Presiden Keempat RI: Abdurrahman Wahid, Mencabut Larangan Imlek Bekas Orde Baru

Berkat Gus Dur, masyarakat keturunan Tionghoa di Indonesia kembali mendapatkan kebebasan merayakan Tahun Baru Imlek pada 2000.

Editor: Geafry Necolsen
Kompas
Gus Dur menduduki kursi orang nomor satu di Indonesia pada 20 Oktober 1999, didampingi Megawati Soekarno Putri sebagai wakil presiden. 

TRIBUNKALTIM.CO - Abdurrahman Wahid atau lebih terkenal dengan sebutan Gus Dur adalah salah satu tokoh bangsa yang jasanya dikenang hingga sekarang.

Pada Pemilu 1999, Abdurrahman Wahid terpilih sebagai Presiden ke-4 RI, menggantikan presiden sebelumnya, Bacharuddin Jusuf Habibie.

Gus Dur menduduki kursi orang nomor satu di Indonesia pada 20 Oktober 1999, didampingi Megawati Soekarno Putri sebagai wakil presiden.

Masa pemerintahannya tidak lama. Gus Dur menjabat sebagai Presiden Indonesia hingga 23 Juli 2001.

Setelah itu, masa pemerintahan Indonesia dipimpin oleh Megawati.

Baca juga: Profil Presiden Pertama RI: Soekarno

Pemerintahan Abdurrahman Wahid

Melansir situs resmi Kemendikbud, pria kelahiran Jombang, 7 September 1940 ini mengawali karir politiknya di Partai Kebangkitan Bangsa (PKB).

Pada masa pemerintahannya, Gus Dur dikenal sebagai Bapak Pluralisme. Ia sangat menjunjung tinggi keberagaman di berbagai hal, terutama suku, agama, dan ras.

Saat memimpin Indonesia, Gus Dur mampu mendobrak diskriminasi warga Tionghoa.

Masyarakat keturunan Tionghoa di Indonesia kembali mendapatkan kebebasan merayakan Tahun Baru Imlek pada 2000.

Saat itu, Gus Dur mencabut Inpres Nomor 14 Tahun 1967 tentang Larangan Kegiatan Perayaan Imlek.

Ia menindaklanjutinya dengan mengeluarkan Keputusan Presiden Nomor 19 Tahun 2001 pada 9 April 2001.

Dalam Kepres tersebut, ia meresmikan Imlek sebagai hari libur fakultatif atau libur hanya bagi yang merayakannya.

Setahun setelahnya, Megawati Soekarno Putri menggantikan posisi Gusdur. Imlek menjadi hari libur nasional dimulai pada 2003.

Masa kecil

Melansir situs NU, Gus Dur, mempunyai nama asli Abduraahman Addakhil.

Ia merupakan putra sulung dari KH Wahid Hasyim dan cucu dari KH Hasyim Asy'ari, pendiri Nahdlatul Ulama (NU).

Sementara itu, dari pihak ibu, Gus Dur adalah cucu dari KH Bisri Sanuri, pendiri Pondok Pesantren Denanyar Jombang Jawa Timur.

Gus Dur menikah dengan Sinta Nuriyah dan dikarunia empat putri.

Mereka, yaitu Zannuba Ariffah Chafsoh Wahid alias Yenni Wahid, Alissa Qotrunnada Wahid, Anita Hayatunnufus Wahid, dan Inayah Wulandari Wahid.

Gus Dur mempelajari agama Islam sejak kecil. Bahkan di usia 5 tahun, dirinya sudah bisa membaca Al-Qur'an.

Pendidikan dan karir

Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved