Perubahan Iklim Disebut Berperan dalam Penyebaran Covid-19, Kok Bisa?

Perubahan iklim yang termasuk peningkatan suhu, tutupan awan, dan karbon dioksida di atmosfer dapat memengaruhi

Editor: Geafry Necolsen
Istimewa
Perubahan iklim yang termasuk peningkatan suhu, tutupan awan, dan karbon dioksida di atmosfer dapat memengaruhi 

TRIBUNKALTIM.CO - Studi terbaru yang terbit di jurnal Science of the Total Environment menunjukkan bukti pertama perubahan iklim memainkan peran langsung dalam munculnya virus corona SARS-CoV-2, virus yang menyebabkan pandemi Covid-19 saat ini.

Jumlah virus corona di suatu daerah terkait erat dengan jumlah spesies kelelawar yang ada.

Berkat sistem kekebalannya, kelelawar memiliki kemampuan terkenal untuk hidup dengan virus, bertindak baik sebagai reservoir mutasi baru maupun pembawa virus tanpa gejala.

Populasi kelelawar dunia membawa sekitar 3.000 jenis virus corona, dengan setiap spesies kelelawar rata-rata memiliki 2,7 virus corona.

Dilansir Forbes, temuan itu mengatakan bahwa peningkatan jumlah spesies kelelawar di wilayah tertentu, didorong oleh perubahan iklim.

Hal inilah yang dapat meningkatkan kemungkinan adanya virus corona ditularkan ke manusia atau bermutasi.

Kebanyakan virus corona yang dibawa oleh kelelawar tidak bisa masuk ke tubuh manusia.

Namun beberapa virus corona yang diketahui menginfeksi manusia kemungkinan besar berasal dari kelelawar, termasuk tiga yang dapat menyebabkan kematian pada manusia, yakni Middle East Respiratory Syndrome (MERS) CoV, dan Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS) CoV-1 dan CoV-2 yang menyebabkan Covid-19.

Studi baru telah mengungkapkan perubahan skala besar pada jenis vegetasi di provinsi Yunnan China selatan, dan wilayah yang berdekatan di Myanmar dan Laos, wilayah di mana data genetik menunjukkan SARS-CoV-2 mungkin muncul.

Perubahan iklim yang termasuk peningkatan suhu, tutupan awan, dan karbon dioksida di atmosfer dapat memengaruhi pertumbuhan tanaman dan pohon.

Hal ini secara tidak langsung mengubah habitat alami dari semak tropis menjadi sabana tropis dan hutan gugur.

Ini menciptakan lingkungan yang cocok untuk banyak spesies kelelawar yang sebagian besar hidup di hutan, memakan nektar, dan buah-buahan.

Studi tersebut menemukan bahwa 40 spesies kelelawar telah pindah ke provinsi Yunnan di China selatan dalam 100 tahun terakhir, menyimpan sekitar 100 lebih jenis virus corona yang ditularkan oleh kelelawar.

Wilayah yang diidentifikasi oleh penelitian tersebut merupakan hotspot untuk peningkatan kekayaan spesies kelelawar yang didorong oleh iklim, juga merupakan rumah bagi trenggiling yang diduga bertindak sebagai inang perantara SARS-CoV-2.

Virus itu kemungkinan besar telah berpindah dari kelelawar ke hewan-hewan lain seperti trenggiling, yang kemudian dijual di pasar satwa liar di Wuhan, China - tempat wabah pertama kali terjadi pada manusia.

Dalam penelitiannya, para peneliti membuat peta vegetasi dunia seabad yang lalu, menggunakan catatan suhu, curah hujan, dan tutupan awan.

Kemudian mereka menggunakan informasi tentang kebutuhan vegetasi spesies kelelawar dunia untuk menentukan distribusi global setiap spesies pada awal 1900-an.

Mereka membandingkannya dengan distribusi saat ini memungkinkan mereka untuk melihat bagaimana kekayaan spesies kelelawar, jumlah spesies yang berbeda, telah berubah di seluruh dunia selama seabad terakhir karena perubahan iklim.

Selain Asia Tenggara, jumlah spesies kelelawar juga meningkat di wilayah sekitar Afrika Tengah, dan bercak-bercak di Amerika Tengah dan Selatan.

Baca juga: Kelelawar Membawa Banyak Virus Corona, Mengapa Tidak Ikut Sakit?

Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved