Lebih Ganas dari Covid-19, Polusi Udara  Tewaskan 8 Juta Orang

Lebih dari delapan juta orang meninggal akibat polusi bahan bakar fosil, hampir dua kali lebih banyak dari perkiraan.

Editor: Geafry Necolsen
AlxeyPnferov/Getty Images/iStockphoto
Ilustras. Polusi udara. Lebih dari delapan juta orang meninggal akibat polusi bahan bakar fosil, hampir dua kali lebih banyak dari perkiraan. 

Lebih Ganas dari Covid-19, Polusi Udara  Tewaskan 8 Juta Orang

TRIBUNKALTIM.CO - Mungkin kamu menganggap, pandemi Covid-19 menyebabkan kematian yang besar dalam beberapa tahun terakhir.

Namun penelitian baru menunjukkan 18 persen kasus kematian di dunia pada tahun 2018 disebabkan oleh paparan materi partikulat atau polusi udara dari emisi bahan bakar fosil.

Hal itu berarti lebih dari delapan juta orang meninggal akibat polusi bahan bakar fosil, hampir dua kali lebih banyak dari perkiraan.

Baca juga: Lebih Mengerikan dari Covid-19, Flu Spanyol dari China Pernah Tewaskan 50 Juta Orang

Seperti dikutip dari IFL Science, Kamis (11/2/2021) Global Burden of Disease, studi terbesar dan terlengkap penyebab kematian global menemukan kalau penyakit paru obstruktif kronik (PPOK) yang berkaitan dengan merokok dan polusi udara adalah penyebab kematian keenam paling umum di dunia.

“Studi kami menambah bukti bahwa polusi udara dari ketergantungan yang terus-menerus pada bahan bakar fosil merusak kesehatan global," kata Profesor Eloise Marais, dari University College London.

Menurutnya, kita tak dapat terus-menerus tergantung pada bahan bakar fosil. Mengingat ada efek yang begitu parah, sementara ada alternatif yang lebih bersih dan layak.

Baca juga: Waspada, Polusi Plastik Mungkin Ada Dalam Makanan Anda

Baca juga: Akibat Cahaya Lampu Buatan, Kunang-kunang Terancam Punah

Dalam studinya, peneliti menggunakan pengamatan dari satelit untuk memperkirakan jumlah konsentrasi tahunan materi partikulat udara atau yang dikenal sebagai PM2.5.

Pengamatan ini saja belum cukup untuk membedakan sumber emisi tersebut, sehingga partikulat dari bahan bakar fosil dapat terlepas dari debu, kebakaran hutan, dan lainnya.

Selanjutnya, tim menggunakan model 3D global kimia atmosfer yang disebut GEOS-Chem untuk melakukan pembagian wilayah menjadi blok sekecil 50 x 60 km.

"Kami ingin memetakan di mana polusi udara itu dan di mana orang-orang tinggal, sehingga kami dapat mengetahui lebih banyak dan tepat apa yang dihirup orang-orang saat bernapas," jelas Karn Vohra, penulis utama dalam studi.

Ilustrasi polusi udara dari rumah tangga berasal dari penggunaan bahan bakar kayu untuk memasak. Biomassa kayu bakar dapat berakibat buruk pada kesehatan paru-paru. Polutan dari biomassa kayu dapat menyebabkan kerusakan paru-paru.SHUTTERSTOCK/Zoran Photographer Ilustrasi polusi udara dari rumah tangga berasal dari penggunaan bahan bakar kayu untuk memasak. Biomassa kayu bakar dapat berakibat buruk pada kesehatan paru-paru. Polutan dari biomassa kayu dapat menyebabkan kerusakan paru-paru.

Baca juga: Jika Amerika & China Perang di Laut China Selatan, Indonesia Tercemar & Pengungsi Berdatangan

Hasil analisis gabungan pun dapat memberikan ukuran tentang seberapa banyak konsentrasi bahan bakar fosil PM2.5 di seluruh dunia.

Menurut peneliti, wilayah yang mengalami konsentrasi tertinggi polusi udara terkait bahan bakar fosil termasuk di antaranya Amerika Utara bagian Timur, Eropa, dan Asia Tenggara.

Tapi tidak semuanya berita buruk. Para peneliti memperkirakan bahwa keputusan China untuk mengurangi emisi bahan bakar fosil hampir 50 persen kemungkinan telah menyelamatkan 2,4 juta nyawa di seluruh dunia pada tahun 2018 saja.

Baca juga: Selain Sebabkan Kematian, Waspadai 4 Dampak Buruk Polusi Udara

Selain itu, tim juga menggunakan model penilaian risiko baru untuk memperkirakan bagaimana partikulat ini memengaruhi kesehatan manusia.

Mereka menemukan paparan jangka panjang akan menimbulkan tingkat kematian yang tinggi, meski pada konsentrasi emisi yang lebih rendah.

"Kami berharap dengan mengukur konsekuensi kesehatan dari pembakaran bahan bakar fosil, kami dapat mengirimkan pesan yang jelas kepada pembuat kebijakan dan pemangku kepentingan tentang manfaat transisi ke sumber energi alternatif,” papar Profesor Joel Schwartz, dari Harvard T.H. Chan School of Public Health.

Hasil studi terkait dampak polusi udara akibat emisi bahan bakar fosil ini telah dipublikasikan di Environmental Research.

Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved