Arkeologi

Mumi Berlidah Emas Ditemukan di Situs Pemakaman Mesir Kuno

Mereka menemukan petunjuk baru yang menarik tentang masa lalu Mesir, termasuk menemukan mumi dari individu-individu 'berstatus tinggi'.

Istimewa
Mereka menemukan petunjuk baru yang menarik tentang masa lalu Mesir, termasuk menemukan mumi dari individu-individu 'berstatus tinggi'. 

Mumi Berlidah Emas Ditemukan di Situs Pemakaman Mesir Kuno

TRIBUNTREAVEL.COM - Arkeolog dari Universitas Santo Domingo di Republik Dominika menemukan 16 lubang penguburan baru di Kuil Taposiris Magna, Mesir.

Tim yang dipimpin oleh Dr. Kathleen Martinez, telah bekerja di situs tersebut selama bertahun-tahun.

Mereka menemukan petunjuk baru yang menarik tentang masa lalu Mesir, termasuk menemukan mumi dari individu-individu 'berstatus tinggi'.

 

Penemuan ini tentu dapat memberikan petunjuk tentang keberadaan makam Cleopatra yang sempat jadi perbincangan pada Juli 2020 lalu.

Melansir laman Travel + Leisure, penemuan baru ini mendeteksi mumi dari zaman Yunani dan Romawi.

Mumi tersebut ditemukan oleh para peneliti dalam 'kondisi buruk'.

Kendati demikian, ada beberapa benda menarik yang terkubur bersamanya.

Menurut sebuah postingan Facebook oleh Kementerian Pariwisata dan Purbakala Mesir, para peneliti menemukan jimat dari kertas emas dalam bentuk lidah yang ditempatkan di mulut mumi.

Postingan tersebut menjelaskan bahwa lidah emas adalah "ritual khusus untuk memastikan kemampuan berbicara mereka di kehidupan selanjutnya di hadapan pengadilan Osiria."

Namun, menurut unggahan Facebook, Martinez mencatat dua mumi spesifik yang memiliki signifikansi khusus.

Salah satu mumi ini telah dikuburkan dengan "sisa-sisa gulungan dan bagian dari kartonnage", yang menggambarkan dekorasi berlapis emas untuk menghormati dewa Osiris.

Yang lainnya memakai mahkota "berhiaskan tanduk, dan ular kobra di dahi," serta kalung yang memiliki liontin berbentuk kepala elang, lambang dewa Horus.

Para peneliti menemukan jimat dari kertas emas dalam bentuk lidah yang ditempatkan di mulut mumi.
Para peneliti menemukan jimat dari kertas emas dalam bentuk lidah yang ditempatkan di mulut mumi. (Facebook/ Ministry of Tourism and Antiquities وزارة السياحة والآثار)

Selain itu, para peneliti menemukan topeng pemakaman untuk seorang wanita yang dihiasi dengan daun emas melingkar dan delapan topeng pemakaman tambahan yang terbuat dari marmer.

"Topeng ini menunjukkan keahlian tinggi dalam seni pahat dan penggambaran fitur dari pemiliknya," katanya di postingan Facebook.

Dengan begitu banyak penemuan menarik dan unik, misi untuk menggali Kuil Taposiris Magna dapat mengungkap lebih banyak petunjuk ke dunia kuno dalam beberapa tahun ke depan.

Baca juga: Arkeolog Temukan 59 Mumi Utuh di Mesir, Dikubur Lebih dari 2.500 Tahun Lalu

Baca juga: Para Ahli Berhasil Ungkap Misteri di Balik Ekspresi Ketakutan Mumi Berusia 3.000 Tahun

Artefak Mesir yang Ditemukan dalam Kotak Cerutu Ini Ungkap Rahasia Piramida Agung Giza

Artefak yang hilang dari Piramida Agung Giza telah ditemukan dalam penemuan tak terduga di Universitas Aberdeen.

Asisten kuratorial, Abeer Eladany yang berasal dari Mesir saat itu sedang meninjau barang-barang koleksi museum University of Aberdeen ketika dia menemukan kotak cerutu yang ditandai dengan bekas bendera negaranya.

Di dalamnya terdapat beberapa serpihan kayu yang kemudian dia identifikasi sebagai pecahan kayu dari Piramida Besar yang telah hilang selama lebih dari satu abad.

Hanya tiga benda yang pernah ditemukan dari dalam Piramida Agung Giza yang dikenal sebagai "Dixon Relics", menurut University of Aberdeen.

Dua di antaranya yaitu bola dan kail yang sekarang disimpan di British Museum.

Tetapi objek ketiga, pecahan dari potongan kayu cedar yang jauh lebih besar, telah hilang selama lebih dari 70 tahun, tambah universitas tersebut, menurut laporan CNN.

Gambar selebaran yang dirilis oleh University of Aberdeen pada 16 Desember 2020 menunjukkan potongan kayu cedar yang awalnya ditemukan pada tahun 1872 di dalam Piramida Besar di Giza di Mesir dan baru-baru ini ditemukan kembali dalam koleksi museum Universitas Aberdeen setelah hilang selama lebih dari 70 tahun.
Gambar selebaran yang dirilis oleh University of Aberdeen pada 16 Desember 2020 menunjukkan potongan kayu cedar yang awalnya ditemukan pada tahun 1872 di dalam Piramida Besar di Giza di Mesir dan baru-baru ini ditemukan kembali dalam koleksi museum Universitas Aberdeen setelah hilang selama lebih dari 70 tahun. (UNIVERSITY OF ABERDEEN / AFP)

"Begitu saya melihat angka-angka dalam catatan Mesir kami, saya langsung tahu apa itu, dan itu secara efektif disembunyikan di depan mata dalam koleksi yang salah," kata Eladeny dalam siaran pers dari universitas.

"Saya seorang arkeolog dan telah mengerjakan penggalian di Mesir, tetapi saya tidak pernah membayangkan di sini di timur laut Skotlandia bahwa saya akan menemukan sesuatu yang begitu penting bagi warisan negara saya sendiri."

Piramida Agung Giza berdiri setinggi 139 meter (sekitar 455 kaki) dan dibangun sekitar 4.500 tahun yang lalu.

Ini yang terbesar dari kelompok piramida di Giza, yang tertua dari Tujuh Keajaiban Dunia Kuno, dan daya tarik wisata utama.

Piramida tersebut memiliki terowongan sempit, di mana sulit untuk dilalui orang-orang jika ingin mendaki.

Pada abad ke-18 dan 19, para arkeolog dan peneliti biasa mencoba menerobos masuk ke ruang-ruang di dalamnya, lapor CNN.

Untuk menghindari kerusakan lebih lanjut pada struktur kuno, arkeolog modern sekarang menggunakan teknologi seperti robot dan kamera jarak jauh untuk menjelajahi interiornya di Piramida Agung Giza.

Mereka sejauh ini hanya mendapatkan akses ke tiga ruang yang diketahui.

Peninggalan tersebut pertama kali ditemukan pada tahun 1872 di dalam Kamar Ratu Piramida oleh insinyur Waynman Dixon.

Dia dibantu oleh temannya, James Grant, lulusan dari University of Aberdeen.

Dixon mengambil bola dan kail, dan Grant mengambil kayu itu, kata pihak universitas.

Setelah kematian Grant pada tahun 1895, koleksinya diwariskan ke universitas, dan putrinya menyumbangkan "sepotong kayu cedar lima inci" pada tahun 1946.

Tetapi karena potongan kayu itu tidak pernah diklasifikasikan dengan benar, potongannya tetap tersembunyi selama beberapa dekade meskipun ada "pencarian ekstensif," sampai Eladany secara tidak sengaja menemukannya di koleksi Asia.

"Koleksi Universitas sangat besar bahkan mencapai ratusan ribu item, jadi mencarinya seperti menemukan jarum di tumpukan jerami," katanya.

"Aku tidak percaya ketika aku menyadari apa yang ada di dalam kaleng cerutu yang tampak tidak berbahaya ini."

Ada berbagai teori berbeda tentang tujuan kayu dan tanggal asalnya.

Baca juga: CT Scan Ungkap Isi Aneh Dua Miniatur Mumi dari Israel, Isinya Bukan Manusia

Beberapa peneliti mengira itu bagian dari alat ukur yang lebih besar, yang mereka yakini dapat memberikan petunjuk tentang bagaimana piramida yang menjulang tinggi itu dibangun.

Theguardian melaporkan, penemuan relik itu juga menimbulkan pertanyaan baru, karena penanggalan karbon telah menunjukkan bahwa kayu tersebut bisa saja berasal dari periode 3341-3094BC (sekitar 500 tahun lebih awal dari catatan sejarah) yang menyebutkan tanggal Piramida Besar pada masa pemerintahan Firaun Khufu pada tahun 2580 -2560BC.

Potongan kayu yang lebih besar asalnya, masih di dalam Piramida Agung Giza, terakhir kali dilihat oleh kamera robotik pada tahun 1993 dan sekarang tidak dapat dijangkau.

"Ini bahkan lebih tua dari yang kita bayangkan. Ini mungkin karena tanggal berkaitan dengan usia kayunya, mungkin dari bagian tengah pohon yang berumur panjang," kata Neil Curtis, Kepala Museum dan Koleksi Khusus di Universitas Aberdeen, dalam rilisnya.

"Atau, bisa jadi karena kelangkaan pohon di Mesir kuno, yang berarti kayu langka, berharga dan didaur ulang atau dirawat selama bertahun-tahun."

Dia menambahkan bahwa penemuan itu mungkin "menghidupkan kembali minat" pada relik tersebut.

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved