Foto Jurnalistik yang Merenggut Nyawa Fotografernya

Secara ajaib, foto itu memberikan ketenaran pada Kevin Carter, seorang fotografer yang memotretnya.

Editor: Geafry Necolsen
Kevin Carter
Gadis Sudan dan Burung Bangkai karya Kevin Carter yang dimuat di The New York Times 

Namun, dua bulan setelah menerima Pulitzer-nya, Carter mati akibat racun karbon-monoksida. Ia bunuh diri di usia 33 tahun pada truk pikap merahnya yang diparkir di dekat sungai kecil.

"Aku benar-benar minta maaf," jelasnya dalam catatan yang tertinggal di kursi penumpang di bawah ransel. "Kepedihan hidup menimpa kegembiraan sampai-sampai kegembiraan itu tidak ada."

Bagaimana mungkin seorang pria yang telah mencapai kemenangan hebat bunuh diri begitu saja?

Ketika foto ini diambil dan diterbitkan di New York Times pada tanggal 26 Maret 1993, reaksi pembaca sangat kuat dan tidak semuanya positif.

Beberapa orang mengatakan bahwa Kevin Carter tidak manusiawi, dikutip dari laman allthatinteresting Mereka mengatakan bahwa ia seharusnya menjatuhkan kameranya untuk lari memberikan bantuan ke bantuan gadis kecil itu.

Setelah menerima sejumlah panggilan telepon dan surat dari para pembaca yang ingin tahu apa yang terjadi pada gadis kecil itu, New York Times menerbitkan catatan editor yang menggambarkan apa yang mereka ketahui tentang situasi tersebut.

“Fotografer melaporkan bahwa bocah tersebut cukup pulih untuk melanjutkan perjalanan setelah burung bangkainya diusir."

Ritual harian Carter dalam menggunakan narkoba, termasuk kokain lah yang menangkal kengerian-kengerian pada tiap pekerjaanya. Hal ini ia ceritakan pada Judith Matloff, seorang teman sekaligus koresponden perang.  

Wartawan foto Guy Adams mengambil foto Carter ini selama kekerasan di kota, seorang lelaki menggunakan tutup tempat sampah sebagai perisai.
 
Wartawan foto Guy Adams mengambil foto Carter ini selama kekerasan di kota, seorang lelaki menggunakan tutup tempat sampah sebagai perisai.

Carter tumbuh di Afrika Selatan selama apartheid. Dia menjadi jurnalis foto karena dia merasa perlu mendokumentasikan perlakuan yang memuakkan tidak hanya pada orang kulit hitam tetapi juga antara kelompok etnis kulit hitam, seperti antara orang-orang Xhosas dan Zulus.

Ia bergabung dengan barisan jurnalis foto lainnya. Sebuah surat kabar Afrika Selatan menjuluki kelompok tersebut Bang-Bang Club.

Pada saat itu, fotografer menggunakan istilah "bang-bang" untuk merujuk pada tindakan pergi ke kota-kota Afrika Selatan demi meliput kekerasan ekstrem yang terjadi di sana.

Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved