Mayoritas Penduduk Desa Makhunik Mengalami Dwarfisme,  Hingga Dijuluki Desa Kurcaci

Penduduk di sana terindikasi menderita dwarfisme, kondisi di mana seseorang tidak mengalami pertumbuhan yang normal.

Editor: Geafry Necolsen
Istimewa
Penduduk di sana terindikasi menderita dwarfisme, kondisi di mana seseorang tidak mengalami pertumbuhan yang normal. 

Ini pula yang memungkinkan gen buruk dimiliki oleh kedua orangtua dapat menurun pada anaknya.

Beberapa gen ini berkontribusi dalam dwarfisme.

Pada pertengahan abad ke-20, desa ini mulai tersentuh pembangunan jalan dan akses kendaraan yang memudahkan penduduk untuk mencari kebutuhan sehari-hari.

Termasuk memperoleh bahan makanan, sehingga mereka mulai dapat menyantap nasi dan ayam.

Efeknya, dwarfisme di Desa Makhunik mulai berkurang.

Mengutip sputniknews.com pada 2016 lalu, ada sekitar 700 orang yang masih tinggal di Desa Makhunik.

Desain rumahnya juga masih mempertahankan unsur-unsur arsitektur Neolitik.

Warnanya juga masih sama seperti saat dulu digunakan sebagai kamuflase dari penjajah.

Berkat warnanya pula, keberadaan desa ini sulit terlihat dari kejauhan.

Akan tetapi, penduduk Desa Makhunik masih hidup susah.

Para pemuda memilih pergi ke kota untuk mencari pekerjaan, para wanita menenun, sedangkan yang lansia bergantung pada subsidi pemerintah.

Meski begitu, arsitektur rumah yang unik mirip dengan jamur ini berpotensi untuk dijadikan tempat wisata.

Dengan begitu, diharapkan penduduk Makhunik dapat menciptakan peluang lapangan pekerjaan maupun bisnis di desanya.

Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved