Memisahkan Ibu & Bayi Baru Lahir di Tengah Pandemi Justru Berisiko

Studi terbaru dari WHO dan mitra menunjukkan, pandemi Covid-19 sangat mempengaruhi perawatan kepada bayi prematur dan bayi baru lahir yang sakit.

Editor: Geafry Necolsen
HelloSehat
Studi terbaru dari WHO dan mitra menunjukkan, pandemi Covid-19 sangat mempengaruhi perawatan kepada bayi prematur dan bayi baru lahir yang sakit. 

Memisahkan Ibu & Bayi Baru Lahir di Tengah Pandemi Justru Berisiko

TRIBUNKALTIM.CO - Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mendorong agar ibu bayi dan bayi baru lahir tetap dapat berbagi di ruangan yang sama.

Hal ini supaya ibu bayi tetap bisa menyusui dan kontak dengan bayinya, bahkan ketika sang ibu dicurigai sebagai suspek Covid-19.

Meski demikian, perlakukan tersebut harus didukung dengan praktik pencegahan infeksi secara tepat.

Studi terbaru dari WHO dan mitra menunjukkan, pandemi Covid-19 sangat mempengaruhi perawatan kepada bayi prematur dan bayi baru lahir yang sakit.

Bahkan terhadap risiko kematian dapat terjadi kepada bayi yang baru terlahir dalam kondisi sakit dan prematur.

“Gangguan terhadap layanan kesehatan penting selama Covid-19 sangat mempengaruhi kualitas perawatan yang diberikan kepada beberapa bayi yang paling rentan, dan ini termasuk hak mereka untuk mendapatkan kontak penyelamatan yang mereka butuhkan dengan orang tua mereka,” kata Direktur Maternal, Kelahiran, Kesehatan dan Pertumbuhan Anak WHO Dr Anshu Banerjee, dilansir dari laman WHO, Selasa (16/3/2021).

Baca juga: Mengapa Susu Sapi Sebaiknya Tidak Dikonsumsi oleh Bayi?

Baca juga: Rahasia Emas ASI, Ilmuwan Ungkap Manfaatnya pada Kekebalan Bayi

Ada di satu ruangan

WHO menyarankan ibu bayi harus terus berbagi kamar dengan bayinya sejak lahir dan dapat menyusui serta melakukan kontak kulit.

Hal ini tetap berlaku meski status ibunya positif terinfeksi Covid-19, dalam pantauan, atau orang tanpa gejala (OTG).

"Lebih banyak perhatian diperlukan untuk memastikan praktisi kesehatan dan pembuat kebijakan secara global sadar akan kebutuhan untuk menjaga ibu dan bayi tetap bersama di masa-masa kritis ini, terutama untuk bayi yang lahir terlalu kecil atau terlalu dini," kata Direktur Kesehatan di Kementerian Kesehatan di Malawi, Queen Dube.

Baca juga: 10 Fakta Tentang Bayi yang Wajib Diketahui oleh Orangtua

Baca juga: Apakah Bayi Baru Lahir Harus Selalu Dibedong?

Model perawatan "ibu kangguru"

Selain satu ruangan, Dube juga menyarankan perawatan "Ibu Kangguru".

Perawatan "Ibu kangguru" adalah metode asuhan khusus bagi bayi baru lahir dengan berat yang rendah atau bayi prematur dengan melakukan kontak langsung antara kulit ibu dan kulit bayi.

“Perawatan "Ibu Kanguru" adalah salah satu cara kami yang paling hemat biaya untuk melindungi bayi baru lahir yang kecil dan sakit. Menurut analisis kami, risiko ini jauh lebih besar daripada kemungkinan kecil bayi yang baru lahir terkena penyakit parah akibat Covid-19," kata Dube.

Hal ini berguna untuk meningkatkan peluang kelangsungan hidup bayi prematur atau bayi dengan berat yang rendah, terutama di negara-negara berpenghasilan rendah, di mana jumlah kelahiran prematur dan kematian bayi besar.

Sebanyak 125.000 nyawa bayi dapat diselamatkan dengan cakupan penuh perawatan "ibu kanguru".

Untuk bayi yang lahir prematur atau berat badan rendah, perawatan ibu kanguru dengan kontak langsung secara dini dan berkepanjangan.

Begitu juga pemberian ASI eksklusif yang berperan penting.

Di antara bayi yang lahir prematur atau berat badan rendah, perawatan ibu kanguru telah terbukti mengurangi kematian bayi sebanyak 40 persen, hipotermia lebih dari 70 persen, dan infeksi parah hingga 65 persen.

Risiko penularan pada bayi

Desakan ini tentu menimbulkan pertanyaan soal risiko penularan Covid-19 pada bayi.

Menurut WHO, penelitian melaporkan sebagian besar tidak ada gejala atau penyakit ringan dari Covid-19 pada bayi baru lahir yang terinfeksi.

Risiko kematian neonatal juga terpantau rendah.

Studi ini memperkirakan bahwa risiko bayi baru lahir tertular Covid-19 akan mengakibatkan kurang dari 2.000 kematian.

Akan tetapi, infeksi Covid-19 selama kehamilan dapat meningkatkan risiko kelahiran prematur.

Oleh karena itu penting untuk memastikan perawatan yang tepat diberikan untuk mendukung bayi prematur dan orang tua mereka selama pandemi.

Menurut perkiraan terbaru, 15 juta bayi lahir prematur (lahir sebelum 37 minggu) setiap tahun dan 21 juta bayi lahir dengan berat badan lahir rendah (di bawah 2,5 kg).

Bayi-bayi ini menghadapi risiko kesehatan yang signifikan termasuk kecacatan, keterlambatan perkembangan dan infeksi.

Sementara komplikasi terkait keprematuran adalah penyebab utama kematian bayi baru lahir dan anak di bawah 5 tahun.

Kebijakan di 62 negara

Dalam studi British Medical Journal (BMJ) Global Health, dua pertiga petugas kesehatan di 62 negara melaporkan bahwa mereka tidak mengizinkan ibu dengan dugaan atau positif Covid-19.

WHO mengatakan, para ibu harus terus berbagi kamar dengan bayinya sejak lahir dan dapat menyusui serta melakukan kontak kulit-ke-kulit.

Dilansir dari Reuters, Selasa (16/3/2021), dari 1.120 petugas kesehatan yang disurvei mengatakan mereka akan memisahkan bayi dari ibunya yang diduga atau telah terpapar Covid-19.

Lebih dari 85 persen dari mereka yang disurvei melaporkan mengkhawatirkan kesehatan mereka sendiri, dengan kekurangan alat pelindung diri (APD), stres dan kahwatir akan keselamatan dirinya.

Di beberapa rumah sakit, survei mengungkapkan bahwa sumber daya penting, seperti tenaga medis dan pasokan oksigen dipindahkan dari bangsal bayi baru lahir ke bangsal Covid-19.

Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved