Lovelace, Perempuan Pertama yang Menjadi Programer Komputer

Jauh sebelum era Steve Jobs, Bill Gates, Mark Zuckerberg, Elon Musk dan masih banyak nama maskulin lainnya, seorang wanita bernama lovelace

Editor: Geafry Necolsen
Istimewa
Jauh sebelum era Steve Jobs, Bill Gates, Mark Zuckerberg, Elon Musk dan masih banyak nama maskulin lainnya, seorang wanita bernama Lovelace mengmbangkan bahasa pemrograman. 

Lovelace, Perempuan Pertama yang Menjadi Programer Komputer

TRIBUNKALTIM.CO - Persepsi akan dunia teknologi, masih begitu kental dengan dominasi para pria. Sebutlah mereka yang menjadi pendiri dan CEO perusahaan-perusahaan teknologi raksasa, seperti Steve Jobs, Bill Gates, Mark Zuckerberg, Elon Musk dan masih banyak nama maskulin lainnya.

Namun, jauh sebelum nama-nama tersebut muncul, ada seorang perempuan yang sangat berjasa dalam cikal bakal pengembangan teknologi.

Adalah Ada Lovelace, yang tercatat oleh sejarah sebagai programmer komputer pertama di dunia.

Untuk merayakan Hari Perempuan Internasional atau International Womens Day 2021, KompasTekno akan mengulik siapa sosok Ada Lovelace yang berjasa atas perkembangan komputer hari ini.

Baca juga: Marie Thomas, Dokter Wanita Pertama di Indonesia

Usia Lovelace baru menginjak 17 tahun. Dalam acara tersebut, Babbage mendemonstrasikan mesin penghitung bernama Difference Engine yang sedang dikembangkannya.
Usia Lovelace baru menginjak 17 tahun. Dalam acara tersebut, Babbage mendemonstrasikan mesin penghitung bernama Difference Engine yang sedang dikembangkannya. (Istimewa)

Lahir dari pasangan penyair dan matematikawan

Ada Lovelace memiliki nama lengkap Augusta Ada King, Countess of Lovelace.
Ia lahir pada 10 Desember 1815 dengan nama Ada Byron.

Ayahnya, George Gordon Buron adalah penyair termahsyur kala itu. Byron menikahi Annabella Milbanke, matematikawan wanita yang dikenal pendiam.

Namun, pernikahan keduanya tak bertahan lama. Singkat cerita, ayah dan ibunya bercerai tak berapa lama setelah Lovelace lahir. Lovelace sendiri belum pernah bertemu sang ayah yang meninggal di Yunani ketika ia berusia 8 tahun.

Baca juga: Sosok Wanita Pertama di Dunia yang Menjadi Pramugari

Lovelace dibesarkan Ibunya, tapi dia lebih dekat dengan sang nenek. Sebab, Ibunya cukup keras dalam mendidik Lovelace.

Ibunya tidak ingin Lovelace memiliki ketertarikan akan dunia sastra yang diwarisi Ayahnya. Sehingga, Annabella mencekoki putrinya dengan pengetahuan sains dan matematika sejak usia empat tahun.

Selain matematika, Lovelace juga dituntut belajar musik dan bahasa Perancis, yang menjadi bahasa pergaulan di Britania Raya saat itu.

Pada masa itu, perempuan belum mendapat kesempatan untuk mengenyam pendidikan tinggi hingga jenjang universitas. Para perempuan bangsawan seperti keluarga Lovelace, dididik secara privat.

Baca juga: Ini Dia, Orang Pertama yang Diangkat Sebagai PNS di Indonesia

Tertarik dunia teknik

Menginjak remaja, ketertarikan Lovelace terhadap dunia sastra mulai tumbuh meskipun sang Ibu berusaha menahannya.

Di usia 12 tahun, Lovelace juga mulai tertarik dengan dunia teknik mesin dan menulis buku bertajuk "Flyology", yang berisi rencana membuat peralatan terbang.

Ia tertarik dengan cara kerja mesin saat ia mendatangi mesin tenun Jacquard yang ditemukan pada 1801. Mesin tersebut memproduksi tekstil dengan pola anyaman.

Baca juga: Naning Utoyo, Perempuan Indonesia Jagoan Teknologi UX di Singapura

Alat tenun itu dikendalikan oleh kartu berlubang, di mana satu kartu mengendalikan satu baris tekstil yang ditenun. Apabila kartu dilubangi, benang tenun akan terangkat, tapi jika tidak dilubangi benang akan dilepaskan sendiri.

Dengan kata lain, kartu berlubang ibarat mengeluarkan instruksi ke mesin tenun. Di mata Ada, hal tersebut merupakan sebuah bahasa alias kode mesin.

Bertemu Charles Babbage sang Bapak Komputer

Titik terpenting karier Lovelace adalah ketika dirinya menghadiri sebuah acara yang diadakan oleh polimetik (ilmuwan lintas bidang), Charless Babbage yang kemudian dikenal sebagai Bapak Komputer.

Saat itu, usia Lovelace baru menginjak 17 tahun. Dalam acara tersebut, Babbage mendemonstrasikan mesin penghitung bernama Difference Engine yang sedang dikembangkannya.

Melihat demonstrasi itu, Lovelace yang memiliki ketertarikan terhadap angka dan bahasa, terpikat dengan cara yang berbeda. Di matanya, mesin hitung yang ditunjukan Babbage sangat indah.

Baca juga: Profil Presiden Pertama RI: Soekarno, Nama Aslinya Koesno

Ia pun meminta Babbage untuk menjadi mentornya. Kolaborasi bersama Babbage inilah yang kemudian membawa Lovelace menciptakan pemrograman komputer.

Sebelum melanjutkan pekerjaannya sebagai matematikawan, Lovelace menikah dengan William King di usia 19 tahun dan dikaruniai tiga anak. Setelah menikah, Ia melanjutkan lagi pekerjaannya di bidang matematika.

Lovelace juga mendapat kesempatan kerja oleh Profesor Augustus De Morgan dari Universitas College London. Ia juga terus belajar matematika tingkat lanjut bersama temannya, Mary Somerville.

Gagasan algoritma dan komputer modern

Dirangkum KompasTekno dari Computer History, Senin (8/3/2021), sekitar 1840-an, Lovelace mempublikasikan sebuah artikel terjemahan berbahasa Perancis berjudul “Notions sur la machine analytique de Charles Babbage” (Gagasan tentang Mesin Analitik yang Ditulis Charles Babbage). Artikel tersebut ditulis oleh insinyur asal Italia, Luigi Menabrea.

Dalam artikel tersebut, Lovelacemenambahkan catatan ekstensifnya mengenai gagasannya sendiri.

Melansir Brain Pickings, Lovelace membuat empat poin utama dalam catatannya. Pertama, Lovelace  membayangkan sebuah mesin serbaguna yang tidak hanya bisa menjalankan tugas-tugas yang telah diprogram, tetapi juga bisa diprogram ulang untuk menjalankan operasional yang tidak terbatas.

Poin kedua, mesin tersebut tidak hanya bisa menjalankan perhitungan matematis saja, tapi juga bisa memproses musik dan notasi artistik.

Ketiga, adalah garis besar langkah-langkah membuat apa yang hari ini disebut algoritma program komputer. Terakhir, adalah proyeksi mesin yang bisa berpikir sendiri.

Banyak sumber mengatakan bahwa gagasan Lovelace belum begitu banyak menarik perhatian dunia saat itu. Justru, gagasannya mulai banyak perhatian setelah ia meninggal dunia. Sejumlah penghargaanpun diberikan padanya meski ia telah tiada.

Wafat

Ada Lovelace wafat di London, Inggris pada 27 November 1852. Catatan gagasan Lovelace  diperkenalkan kembali ke publik oleh BV Bowden. Bowden menerbitkannya dalam sebuah buku berjudul Faster Than Thought: A Symposium in Digital Computing Machines.

Sebagai bentuk penghormatan, nama Ada Lovelace juga digunakan untuk menamai bahasa pemrograman awal yang diberikan oleh Departemen Pertahanan Amerika.

Kini, setiap hari Selasa pada pekan kedua bulan Oktober, ditetapkan sebagai Ada Lovelace Day, sebagai bentuk penghormatan atas kontribusi Ada kepada sains, teknologi, teknik, dan matematika.

Baca juga: 5 Bank Kelas Dunia yang Pernah Dibobol Hacker, Ini yang Diincar

Ada Lovelace merupakan salah satu perempuan penting dalam sejarah teknologi dunia. Dengan keunikannya yang mengawinkan ketertarikan akan angka dan bahasa, Ada mampu membuat terobosan baru dalam komputasi.

Ia mengidentifikasi konsep yang benar-benar baru. Ada sadar bahwa mesin analitik bisa lebih dari sekadar angka, dan hal tersebut menjadi persepsi awal tentang komputer modern, di mana mesin bisa berkontribusi pada bidang lain dari usaha manusia, termasuk membuat musik.

Baca juga: 10 Hacker Paling Berbahaya di Dunia, Salah Satunya dari Indonesia

Lovelace memahami bahwa apapaun yang dapat diubah menjadi angka, seperti musik, atau alfabet (bahasa) atau gambar, akan bisa dimanipulasi oleh algoritma komputer.

Bagi Lovelace, mesin analitik memiliki potensi untuk merevolusi cara kera seluruh dunia, bukan hanya dunia matematika.

Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved