Virus Corona

Peringatan Interpol, Beredar Vaksin Palsu Covid-19, dan Kejahatan Pandemi Lainnya

Organisasi Kepolisian Internasional (Interpol) memberi tanggapan terkait adanya jaringan kriminal yang memproduksi vaksin palsu Covid-19.

Editor: Geafry Necolsen
Istimewa
Peringatan Interpol, Beredar Vaksin Palsu Covid-19, dan Kejahatan Pandemi Lainnya 

Peringatan Interpol, Beredar Vaksin Palsu Covid-19, dan Kejahatan Pandemi Lainnya

TRIBUNKALTIM.CO - Organisasi Kepolisian Internasional (Interpol) memberi tanggapan terkait adanya jaringan kriminal yang memproduksi vaksin palsu Covid-19.

Interpol adalah organisasi antarpemerintah dari 194 negara anggota.

Pada 2 Desember 2020 lalu, Interpol telah memberi orange notice atau peringatan oranye, untuk mewaspadai tindakan kriminal yang berkaitan dengan vaksin Covid-19.

Sekretaris Jenderal Interpol, Jürgen Stock mengatakan bahwa penjahat akan menargetkan distribsusi vaksin.

"Mengikuti peringatan kami bahwa penjahat akan menargetkan distribusi vaksin Covid-19, baik secara online maupun offline, Interpol terus memberikan dukungan penuh kepada otoritas nasional yang bekerja untuk melindungi kesehatan dan keselamatan warganya," kata Stock, di laman resmi Interpol.

Vaksin palsu di Afrika Selatan

Otoritas Afrika Selatan telah menyita ratusan vaksin Covid-19 palsu.

Sekitar 400 ampul atau setara dengan sekitar 2.400 dosis yang mengandung vaksin palsu, ditemukan di sebuah gudang di Germiston, Gauteng, Afrika Selatan.

Di tempat yang sama, sebelumnya petugas juga menemukan sejumlah besar masker 3M palsu.

Otoritas Afrika Selatan pun telah menangkap tiga warga negara China dan seorang warga negara Zambia.

"Sejak Covid-19 mencapai pantai Afrika Selatan, pemerintah telah mengadopsi pendekatan penegakan hukum multi-disiplin yang terintegrasi,” kata Juru Bicara Nasional Kepolisian Afrika Selatan, Brigadir Vish Naidoo.

Kasus vasin palsu di China

Vaksin palsu Covid-19 juga ditemukan di China. Polisi berhasil mengidentifikasi jaringan yang menjual vaksin palsu ini dan menggerebek tempat pembuatannya.

Polisi pun menangkap sekitar 80 tersangka dan menyita lebih dari 3.000 vaksin palsu di tempat kejadian.

Juru bicara Kementerian Keamanan Publik China mengatakan, pemerintah China sangat mementingkan keamanan vaksin.

"Kami akan lebih memperkuat kerja sama konstruktif dengan Interpol dan lembaga penegak hukum negara lain untuk secara efektif mencegah kejahatan semacam itu," katanya.

Kini, Polisi China sedang melakukan kampanye untuk mencegah dan menindak kejahatan terkait vaksin.

Mereka juga secara proaktif menyelidiki dan memerangi kejahatan vaksin palsu dengan dengan tindakan hukum.

Temuan vaksin palsu di dua negara ini merupakan investigasi yang didukung dan difasilitasi oleh Program Barang Terlarang dan Kesehatan Global (IGGH) Interpol.

Vaksin di pasar gelap

Penangkapan itu terjadi selang beberapa minggu setelah Interpol mengeluarkan peringatan Oranye.

Peringatan itu juga menyertakan detail dan gambar vaksin asli dan metode pengiriman resmi yang disediakan oleh perusahaan farmasi untuk membantu mengidentifikasi botol palsu.

Belakangan, Interpol juga menerima laporan tambahan tentang distribusi vaksin palsu dan upaya penipuan yang menargetkan badan kesehatan, seperti panti jompo.

Interpol memperingatkan publik bahwa tidak ada vaksin yang dijual secara online.

Vaksin apa pun yang diiklankan di situs web atau web gelap, merupakan vaksin ilegal atau tidak sah, tidak teruji, dan mungkin berbahaya.

Sindikat kriminal vaksin

Dilansir dari Time, Sabtu (12/3/2021), Jürgen Stock mengatakan bahwa sindikat kriminal vaksin palsu di seluruh dunia menghasilkan miliaran dolar keuntungan ilegal.

Kejahatannya macam-macam. Baik dengan mencuri vaksin asli dan mencoba menjualnya, maupun memasarkan vaksin palsu yang terbukti berbahaya bagi kesehatan masyarakat.

Korban dari perdagangan ini pun beragam.

Ada dari pembeli individu di pasar gelap, hingga lembaga pemerintah yang bertanggung jawab untuk mengamankan pasokan.

"Penjahat akan mengeksploitasi setiap mata rantai yang lemah dalam rantai pasokan vaksin yang sah," kata Stock.

Hubungan terlemah kemungkinan besar berada di negara berkembang, yang mungkin kekurangan infrastruktur perawatan kesehatan dalam mendistribusikan vaksin dengan aman.

Sertifikat atau paspor vaksinasi

Pada akhir 2020, beberapa negara telah mulai menerapkan paspor vaksinasi, dokumen yang dimaksudkan untuk memungkinkan orang bepergian atau kembali bekerja setelah mendapatkan suntikan vaksin.

Di Indonesia sendiri ada sertifikat vaksinasi bagi orang yang telah mendapat suntikan vaksin Covid-19.

Stock memperingatkan adanya peningkatan pemalsuan dengan berusaha mempermainkan sistem ini.

Ia menjelaskan para pemalsu sudah menawarkan layanan semacam itu untuk dijual di web gelap, tempat kelompok kriminal sering bertemu untuk mengumpulkan keterampilan dan sumber daya mereka untuk melayani penipuan tertentu.

Kejahatan pandemi lainnya

Sebelumnya, kelompok kriminal online juga berupaya meluncurkan serentetan serangan ransomware terhadap rumah sakit, laboratorium, pemerintah daerah, dan banyak target lainnya.

Mereka juga memblokir sistem komputer mereka dari jarak jauh dan menuntut pembayaran untuk membebaskan blokir.

Adapun kelompok kriminal yang lebih tradisional, seperti keluarga kriminal Ndrangheta di Italia, seringkali memanfaatkan peluang dengan menjadi rentenir atau pencucian uang melalui bisnis yang bermasalah.

Dalam melacak jaringan kriminal semacam itu, salah satu pola paling jelas yang diperhatikan Stock selama setahun terakhir adalah seberapa cepat mereka belajar satu sama lain.

"Apa yang hari ini muncul di satu bagian dunia besok akan terjadi di belahan dunia lainnya," katanya kepada Time, Jumat.

Ia menyarankan, cara terbaik untuk melawan jaringan ini adalah melalui koordinasi yang lebih besar di antara badan-badan kepolisian nasional.

Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved