Apa Itu Ban Suntik? Kenapa Mobil Dilarang Pakai Ban Jenis Ini?

ban menjadi bagian yang sangat vital dalam keselamatan berkendara. Maka dari itu, kondisinya harus benar-benar bagus dan masih layak digunakan.

Editor: Geafry Necolsen
ANTARA FOTO
Rekondisi ban mobil. Ban menjadi bagian yang sangat vital dalam keselamatan berkendara. Maka dari itu, kondisinya harus benar-benar bagus dan masih layak digunakan. 

Hal ini dilakukan karena kondisi ban sudah mulai menipis dan kembangan ban sudah mulai dangkal.

On Vehicle Test Manager PT Gajah Tunggal Tbk Zulpata Zainal, menjelaskan, dari dua jenis pembaruan tersebut ada pertimbangan masing-masing.

Baca juga: Langsung Menyalakan AC Setelah Mobil Parkir, Membahayakan Ibu Hamil dan Janin

"Untuk ban vulkanisir atau regroovable biasanya hanya dilakukan pada ban kendaraan commercial, seperti bus, truk, pikap, dan yang lain," katanya.

Hasil dari vulkanisir ban ini kata Zulpata bisa lebih baik dari kondisi ban sebelumnya karena telapak ban sudah halus.

Dengan catatan kondisi dinding ban masih bagus dan layak digunakan. Di samping itu, ban yang akan divulkanisir hanya dilakukan pada ban yang mempunyai tanda berupa tulisan regroovable pada dinding ban.

Dengan adanya tanda tersebut memastikan bahwa vulkanisir aman dilakukan. Tetapi, jika ban tidak terdapat tulisan regroovable sebaiknya tidak dilakukan vulkanisir karena bisa berbahaya. 

"Keamanan ban vulkanisir baik, malah direkomendasikan oleh pabrikan ban, khususnya ban commercial, misal ban truck, bus , pick up, dengan syarat kualitas dari vulkanisir nya bagus," ucapnya.

Baca juga: Turkmenistan Larang Warganya Punya Mobil Berwarna Hitam, Apa Alasannya?

Zulpata menambahkan, vulkanisir adalah mengganti total telapak ban dengan telapak ban yang baru. Dan hanya menyisakan casing atau dinding ban saja.

"Tapi casing ban yaitu bagian dinding ban dan bagian yang menempel tidak perlu diganti. Kalau istilahnya hanya ganti bajunya saja, tapi casingnya tetap," ujarnya.

Tetapi, lanjut Zulpata, untuk ban suntikan memang tidak disarankan. Meskipun selama ini banyak yang melakukannya.

"Kalau ban yang suntikan cukup riskan. Iya kalau sayatannya pas, tidak masalah. Tetapi jika sayatannya tidak pas, justru bisa menjadi masalah," ucapnya.

Selain itu, kata Zulpata, tidak menutup kemungkinan justru akan membahayakan pengguna. Mengingat, ban suntikan dilakukan dengan mendalamkan kembangan ban secara manual.

Sumber: Kompas.com

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved