Profil Presiden Keempat RI: Abdurrahman Wahid

Pada Pemilu 1999, Abdurrahman Wahid terpilih sebagai Presiden ke-4 RI, menggantikan presiden sebelumnya, Bacharuddin Jusuf Habibie.

Editor: Geafry Necolsen
Reuters
Pada Pemilu 1999, Abdurrahman Wahid terpilih sebagai Presiden ke-4 RI, menggantikan presiden sebelumnya, Bacharuddin Jusuf Habibie. 

Profil Presiden Keempat RI: Abdurrahman Wahid

TRIBUNKALTIM.CO - Abdurrahman Wahid atau lebih terkenal dengan sebutan Gus Dur adalah salah satu tokoh bangsa yang jasanya dikenang hingga sekarang.

Pada Pemilu 1999, Abdurrahman Wahid terpilih sebagai Presiden ke-4 RI, menggantikan presiden sebelumnya, Bacharuddin Jusuf Habibie.

Gus Dur menduduki kursi orang nomor satu di Indonesia pada 20 Oktober 1999, didampingi Megawati Soekarno Putri sebagai wakil presiden.

Masa pemerintahannya tidak lama. Gus Dur menjabat sebagai Presiden Indonesia hingga 23 Juli 2001.

Setelah itu, masa pemerintahan Indonesia dipimpin oleh Megawati.

Baca juga: Profil Presiden Pertama RI: Soekarno

Pemerintahan Abdurrahman Wahid

Melansir situs resmi Kemendikbud, pria kelahiran Jombang, 7 September 1940 ini mengawali karir politiknya di Partai Kebangkitan Bangsa (PKB).

Pada masa pemerintahannya, Gus Dur dikenal sebagai Bapak Pluralisme. Ia sangat menjunjung tinggi keberagaman di berbagai hal, terutama suku, agama, dan ras.

Saat memimpin Indonesia, Gus Dur mampu mendobrak diskriminasi warga Tionghoa.

Masyarakat keturunan Tionghoa di Indonesia kembali mendapatkan kebebasan merayakan Tahun Baru Imlek pada 2000.

Saat itu, Gus Dur mencabut Inpres Nomor 14 Tahun 1967 tentang Larangan Kegiatan Perayaan Imlek.

Ia menindaklanjutinya dengan mengeluarkan Keputusan Presiden Nomor 19 Tahun 2001 pada 9 April 2001.

Dalam Kepres tersebut, ia meresmikan Imlek sebagai hari libur fakultatif atau libur hanya bagi yang merayakannya.

Setahun setelahnya, Megawati Soekarno Putri menggantikan posisi Gusdur. Imlek menjadi hari libur nasional dimulai pada 2003.

Masa kecil

Melansir situs NU, Gus Dur, mempunyai nama asli Abduraahman Addakhil.

Ia merupakan putra sulung dari KH Wahid Hasyim dan cucu dari KH Hasyim Asy'ari, pendiri Nahdlatul Ulama (NU).

Sementara itu, dari pihak ibu, Gus Dur adalah cucu dari KH Bisri Sanuri, pendiri Pondok Pesantren Denanyar Jombang Jawa Timur.

Gus Dur menikah dengan Sinta Nuriyah dan dikarunia empat putri.

Mereka, yaitu Zannuba Ariffah Chafsoh Wahid alias Yenni Wahid, Alissa Qotrunnada Wahid, Anita Hayatunnufus Wahid, dan Inayah Wulandari Wahid.

Gus Dur mempelajari agama Islam sejak kecil. Bahkan di usia 5 tahun, dirinya sudah bisa membaca Al-Qur'an.

Pendidikan dan karir

Setelah lulus dari sekolah dasar, Gus Dur menempuh pendidikan di Sekolah Menengah Ekonomi Pertama (SMEP) di Gowongan.

Pada saat yang sama, ia juga mengaji di Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta.

Selesai dari SMEP, Gus Dur melanjutkan ke Pondok Pesantren Tegalrejo, Magelang, Jawa Tengah selama dua tahun.

Lalu, dia menempuh studi ke Pondok Pesantren Tambak Beras di Jombang.

Gus Dur diberangkatkan untuk menunaikan ibadah haji ke tanah suci di usianya yang terbilang muda, saat berusia 22 tahun.

Setelah itu Gus Dur dikirim belajar ke Al-Azhar University, Kairo, Mesir, Fakultas Syari'ah (Kulliyah al-Syari'ah) dari tahun 1964 sampai 1966.

Ia melanjutkan ke Universitas Baghdad Irak, Fakultas Adab Jurusan Sastra Arab pada 1966 hingga 1970.

Gus Dur juga sempat pergi ke Belanda untuk meneruskan pendidikannya di Universitas Leiden.

Namun ia merasa kecewa karena pendidikannya di Baghdad kurang diakui. Dia pun berpindah ke Jerman dan Perancis sebelum kembali ke Indonesia pada 1971.

Gus Dur kembali ke Jakarta dan bergabung dengan Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES), organisasi yang terdiri dari kaum intelektual Muslim progresif dan sosial demokrat.

LP3ES mendirikan majalah Prisma, di mana Gus Dur menjadi salah satu kontributor utama, sering berkeliling pesantren dan madrasah di seluruh Jawa.

Selanjutnya, Abdurrahman Wahid meneruskan karirnya sebagai jurnalis. Ia menulis untuk Tempo dan Kompas.

Artikel-artikelnya diterima baik dan mulai mengembangkan reputasi sebagai komentator sosial.

Dengan popularitas intelektualnya, Gus Dur mendapatkan banyak undangan untuk memberikan kuliah dan seminar, membuatnya harus pulang pergi Jakarta-Jombang.

Pada 1974, Gus Dur mendapat pekerjaan tambahan di Jombang sebagai guru di Pesantren Tambakberas.

Satu tahun kemudian, ia menambah pekerjaannya menjadi Guru Kitab Al-Hikam.

Pada 1977, Gus Dur bergabung di Universitas Hasyim Asy’ari sebagai Dekan Fakultas Praktik dan Kepercayaan Islam.

Ia mengajar subyek tambahan seperti pedagogi, syariat Islam, dan misiologi.

Pada 1984, Gus Dur berkiprah di NU hingga menjabat Ketua Umum Tanfidziyah sampai tahun 2000 atau tiga periode.

Gus Dur meninggal dunia pada 30 Desember 2009 di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta. Ia wafat di usia 69 tahun.

Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved