Ikan Buntal, Racunnya Lebih Mematikan dari Sianida

Saat kamu melihat spesies ikan buntal, kamu akan segera menyadari bahwa mereka tidak memiliki sisik khas yang dimiliki kebanyakan ikan. 

Editor: Geafry Necolsen
Kompas
Saat kamu melihat spesies ikan buntal, kamu akan segera menyadari bahwa mereka tidak memiliki sisik khas yang dimiliki kebanyakan ikan.  

Meskipun beracun, lumba-lumba dengan sengaja menggigit ikan buntal untuk membuatnya mabuk.

Ikan buntal yang berenang bebas
Ikan buntal yang berenang bebas (David Clode /Unsplash)

Ya, meski terdengar aneh, tapi inilah faktanya.

Baru-baru ini, ketika sekelompok naturalis sedang merekam aksi lumba-lumba, mereka melihat perilaku aneh di antara anak lumba-lumba tersebut. 

Lumba-lumba muda dengan hati-hati mencabik-cabik ikan buntal untuk mengeluarkan racunnya. 

Mereka kemudian akan membagikan daging tersebut kepada anggota lumba-lumba lainnya setelah mengunyahnya dengan lembut. 

Lumba-lumba telah menemukan cara untuk membuat ikan melepaskan sejumlah kecil racun, cukup untuk membuat lumba-lumba dalam keadaan kesurupan dan "mabuk", namun tidak membunuh mereka!

Ikan buntal sebagai makanan dan keracunan pada manusia

Jika kamu mengira ikan buntal hanya beracun bagi ikan lain, kamu salah mengira. 

Ikan buntal dianggap sebagai makanan lezat di beberapa bagian dunia, tetapi sangat beracun bagi manusia kecuali jika dibersihkan dengan benar oleh seorang profesional.  

Keracunan ikan buntal terjadi setelah manusia menelan bagian ikan yang mengandung tetrodotoxin. 

Racun ini terutama ditemukan di ovarium dan testis, hati, usus, dan kulit. 

Jika perawatan yang tepat tidak dilakukan saat membersihkan ikan, racun juga bisa menyebar ke daging.

Tetrodotoxin adalah racun saraf, dan jauh lebih mematikan daripada sianida.

Toksin memblokir saluran natrium di neuron, yang membatasi berfungsinya saraf di tubuh. 

Ketika saraf rusak, otot kehilangan kemampuannya untuk mengontrol gerakan otot, memicu mati lemas dan bahkan gagal jantung. 

Sayangnya, tidak ada penawar untuk keracunan ikan buntal. 

Satu-satunya pengobatan adalah menunggu sampai tubuh mengeluarkan racun secara alami dari sistemnya.

Di masa lalu, ada banyak kasus yang dilaporkan tentang keracunan ikan buntal di antara manusia. 

Sajian kuliner fugu khas Jepang
Sajian kuliner fugu khas Jepang (Gambar oleh takedahrs dari Pixabay)

Faktanya, rekor paling awal adalah Kapten Cook.

Konon Kapten Cook dan krunya jatuh sakit setelah memakan hati ikan buntal saat berlayar melintasi Samudra Pasifik pada tahun 1774.

Saat ini, kebanyakan kasus dilaporkan di Jepang, di mana ikan buntal dianggap sebagai makanan lezat. 

Ikan buntal umumnya dikenal sebagai "Fugu" di wilayah ini, dan dagingnya diiris dan disajikan dalam berbagai hidangan. Dulu, ribuan warga Jepang kehilangan nyawa setelah mengkonsumsi daging fugu. 

Antara 1886 dan 1963, 6.386 kasus keracunan fugu terdaftar di wilayah tersebut, di mana 59% di antaranya mengakibatkan kematian.

Namun, dengan meningkatnya kesadaran dan peraturan yang lebih ketat, Jepang telah memusnahkan jumlah kematian. 

Saat ini, fugu hanya disiapkan oleh koki yang sangat terlatih dan berlisensi yang tahu bahwa satu potong yang salah dapat menyebabkan kematian pelanggan mereka.

Penulis: Ambar Purwaningrum
Editor: Geafry Necolsen

Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved