Profil Presiden Ketiga RI: Bacharuddin Jusuf Habibie

Kejeniusan Habibie tak hanya diakui bangsa Indonesia, tapi juga dunia. Dia punya julukan Mr Crack karena kontribusi besarnya bagi teknologi pesawat te

Editor: Geafry Necolsen
Antara Foto
Dalam perjalanannya, Habibie mengembara hingga ke luar negeri. Bahkan, menjadi orang yang dihormati di Jerman karena kejeniusannya. 

Lima tahun kemudian, dia mendapat beasiswa untuk melanjutkan kuliah di Rhenish Wesfalische Technische Hochscule, Jerman, Jurusan Konstruksi Pesawat Terbang.

Pengetahuannya terkait teknologi menjadi semakin terasah. Saat di Jerman, dia kuliah sambil bekerja.

Habibie pernah bekerja di Messerschmitt-Bölkow-Blohm, sebuah perusahaan penerbangan yang berpusat di Hamburg, Jerman.

Pulang ke Indonesia

Kemudian, pada 1973, Habibie diminta Soeharto pulang ke Indonesia karena faktor keadaan dan situasi. Beberapa waktu setelahnya, Habibie ditunjuk sebagai CEO dari Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN). 

Pada 1978, Habibie diangkat menjadi Menteri Negara Riset dan Teknologi. Habibie juga memimpin proyek pesawat N250 Gatot Kaca yang merupakan pesawat pertama buatan Indonesia.

Saat itu, industri pesawat terbang di Indonesia naik daun di tangan Habibie. Sayangnya, IPTN terkena imbas krisis moneter dan akhirnya ditutup Soeharto.

Jadi presiden

Di tengah situasi politik dan ekonomi yang kacau balau, Habibie menjadi Presiden Indonesia selama 17 bulan menggantikan Soeharto. Meski singkat, masa pemerintahannya krusial.

Habibie menjadi presiden mulai 21 Mei 1998 sampai 20 Oktober 1999. Dia menjadi kunci masa transisi Indonesia dari rezim Order baru ke Masa Reformasi.

Dia meletakkan sejumlah fondasi bagi sistem pemerintahan yang berjalan sampai sekarang. Salah satu yang diapresiasi adalah adanya kebebasan pers (dengan adanya Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers).

Selain itu dia juga memprakarsai Bank Indonesia (BI) yang independen dan lepas dari pengaruh pemerintah, mengeluarkannya dari struktur kekuasaan eksekutif. Independensi memberi keleluasaan kepada BI untuk mengelola sektor moneter.

Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved