Mengapa Beda Negara, Beda Juga 'Colokan' Listriknya?

karena banyak negara mengadopsi inovasi pada waktu yang berbeda-beda, steker yang mereka gunakan juga berubah seiring waktu.

Istimewa
karena banyak negara mengadopsi inovasi pada waktu yang berbeda-beda, steker yang mereka gunakan juga berubah seiring waktu. 

Aliran yang lebih rendah membutuhkan kabel yang lebih tipis. Karena tembaga yang menjadi bahan dasar kabel listrik harganya mahal, voltase tinggi dapat menghemat uang.

Steker bundar juga merupakan inovasi pada masa awal. Bentuk ini dianggap lebih aman karena lebih pas saat dicolok.

Awalnya, steker di AS hanya memilik dua pin, tanpa pin ground. Teknisi mulai mendiskusikan gagasan bahwa pin ground membuat steker lebih aman pada 1920-an. Banyak negara mengadopsi pin ground ini dengan segera, tapi tidak selalu menjadikannya sebagai standar.

Misalnya, walau AS menggunakan steker ini untuk beberapa peralatan, steker ini tidak menjadi standar untuk penggunaan di rumah hingga 1971.

Jadi karena banyak negara mengadopsi inovasi pada waktu yang berbeda-beda, steker yang mereka gunakan juga berubah seiring waktu.

Saat ini sebagian besar rumah-rumah di seluruh dunia sudah memiliki akses listrik, maka satu steker standar untuk seluruh dunia tentu akan lebih memudahkan ketimbang beragam jenis steker.

Namun, perubahan akan memakan biaya triliunan rupiah bagi negara-negara untuk mengubah stopkontak, mengubah cara membangun, dan bahkan mengubah cara produksi peralatan.

Maka tidak mengejutkan kalau negara-negara lebih suka menggunakan uang untuk hal lain.

Pada dasarnya, semua negara mendukung gagasan satu steker yang sama untuk seluruh dunia, tapi tidak ada yang mau berubah.

Halaman
1234
Ikuti kami di
Editor: Geafry Necolsen
Sumber: Kompas.com
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved