Natrium pada Mi Instan, Apa Pengaruhnya bagi Tubuh?

Sifatnya sangat mudah bereaksi dengan air dan mudah teroksidasi. Natrium juga termasuk dalam larutan elektrolit tubuh.

Editor: Geafry Necolsen
net
Sifatnya sangat mudah bereaksi dengan air dan mudah teroksidasi. Natrium juga termasuk dalam larutan elektrolit tubuh. 

Natrium pada Mi Instan, Apa Pengaruhnya bagi Tubuh?

TRIBUNKALTIM.CO - Sebuah unggahan berisi informasi mengenai sejumlah kandungan nutrisi pada mi instan ramai diperbincangkan di media sosial pada (2/1/2021).

Daftar kandungan gizi yang terlampir yakni kalori, karbohidrat, gula, serat, protein, lemak.

Namun, unggahan tersebut kemudian diramaikan kembali dengan menyebut kandungan natrium pada sebungkus mi instan.

Baca juga: Bagaimana Amonium Nitrat Memicu Ledakan di Lebanon? Berikut Penjelasannya

Baca juga: Bahaya Mie Instan, Fakta atau Hoax?

Natrium dan manfaatnya

Natrium atau sodium adalah mineral penting yang diperlukan tubuh. Natrium banyak terdapat pada alam dalam bentuk gabungan unsur lain.

Sifatnya sangat mudah bereaksi dengan air dan mudah teroksidasi. Natrium juga termasuk dalam larutan elektrolit tubuh.

Dokter sekaligus ahli gizi komunitas dr Tan Shot Yen menyampaikan bahwa sumber natrium yakni berasal dari garam.

Menurutnya, tubuh manusia membutuhkan garam (natrium) untuk keseimbangan eletrolit yang digunakan untuk menunjang kerja otot dan syaraf.

"Kecukupan garam mampu menahan air dalam tubuh. Bekerja sama dengan kalium (potasium) menjaga tekanan darah, kesehatan jantung dan ginjal," ujar Tan saat dihubungi Kompas.com, Selasa (16/3/2021).

Tan menjelaskan, garam juga disebut sebagai mineral kristal yang diambil dari air laut. Namun, bisa juga garam diambil dari pegunungan.

Kini, garam atau natrium dapat diperoleh dengan mudah melalui makanan seperti ikan laut, kerang, rumput laut, wortel, brokoli, bayam, daun gedi, daun kelor, kubis, kacang panjang, labu kuning, alpukat, nanas, mangga manalagi, buah merah, dan matoa.

Kebutuhan harian natrium bagi tubuh

Selain itu, Tan mengungkapkan, menurut anjuran konsumsi gula, garam, dan lemak per hari dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dijelaskan bahwa anjuran konsumsi garam adalah 2.000 mg natrium atau setara dengan garam 1 sendok teh (sdt) per orang per hari.

"Kita punya patokan ini. Tapi sekali lagi, jangan cuma fokus di garam dapurnya. Tapi diam-diam ada garam tersembunyi di makanan lain," ujar Tan.

Makanan lain ini juga termasuk dalam pangan ultra proses, di mana proses pembuatannya melibatkan karbonisasi, pemadatan, penambahan massa, dan lainnya.

Ia menambahkan, salah satu pangan ultra proses juga menggunakan penambahan "food addtivities" seperti gula, garam, lemak, perisa, penguat rasa, dan sebagainya.

Pembuatan makanan ini ditargetkan dengan konsumsi yang praktis dan disukai oleh lidah.

Contoh produk massal industri yang dibuat dengan ultra proses antara lain, roti, sereal, pangan kemasan, pasta, biskuit, permen, es krim, margarin, selai, yogurt, dan lainnnya.

Dampak konsumsi natrium berlebih

Tak hanya enak untuk dikonsumsi, Tan juga menjelaskan beberapa dampak yang dinilai merugikan bagi tubuh jika kita mengonsumsi natrium secara berlebihan.

"Kalium (potasium) jadi rendah, akibatnya tekanan darah naik dan menyebabkan risiko penyakit jantung," ujar Tan.

"Kerusakan pembuluh darah: dengan risiko pikun, tekanan darah tinggi, penyakit jantung dan stroke, penyakit ginjal kronik," lanjut dia.

Selain itu, konsumsi garam berlebih juga memungkinkan untuk terjadi kegemukan, kerapuhan tulang, dan kanker lambung meningkat.

Sedangkan, ada juga masalah yang muncul jika kita seseorang mengonsumsi pangan ultra proses, antara lain:

  • Pencetus obesitas
  • Pencetus gangguan gizi pada anak tumbuh kembang
  • Pencetus penyakit tidak menular (diabetes, hipertensi, sndroma metabolik)
  • Mudah didapat, praktis, ekonomis, dirancang untuk menciptakan kecanduan, dianggap penyokomg pertumbuhan ekonomi dan industri
  • Menyasar kelompok masyarakat menengah ke bawah

Cara aman konsumsi natrium

Untuk mencegah potensi permasalahan jika konsumsi natrium yang tidak terkontrol, Tan menganjurkan untuk mengonsumsi garam yang berasal dar sumber aslinya yakni ikan, sayur, dan buah.

"Garam digunakan sebagai bumbu agar masakan tidak tawar, dan sedapat mungkin hindari bumbu kemasan dan racikan," lanjut Tan.

Kemudian, bisa juga dengan menghindari pangan praktis kemasan dan membiasakan membaca label pangan.

Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved