnya dikupas dan diberi usar (ragi tradisional), selanjutnya yang mengusari adalah perempuan. Perempuan juga harus bersih artinya tidak sedang menstruasi,” jelas Murdijati.

Proses membungkus tempe juga dilakukan oleh perempuan.

Selain itu, saat menjual tempt ke pasar juga termasuk tugas perempuan.

Hal itu menjadi bukti jika membuat tempe di rumah itu merupakan pekerjaan kebersamaan suami dan istri.

Simbol tersebut berkembang pada masyarakat suku Jawa.

Tempe menyimbolkan kehidupan yang harmonis antar gender dalam kehidupan rumah tangga orang Jawa.

Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved