Internasional

PBB: Tanda Bahaya, Harga Makanan dan Bahan Bakar Mulai Naik di Myanmar

Kerusuhan politik di Myanmar yang sudah berlangsung lebih dari satu bulan mulai meningkatkan harga makanan dan bahan bakar.

Editor: Geafry Necolsen
Istimewa
Kerusuhan politik di Myanmar yang sudah berlangsung lebih dari satu bulan mulai meningkatkan harga makanan dan bahan bakar. 

PBB: Tanda Bahaya, Harga Makanan dan Bahan Bakar Mulai Naik di Myanmar

TRIBUNKALTIM.CO - Kerusuhan politik di Myanmar yang sudah berlangsung lebih dari satu bulan mulai meningkatkan harga makanan dan bahan bakar.

Program Pangan Dunia (WFP) PBB memperingatkan kondisi itu berisiko mendorong orang-orang yang paling rentan di negara itu jauh lebih dalam ke jurang kemiskinan.

Harga minyak sawit naik 20 persen di daerah sekitar kota terbesar Yangon, dibandingkan dengan awal Februari, ketika militer menggulingkan dan menahan pemimpin sipil Aung San Suu Kyi dan memicu unjuk rasa.

Baca juga: Diblokir Facebook & Instagram, Militer Myanmar Tebar Ancaman Kematian Lewat TikTok

Harga beras di daerah pinggiran kota Yangon dan kota terbesar kedua, Mandalay, naik empat persen sejak pekan terakhir Februari, kata WFP melansir AFP pada Selasa (16/3/2021).

Di seluruh negeri, harga bahan makanan pokok seperti beras naik tiga persen antara pertengahan Januari dan pertengahan Februari. Sementara di beberapa daerah harga melonjak antara 20 dan 35 persen.

Harga kacang-kacangan naik 15 persen antara Januari dan Februari di Maungdaw, Rakhine Utara.

Gelombang protes menentang kudeta militer di Myanmar tidak menunjukkan tanda-tanda akan segera surut, bahkan bertambah besar.
Gelombang protes menentang kudeta militer di Myanmar tidak menunjukkan tanda-tanda akan segera surut, bahkan bertambah besar. (Istimewa)

Baca juga: Junta Militer Myanmar Terkejut, Kudetanya Mendapat Banyak Tentangan

"Tanda-tanda awal ini meresahkan, terutama bagi orang-orang yang paling rentan yang sudah hidup demi sesuap nasi perhari," kata direktur WFP Myanmar untuk negara, Stephen Anderson.

Menurutnya, di puncak pandemi Covid-19, jika tren harga ini terus berlanjut, mereka akan sangat merusak kemampuan orang yang paling miskin dan paling rentan untuk menyediakan makanan yang cukup di meja keluarga.

Baca juga: Protes Kudeta Militer di Myanmar Semakin Meluas, Mirip Peristiwa 1998 di Indonesia

Harga eceran rata-rata minyak goreng naik 27 persen di seluruh Rakhine utara antara Januari dan Februari, dan sebesar 11 persen di negara bagian Rakhine tengah.

“Biaya bahan bakar nasional meningkat 15 persen sejak 1 Februari, bahkan dengan kenaikan yang sangat tinggi di Rakhine utara. Ini meningkatkan kekhawatiran tentang kenaikan harga pangan lebih lanjut," terang WFP.

Baca juga: Polisi Myanmar Beralih Mendukung Demonstran Penentang Kudeta

WFP menyatakan sedang membangun persediaan makanan darurat. Ini dilakukan sebagai upayanya untuk mendukung lebih dari 360.000 orang di Myanmar. Kebanyakan mereka mengungsi secara internal dan tinggal di kamp-kamp.

"WFP mengulangi seruan Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa atas keinginan rakyat Myanmar, yang diungkapkan dalam pemilihan baru-baru ini untuk dihormati," kata Anderson.

"Di WFP kami tahu betul bagaimana kelaparan dapat segera terjadi ketika perdamaian dan dialog dikesampingkan."

Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved