Profil Presiden Kedua RI: Soeharto, Masa Jabatannya Paling Lama

Jenderal TNI Soeharto merupakan presiden kedua Republik Indonesia yang menjabat sejak tahun 1967 hingga 1998.

Editor: Geafry Necolsen
Istimewa
Jenderal TNI Soeharto merupakan presiden kedua Republik Indonesia yang menjabat sejak tahun 1967 hingga 1998. 

Profil Presiden Kedua RI: Soeharto, Masa Jabatannya Paling Lama

TRIBUNKALTIM.CO - Jenderal TNI Soeharto merupakan presiden kedua Republik Indonesia yang menjabat sejak tahun 1967 hingga 1998.

Itu artinya, Soeharto merupakan satu-satunya Presiden RI dengan masa jabatan paling lama.

Soeharto ditunjuk sebagai Presiden Indonesia pada 12 Maret 1967 menggantikan Soekarno.

Penunjukan itu berdasarkan TAP MPR Nomor XXXIII/MPRS/1967 tentang Pencabutan Kekuasaan Pemerintahan Negara dari Presiden Soekarno. Saat itu, status Soeharto baru menjadi "pejabat presiden".

Kemudian pada 27 Maret 1968, Soeharto dilantik menjadi presiden secara penuh.

Dikutip dari Harian Kompas (23/3/1968), Soeharto disepakati menjabat kursi presiden secara penuh pada musyawarah pleno ke-5 MPRS.

Anak petani

Dilansir dari Perpustakaan Nasional RI, Soeharto lahir di Kemusuk, Yogyakarta pada 8 Juni 1921.

Ia merupakan putra dari Kertosudiro, seorang petani sekaligus asisten lurah dalam pengairan sawah desa, sedangkan ibunya bernama Sukirah.

Semasa kanak-kanak, Soeharto mulai mengenyam pendidikan saat berusia 8 tahun.

Awalnya, ia disekolahkan di Sekolah Desa (SD) Puluhan, Godean. Kemudian, ia pindah ke SD Pedes, karena sang ibu dan suaminya, Pramono pindah rumah, ke Kemusuk Kidul.

Namun, Kertosudiro memindahkan Soeharto ke sekolah di Wuryantoro. Soeharto saat itu dititipkan di rumah adik perempuan Kertosudiro.

Masuk TNI

Beranjak dewasa, Soeharto sempat terpilih menjadi prajurit teladan di Sekolah Bintara, Gombong, Jawa Tengah pada tahun 1941.

Ia juga resmi menjadi anggota TNI pada 5 Oktober 1945.

Pada tahun 1947, Soeharto menikah dengan Siti Hartinah, anak Wedana pegawai Pura Mangkunegaran, Surakarta. 

Pernikahan Letkol Soeharto dan Siti Hartinah dilangsungkan pada 26 Desember 1947 di Solo, di mana saat itu Soeharto berusia 26 tahun dan Hartinah berusia 24 tahun.

Setelah menikah, pasangan ini dikaruniai enam anak, yakni:

1. Siti Hardiyanti Hastuti
2. Sigit Harjojudanto
3. Bambang Trihatmodjo
4. Siti Hediati Herijadi
5. Hutomo Mandala Putra
6. Siti Hutami Endang Adiningsih.

Perjalanan karir militer

Di kemiliteran, Soeharto memulai karirnya dari pangkat sersan tentara KNIL. Kemudian komandan PETA, komandan resimen dengan pangkat mayor dan komandan batalyon berpangkat letnan kolonel.

Pada tahun 1949, Soeharto berhasil memimpin pasukannya dengan merebut kembali Kota Yogyakarta dari Belanda.

Ia juga pernah menjadi pengawal Panglima Besar Soedirman.

Selain itu, Soeharto juga pernah menjadi Panglima Mandala saat peristiwa Pembebasan Irian Barat.

Pada 1 Oktober 1965, Soeharto mengambil alih pimpinan Angkatan Darat saat meletusnya kejadian G-30S/PKI.

Selain dikukuhkan sebagai Panglima Angkatan Darat (Pangad), ia ditunjuk sebagai Pangkopkamtib oleh Presiden Soekarno.

Supersemar

Pada Maret 1966, Soeharto menerima Surat Perintah 11 Maret dari Presiden Soekarno.

Dalam surat itu, Soeharto diberi mandat untuk mengembalikan keamanan dan ketertiban di dalam negeri setelah peristiwa G30S/PKI pada 1 Oktober 1965.

Namun hingga kini, Supersemar masih menjadi kontroversi. Sebab, naskah aslinya tak pernah ditemukan.

Dalam pidato yang disampaikan pada peringatan proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1966, Presiden Soekarno menyebut mengenai Supersemar, yang juga jadi bukti keberadaannya.

Namun, Soekarno membantah telah memberikan surat kuasa untuk memberikan kekuasaan kepada Soeharto.

"Dikiranya SP 11 Maret itu suatu transfer of authority, padahal tidak," kata Soekarno dalam pidato berjudul Jangan Sekali-kali Meninggalkan Sejarah atau dikenal dengan sebutan "Jasmerah".

Sejarawan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Asvi Warman Adam menilai perintah Presiden Soekarno itu ditafsirkan berbeda oleh Soeharto.

Penafsiran yang berbeda itu pertama kali diimplementasikan saat Soeharto membuat Surat Kebijakan Nomor 1/3/1966 atas nama Presiden Soekarno, untuk membubarkan PKI. 

Soeharto dianggap keliru dalam menafsirkan frasa "mengambil segala tindakan yang dianggap perlu, untuk terjaminnya keamanan dan ketenangan serta kestabilan jalannya revolusi".

"Itu yang dijadikan dasar untuk pembubaran PKI. Jadi sangat sakti surat itu," tutur Asvi.

Dikutip dari arsip Harian Kompas 11 Maret 1971, Soeharto yang saat itu menjabat Presiden RI mengatakan bahwa Supersemar hanya digunakan untuk membubarkan PKI dan menegakkan kembali wibawa pemerintahan.

"Saya tidak pernah menganggap Surat Perintah 11 Maret sebagai tujuan untuk memperoleh kekuasaan mutlak. Surat Perintah 11 Maret juga bukan merupakan alat untuk mengadakan kup terselubung," kata Soeharto. 

Dilantik sebagai Presiden RI

Meskipun demikian, pasca Supersemar popularitas Soeharto terus menanjak, sementara sebaliknya kekuasaan Presiden Sukarno mulai meredup. 

Akhirnya, pada 7 Maret 1967, Soekarno melepas jabatannya. Soeharto ditunjuk untuk menjadi penjabat presiden lewat Sidang MPRS.

Soeharto resmi menjabat dan dilantik sebagai Presiden RI pada 27 Maret 1968.

Di masa pemerintahannya, Soeharto bertugas sebagai presiden dengan lama menjabat 32 tahun dengan enam kali terselenggaranya Pemilu.

Soeharto mengundurkan diri pada 21 Mei 1998 setelah mendapatkan desakan dari ribuan mahasiswa yang memadati gedung DPR/MPR.

Mundurnya Soeharto ini merupakan puncak dari kerusuhan dan aksi protes di berbagai daerah dalam beberapa bulan terakhir. 

Tak lama setelah lengser, Soeharto menderita suatu penyakit hingga harus dirawat di Rumah Sakit Pusat Pertamina (RSPP), Jakarta Selatan.

Setelah menjalani perawatan selama 24 hari, Soeharto meninggal dunia pada 27 Januari 2006 pukul 13.10 WIB dalam usia 87 tahun.

Penghargaan

Dilansir dari situs Museum Soeharto, disebutkan seluruh penghargaan yang diterim Soeharto semasa hidupnya. Berikut rinciannya:

  • Bintang RI Klas I
  • Bintang Mahaputra Klas I
  • Bintang Jasa Klas I
  • Bintang Dharma
  • Bintang Sakti
  • Bintang Gerilya
  • Bintang Sewindu APRI
  • Bintang Kartika Eka Paksi Klas I
  • Bintang Jalasena Klas I
  • Bintang Garuda
  • Bintang Swa Buana Paksi Klas I
  • Bintang Bhayangkara Klas I
  • Satya Lencana Teladan
  • Satya Lencana Kesetiaan
  • Satya Lencana Perang Kemerdekaan I
  • Satya Lencana Perang Kemerdekaan II
  • G.O.M. I
  • G.O.M. II
  • G.O.M. III
  • G.O.M. IV
  • Satya Lencana Satya Dharma
  • Satya Lencana Wira Dharma
  • Satya Lencana Penegak
  • Bintang Yuda Dharma Klas I
  • The Raja of The Order of Sikatuna (Filipina)
  • Grand Collier of The Order of Sheba (Ethiopia)
  • Grand Collier de L’Order National de L’independence (Kamboja)
  • The Most Auspicious Order of The Rajamitrabhorn (Thailand)
  • Darjah Utama Seri Mahkota Negara (DMN) (Malaysia)
  • Order Van de Nederlandse Leeuw (Belanda)
  • Sounderstute des Grosskreuzes (Special order of the Grand Cross), Jerman
  • Grand Cordone (Italia)
  • Grand Gordon Order de Leopold (Belgia)
  • Grand Croiix de Legion 1 honneur (Prancis)
  • Groos Stern des Ehren Zeichens Feur Verdienste um die Republik Qesterreich (Austria)
  • Tanda penghargaan Yugoslavia
  • Satya Lencana Pahlavi (Iran)
  • Grand Cordon of the Supreme Order of the Chrysanthemum (Jepang)
  • Bapak Pembangunan RI
  • Bintang Kehormatan Moogunghwa dari gerakan kepanduan Korea Selatan (1 Juli 1986)
  • Penghargaan Medali Emas FAO (21 Juli 1986)
  • Penghargaan Kependudukan PBB (United Nations Population Award – UNPA) (8 Juni 1989)
  • Medali emas Uniesco Avicenna (Pendidikan) (19 Juni 1993).
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved