Orang Jepang Berburu Kaset Jadul dan Beli dengan Harga Mahal, untuk Apa?

Dengan bahan kualitas mahal ini, dulu kaset hanya dijual sekitar beberapa ratus hingga seribu yen per keping atau sekitar Rp 150 ribuan. Sekarang, pi

istimewa
Di zaman yang semakin digital, tidak heran jika beberapa penggemar musik yang berdedikasi ingin mempertahankan peninggalan kecil masa lalu, baik secara metaforis maupun harfiah. 

Dalam cuitannya yang berbahasa Jepang mengatakan, "inilah kaset yang sedang dicari banyak orang. Aku berhasil mengumpulkan 170 kaset tidak terpakai sejak tahun lalu."

"Pita partikel logamnya sangat berharga. Meskipun ini kaset kosong, bukan berarti kaset ini masih layak untuk merekam. Jadi, aku mengumpulkannya dan tetap membiarkan tidak dibuka hanya sebagai koleksi saja."

Kaset pertama kali diproduksi di Jepang pada tahun 1966, dipelopori oleh Maxell.

Baca juga: WHO Peringatkan Bahaya Varian Virus Corona yang Ditemukan di Jepang

Baca juga: Kota Terlantar & Menyeramkan di Jepang, Terekam Kamera Google Maps

Mereka menjadi sangat populer karena kemudahan penggunaan dan portabilitasnya.

Saat itu cukup banyak dijumpai anak-anak muda yang membawa boombox di jalan dengan kasing untuk diputar.

Pada 1979, popularitas mereka meningkat lagi ketika Sony mulai menjual pemutar kaset portabelnya, Walkman.

Walkman Sony
Walkman Sony (Twitter @StonesrocksJp via JapanToday)

Tahun komersial terbesar kaset tape adalah tahun 1989 di mana penjualannya lebih dari lima ratus juta.

Seperti disebutkan sebelumnya, pita kaset bermutu tertinggi adalah variasi partikel logam.

Sayangnya, produksi semacam ini dihentikan pada tahun 2001.

Maxell sekarang menjadi satu-satunya distributor kaset yang masih hidup di Jepang, memindahkan sekitar 8 juta kaset (eksklusif kaset Tipe I / Ferric / normal) per tahun.

Halaman
123
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved