Mengenal 6 Jenis Vaksin yang Digunakan untuk Melawan Virus Corona

Ada 6 merek vaksin yang akan digunakan, berikut rincian dan spesifikasi dari masing-masing vaksin

Editor: Geafry Necolsen
Fresh Daily
Ilustrasi vaksin virus corona. Ada 6 merek vaksin yang akan digunakan, berikut rincian dan spesifikasi dari masing-masing vaksin 

Mengenal 6 Jenis Vaksin yang Digunakan untuk Melawan Virus Corona

TRIBUNKALTIM.CO - Tahapan pelaksanaan vaksinasi virus corona Covid-19 di Indonesia dimulai sejak awal Januari 2021. Ditargetkan, proses vaksinasi bisa selesai pada Maret 2022.

Pelaksanaan vaksinasi virus corona tertuang dalam Keputusan Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit No. HK.02.02/4/1/2021 tentang Petunjuk Teknis Pelaksanaan Vaksinasi dalam Rangka Penanggulangan Pandemi Covid-19.

Ada 6 merek vaksin yang akan digunakan yaitu vaksin buatan PT Bio Farma (Persero), AstraZeneca, Sinopharm, Moderna, Pfizer Inc and BioNTech, dan Sinovac Biotech Ltd.

Baca juga: Peringatan Interpol, Beredar Vaksin Palsu Covid-19, dan Kejahatan Pandemi Lainnya

Baca juga: WHO Batal Umumkan Asal-usul Virus Corona Minggu Ini, Apa Alasannya?

Berikut rincian dan spesifikasi dari masing-masing vaksin:

1. PT Bio Farma (Persero)

Dilansir dari Kompas.com, (6/12/2020), produsen vaksin virus corona dalam negeri, PT Bio Farma, membangun dua jalur untuk pengadaan vaksin.

Pertama, pemerintah melalui Bio Farma menjalin kerja sama dengan perusahaan vaksin asal China, Sinovac Biotech.

Kedua, mengadakan vaksin dalam negeri yang disebut vaksin Merah Putih.

Menurut data terbaru, Bio Farma sedang mengolah 15 juta dosis bahan baku vaksin yang telah didatangkan. Bahan baku tersebut diperoleh berdasarkan hasil kerja sama dengan Sinovac.

Sedangkan untuk vaksin Merah Putih, saat ini pihak peneliti Eijkman Bio Farma masih meneliti dan mengembangkan vaksin tersebut.

Baca juga: Covid Bermutasi Lagi, N439K Terdeteksi di Indonesia Sejak Akhir Tahun 2020

Baca juga: Cara Merawat Pasien Covid-19 yang Harus Isolasi Mandiri di Rumah

2. AstraZeneca

Vaksin AstraZeneca merupakan vaksin berbasis vektor adenovirus simpanse.

Artinya, tim pengembang vaksin mengambil virus yang biasanya menginfeksi simpanse, kemudian dimodifikasi secara genetik untuk menghindari kemungkinan konsekuensi penyakit pada manusia.

Virus yang dimodifikasi ini membawa sebagian dari Covid-19 yang disebut protein spike, bagian menonjol seperti paku yang ada di permukaan virus corona SARS-CoV-2.

Alasan mereka sangat masuk akal, mengingat survei ini dilakukan pada November 2020, sebelum ada vaksin Covid-19 yang dinyatakan aman dan manjur oleh Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM).
Alasan mereka sangat masuk akal, mengingat survei ini dilakukan pada November 2020, sebelum ada vaksin Covid-19 yang dinyatakan aman dan manjur oleh Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM). (Istimewa)

Saat vaksin dikirim ke sel manusia, akan memicu respons kekebalan terhadap protein spike, menghasil antibodi dan sel memori yang akan mampu mengenali virus penyebab Covid-19.

Satu dosis vaksin AstraZeneca disebut memilik efikasi sebesar 76 persen terhadap Covid-19 dengan gejala dalam 90 hari pertama setelah vaksinasi, tanpa penurunan perlindungan yang signifikan selama periode ini.

Efikasi vaksin setelah pemberian dosis kedua lebih tinggi apabila diberikan dengan interval yang lebih lama yakni mencapai 81,3 persen jika interval pemberian dosis pertama dan kedua mencapai 12 minggu atau lebih.

Baca juga: Daftar Makanan yang Harus Dikonsumsi Pasien Covid-19

Baca juga: Memahami D-dimer pada Pasien Covid-19, Apa Sih Itu?

3. Sinopharm

Perusahaan farmasi milik pemerntah China, Sinopharm, mengumumkan bahwa vaksin virus corona buatan mereka diklaim 79,34 persen efektif melindungi dari infeksi Covid-19. 

Adapun angka 79 persen yang dilaporkan dari hasil uji klinis di China juga lebih rendah bila dibandingkan tingkat efektivitas 86 persen untuk vaksin Sinopharm yang menjalani uji klinis fase 3 di Uni Emirat Arab.

4. Moderna

Vaksin Moderna memakai teknologi terbaru berbasis versi sintesis molekul virus SARS-CoV-2 yang disebut "messenger RNA" atau disingkat mRNA.

Pada vaksin Moderna mengandung mRNA sintetis dengan kode struktur yang disebut "glikoprotein lonjakan stabil pra-fusi" virus.

Dalam kasus ini, mRNA bertugas menginstruksikan sel-sel di dalam tubuh untuk membuat bagian tertentu dari protein lonjakan virus.

Kemudian sistem kekebalan melihatnya, mengenalinya sebagai benda asing, dan bersiap untuk menyerang ketika infeksi yang sebenarnya terjadi.

5. Pfizer/BioNTech

Pfizer/BioNTech mengungkapkan bahwa tingkat efektivitas vaksin buatan mereka lebih dari 90 persen dalam mencegah Covid-19. 

Vaksin yang dikembangkan bersama BioNTech di Jerman ini terdiri dari instruksi molekuler, dalam bentuk mRNA.

Vaksin ini dikembangkan oleh ilmuwan dengan mengambil kode genetik virus yang menginformasikan apa yang harus dibuat pada sel-sel dan membungkusnya dalam lapisan lipid, sehingga bisa menembus sel-sel tubuh.

Saat vaksin disuntikkan ke dalam tubuh manusia, maka vaksin tersebut akan memasuki sel-sel tubuh dan memerintahkan mereka untuk memproduksi protein spike virus corona.

Vaksin ini kemudian akan memicu sistem kekebalan untuk memproduksi antibodi dan mengaktifkan sel T untuk menghancurkan sel-sel yang terinfeksi.

6. Sinovac Biotech Ltd

Dikutip dari Kompas.com, (16/12/2020), vaksin Sinovac dibuat dengan menggunakan teknologi inactivated virus atau virus yang tidak aktif lagi.

Teknologi ini memungkinkan vaksin dikembangkan lebih cepat.

Dengan menggungkan inactived virus, pembuatannya banyak menggunakan partikel virus yang dimatikan untuk dapat memicu sistem kekebalan tubuh terhadap virus, tanpa menimbulkan respons penyakit yang serius.

Selain itu, vaksin inactivated virus juga memungkinkan vaksin lebih mudah disimpan di lemari es dengan standar suhu 2-8 derajat Celsius dan dapat bertahan hingga tiga tahun.

Penulis : Retia Kartika Dewi
Editor : Geafry Necolsen

Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved