10 Protokol Isolasi Mandiri untuk Anak Positif Covid-19

Banyak orangtua yang panik dan kebingungan ketika mendapati anaknya terpapar Covid-19.

Editor: Geafry Necolsen
istimewa
Banyak orangtua yang panik dan kebingungan ketika mendapati anaknya terpapar Covid-19. Padahal, respons orangtua sangat penting agar anak mendapatkan penanganan dan perawatan yang tepat. 

10 Protokol Isolasi Mandiri untuk Anak Positif Covid-19

TRIBUNKALTIM.CO - Banyak orangtua yang panik dan kebingungan ketika mendapati anaknya terpapar Covid-19.

Padahal, respons orangtua sangat penting agar anak mendapatkan penanganan dan perawatan yang tepat.

Para ayah dan ibu diharapkan mampu berpikir matang agar bisa membantu proses penyembuhan buah hatinya.

Demi membantu para orangtua di Indonesia, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) merilis panduan khusus untuk anak yang positif Covid-19.

Langkah ini dilakukan untuk membantu pasien anak yang tidak dapat dirawat di rumah sakit karena mengalami gejala ringan.

Akibat tingkat keterisian rumah sakit yang tinggi, kini Pemerintah menitikberatkan layanan rawat inap pada pasien dengan gejala sedang dan berat.

Dengan demikian, orangtua diharuskan mampu merawat anak sendiri di rumah, sepanjang mengalami gejala ringan seperti batuk, pilek, demam, diare, muntah dan ruam.

Baca juga: Merawat Anak yang Isolasi Mandiri karena Covid-19

Isolasi mandiri juga dianjurkan ketika anak masih aktif, dan mampu makan serta minum sendiri.

Meski demikian, ada sejumlah protokol kesehatan yang harus diikuti oleh orangtua yang merawat anak positif Covid-19 di rumah:

  • Tetap di rumah

Pastikan anak tetap di rumah dengan menyediakan kamar atau ruangan yang nyaman dan memiliki ventilasi yang baik.

Sediakan mainan atau alat bantu lainnya agar anak semakin betah di rumah.

Baca juga: Apa yang Harus Dilakukan Jika Tes Antigen Menunjukan Hasil Positif?

Melindungi anak dari Covid-19
Melindungi anak dari Covid-19 (Shutterstock)
  • Gunakan masker

Masker harus tetap dipakai oleh anak yang sudah berusia di atas dua tahun, atau sudah bisa memakai dan melepaskannya sendiri.

Lepaskan masker ketika anak sedang tidur. Berikan jeda istirahat dari masker ketika anak sendirian di dalam ruangan atau berjarak dua meter dari orang di sekitarnya.

Baca juga: Apa yang Harus Dilakukan Setelah Kontak Erat dengan yang Orang Positif Covid-19?

Pastikan orangtua atau pengasuh yang merawat anak menggunakan masker dan penutup mata agar mengurangi risiko terpapar Covid-19.

  • Jaga jarak

Orangtua yang mengasuh anak positif Covid-19 harus dalam keadaaan sehat dan bugar. Gunakan pelindung untuk menekan risiko paparan dan jaga jarak dengan anak.

Jika berbeda status dengan anak, disarankan untuk tidur di kasur terpisah dengan jarak dua meter.

  • Cuci tangan

Pastikan untuk selalu menerapkan protokol kesehatan dengan mencuci tangan secara berkala.

Ikuti pandungan cuci tangan yang baik untuk memastikan tangan terbebas dari semua virus dan bakteri yang berbahaya.

  • Menerapkan etika batuk

Ajari anak soal etika batuk yang harus dilakukannya untuk mencegah penyebaran virus.

Terlebih lagi, Cvid-19 kini semakin mudah menyebar sehingga berisiko tinggi untuk orang di sekitarnya.

 

Pastikan anak mengerti untuk menutup mulut dan hidungnya dengan tisu atau lengan baju.

Buang tisu sisa batuk ke tempat sampah dan cuci tangan dengan air dan sabun atau hand sanitizer.

  • Periksa suhu tubuh pagi dan sore

Sediakan termometer untuk memerika suhu tubuh anak secara berkala pada pagi dan sore hari.

Jika anak demam atau suhu badan terlalu tinggi, berikan paracetamol untuk membantu menurunkannya.

Jika demam pada anak tak kunjung turun, konsultasikan dengan dokter untuk mendapatkan rekomendasi terbaik.

  • Periksa saturasi oksigen dan frekuensi nadi

Orangtua juga harus menyediakan oxymeter untuk memantau saturasi oksigen dan frekuensi nadi anak.

Apabila tingkat saturasi oksigen di bawah 95 persen, orangtua harus waspada dan segara mencari bantuan dari tenaga kesehatan.

  • Pantau laju napas

Pantau laju napas pada anak untuk memastikan kondisi vitalnya. IDAI menyebutkan sejumlah kriteria yang tergolong menjadi berisiko untuk kesehatan anak.

Kondisi tersebut bisa menjadi tanda bahaya apabila bayi di bawah dua bulan memiliki laju napas lebih dari 60x per menit.

Lalu untuk bayi usia 2-11 bulan sebanyak lebih dari 50x per menit, balita 1-5 tahun 40x per menit dan anak di atas lima tahun memiliki laju napas 30x per menit. 

  • Berikan ASI

Jika bayi positif Covid-19, disarankan untuk memberikan ASI seoptimal mungkin karena mengandung antibodi yang baik untuk penyembuhan.

Penuhi kebutuhan nutrisi anak dengan sesering mungkin memberikan ASI. Hal ini akan membantu melawan virus dan mempercepat penyembuhan bagi bayi.

  • Berikan anak makanan bergizi

Berikan bayi dan anak makanan bergizi untuk mempercepat penyembuhan Covid-19.

Untuk bayi yang sudah makanan pendamping (MPASI), berikan gizi seimbang sesuai usia termasuk  karbohidrat, protein lemak, sayur sumber vitamin dan mineral.

Sumber: Kompas.com

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved