Sukacita & Nestapa Berhaji pada Zaman Hindia Belanda

Mereka disematkan gelar haji oleh pemerintah dengan tujuan mempermudah kontrol dan pengawasan. Jika ada konflik agama, pemerintah melucuti gelarnya.

Istimewa
Mereka disematkan gelar haji oleh pemerintah dengan tujuan mempermudah kontrol dan pengawasan. Jika ada konflik agama, pemerintah melucuti gelarnya. 

TRIBUNKALTIM.CO - Beribadah haji ke tanah suci di Mekkah merupakan kewajiban bagi setiap Muslim yang mampu di seluruh dunia, tak terkecuali di Nusantara.

Annabel Teh Gallop dari The British Library berujar dalam diskusi daring The Hajj from Southeast Asia: A Story in Sources from Ottoman Times. Dia menyebutkan kisah keberangkatan haji dijadikan kisah perjalanan dari Malaka.

Kisah itu adalah Hikayat Hang Tuah. 

Hang Tuah sendiri adalah bangsawan di negeri itu dan melakukan perjalanan ke Roma di abad ke-15. Ketika kapalnya melewati Laut Merah, ia diajak gubernur Jeddah untuk berhaji.

Bahkan di sela kegiatan haji itu, ia juga membeli kiswah (kain penutup Ka'bah) sebagai buah tangan. Lambat laun, membeli oleh-oleh saat berhaji dilakukan di masa berikutnya hingga kini.

Selain bertujuan untuk beribadah dan berbelanja, Martin van Bruinnessen dalam Mencari ilmu dan pahala di tanah suci: orang Nusantara naik haji, dilakukan oleh para tokoh untuk mencari ilmu, 'kesaktian', dan mendapat pengakuan jabatan sultan maupun kedaulatan.

Tindak pengakuan jabatan sering dilakukan pada periode 1600-an, ketika penguasa setempat—terutama kesultanan di Jawa—berangkat haji agar mendapat restu sebagai haji.

Sedangkan penggunaan untuk mendapatkan status jabatan politik maupun pandangan masyarakat masih berjalan hingga kini.

Pada masa Hindia Belanda, pemerintah memfasilitasi ibadah haji melalui departemen kebijakan sipilnya.

Halaman
12
Ikuti kami di
Editor: Geafry Necolsen
Sumber: Kompas.com
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved