Peta Baru Ungkap Lahan Sawit Terluas di Asia Tenggara Ada di Sumatera dan Kalimantan

Peta ini mengungkapkan bahwa lahan perkebunan kelapa sawit terluas terjadi ada Sumatra dan Kalimantan.

Vera Petrunina
Peta ini mengungkapkan bahwa lahan perkebunan kelapa sawit terluas terjadi ada Sumatra dan Kalimantan. 

TRIBUNKALTIM.CO — Para peneliti dati International Institute for Applied Systems Analysis (IIASA) yang berbasis di Luxemburg, Austria, membuat peta baru perkembangan perkebunan kelapa sawit di kawasan Asia Tenggara. 

Peta ini mengungkapkan bahwa lahan perkebunan kelapa sawit terluas terjadi ada Sumatra dan Kalimantan.

Dalam studi yang terbit pada 2021 ini, para peneliti tersebut memaparkan bahwa pada 2017 luas lahan sawit di Sumatra, Indonesia, sebesar 6,37 Mha atau 63.700 kilometer persegi. Angka ini hampir setara dengan 100 kali lipat luas Jakarta.

Adapun di Kalimantan pada tahun yang sama terdapat lahan sawit seluas 2,92 Mha atau 29.200 kilometer persegi. Sementara posisi tertinggi ketiga adalah Peninsular Malaysia yang punya luas lahan sawit sebesar 2,41 Mha atau 24.100 kilometer persegi.

Dalam studi ini para peneliti IIASA menggunakan citra satelit Sentinel 1 dari European Space Agency (ESA) untuk menghasilkan peta luasan perkebunan kelapa sawit per tahun pendeteksiannya di Indonesia, Malaysia, dan Thailand. 

Peta ini diharapkan dapat membantu para pembuat kebijakan dan pemangku kepentingan lainnya dalam memahami tren ekspansi kelapa sawit sekaligus menyediakan peta yang akurat untuk perencanaan tingkat lanskap.

Baca Juga: Alih Fungsi Hutan Jadi Kebun Sawit Bikin Suhu Indonesia Makin Panas

Dalam rilis yang IIASA bagikan lewat Newswise, mereka mengatakan bahwa dafsu dunia akan minyak sawit sepertinya tidak ada batasnya.

Kita menggunakan minyak sawit dalam segala hal, mulai dari produk kecantikan dan makanan, hingga proses industri dan biofuel untuk memenuhi kebutuhan energi kita.

"Permintaan yang terus meningkat ini telah menyebabkan produksi kelapa sawit menjadi lebih dari dua kali lipat dalam dua dekade terakhir, sebuah pembangunan yang pada gilirannya berdampak sangat dalam pada ekosistem hutan alam dan keanekaragaman hayati," tulis mereka.

Halaman
12
Ikuti kami di
Editor: Geafry Necolsen
Sumber: Kompas.com
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved