Ini Alasan Mengapa Kekuatan Militer China di Pulau Buatan Sulit Ditandingi Negara Manapun di ASEAN

Mereka dengan cepat membangun pulau-pulau buatan di sekitar Laut China Selatan, yang salah satunya berdekatan dengan perairan Natuna.

Editor: Geafry Necolsen
Wikipedia
Pulau Woody atau Yongxing adalah yang terbesar dalam jajaran Kepulauan Paracel yang disengketakan di Laut China Selatan. 

TRIBUNKALTIM.CO - Baru-baru ini, Panglima Komando Armada I TNI AL Laksamana Muda Muhammad Ali menyebut bahwa China sudah sangat siap untuk memenangi pertempuran di Laut China Selatan.

Mereka dengan cepat membangun pulau-pulau buatan di sekitar Laut China Selatan, yang salah satunya berdekatan dengan perairan Natuna.

"Mereka bangun (pulau buatan) itu hanya dua-tiga tahun. Gerak cepat," ujar Ali seperti dilansir kompas.com.

Padahal, menurut Ali, China membangunnya di atas karang seluas 3000 meter.

Tentu saja jika 'hanya' sekadar pulau buatan, China tidak akan sebegitu bertajinya di Laut China Selatan.

Hal paling mengerikan ada di atas pulau-pulau di kepulauan Spartly tersebut, yaitu berupa tiga pangkalan militer.

Kita akan semakin merasa bergidik jika melihat senjata-senjata hingga apa saja yang ada di pangkalan militer tersebut.

Pada Maret 2017, lembaga kajian pakar (think tank) Amerika Serikat menyebutkan bahwa otoritas China sudah menempatkan pesawat tempur berikut peluncur rudalnya di pangkalan militer yang dibangunnya.

Pangkalan-pangkalan itu sendiri terdiri dari angkatan laut, udara, radar, dan fasilitas pertahanan rudal.

“Beijing sekarang dapat menggeser aset-aset militernya, termasuk pesawat tempur, dan peluncur-peluncur dual bergerak, ke Kepulauan Spratly kapan saja,” kata Asia Martitim Transparency Initiative (AMTI), bagian dari Center for Strategic and International Studies (CSIS) di Washington DC, AS, seperti dilansir kompas.com.

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved