Ilmuwan Rusia Teliti Kandungan ASI, Bisa Jadi Bahan Vaksin Covid-19?

Para Ilmuwan Rusia menilai pandemi virus corona (Covid-19) tidak terlalu berpengaruh pada kondisi bayi

Editor: Geafry Necolsen
kieferpix
Ilustrasi bayi 

Protein yang disebut neolactoferrin ini dianggap memiliki sifat anti-bakteri, anti-virus dan anti-jamur.

Ini juga menunjukkan kemampuan yang layak untuk menghambat aktivitas virus seperti rotavirus, hepatitis C dan HIV, sebagai bagian dari tes laboratorium.

Para Ilmuwan meyakini bahwa protein itu bahkan bisa membantu memerangi bakteri yang super kebal terhadap antibiotik modern.

"Gagasan untuk menggunakan hasil penelitian ini dalam melawan infeksi virus seperti corona, memiliki dasar ilmiah yang berakar pada studi selama satu dekade terhadap neolaktoferin yang dilakukan bersama dengan Institut Imunologi Rusia," jelas Goldman.

Saat ini, para Ilmuwan pun percaya bahwa protein dapat merangsang imunitas adaptif pada orang yang menderita corona dan mengurangi tingkat gejala yang mereka alami.

Itu juga secara teoritis dapat melindungi mereka yang sehat dari paparan infeksi virus ini dan protein tersebut berpotensi memiliki sistem yang serupa dengan vaksin.

Hal itu karena laktoferin biasanya akan melakukan pencegahan agar virus tidak menempel pada sel dan bereproduksi.

Kendati demikian, Ahli Imunologi Rusia Vladimir Bolibok mengatakan bahwa masih terlalu dini untuk menilai seberapa efektif obat baru itu dalam memerangi virus corona.

Sejauh ini, para pengembang obat telah mengirimkan beberapa sampel obat baru untuk dilakukan uji coba awal yang memperoleh dukungan dari Badan Medis dan Biologi Federal Rusia, sebuah badan kesehatan publik nasional yang bekerja di bawah koordinasi Kementerian Kesehatan negara itu.

Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved