Jangan Sumbang Susu untuk Korban Bencana di Pengungsian, Ini Alasannya

Ahli gizi mengingatkan agar instansi pemerintahan dan sukarelawan tidak memberikan sumbangan atau donasi produk susu bagi korban bencana 

Editor: Geafry Necolsen
Antara Foto
Ahli gizi mengingatkan agar instansi pemerintahan dan sukarelawan tidak memberikan sumbangan atau donasi produk susu bagi korban bencana  

Disebutkan pula, produk susu kotak juga meningkatkan risiko tidak doyan makan dan mencret pada anak yang lebih besar.

Tan mengungkapkan, pada anak yang sudah tidak lagi menyusu, pemberian susu kotak atau susu lanjutan berisiko membuat anak terpapar asupan gula berlebihan.

Pasalnya perlu untuk diketahui bahwa berdasarkan laporan survei Helen Keller International, 98 persen susu lanjutan di Indonesia berisi (mengandung) imbuhan atau tambahan gula.

4. Mengajarkan anak salah ngemil

Alasan keempat untuk tidak menyumbangkan susu formula atau produk susu kepada korban bencana di pengungsian adalah produk tersebut akan mengajarkan anak salah mengemil.

Sebab, pembagian susu kemasan membuat anak-anak lekas kenyang sehingga asupan 3 kali makan tidak dikonsumsi.

"Publik mempunyai persepsi salah tentang pangan sehat, seakan-akan susu menyelesaikan masalah nutrisi anak," ucap dia.

Rekomendasi donasi makanan bayi dan anak

Tidak ada donasi susu dan produk bayi lainnya berupa botol, dot atau empeng, jika tanpa persetujuan dari dinas kesehatan provinsi/kabupaten/kota setempat.

Selanjutnya, saat bencana, kata dia, perlu adanya penyediaan ruangan yang nyaman untuk menyusui dan memberikan makanan pada bayi dan anak.

Baca juga: Peneliti Sebut Bayi Berpotensi Konsumsi Jutaan Mikroplastik dari Botol Susu

Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved