Virus Corona

27 Persen Warga Indonesia Ragu Vaksin Covid-19

survei ini dilakukan pada November 2020, sebelum ada vaksin Covid-19 yang dinyatakan aman dan manjur oleh Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM).

Istimewa
Alasan mereka sangat masuk akal, mengingat survei ini dilakukan pada November 2020, sebelum ada vaksin Covid-19 yang dinyatakan aman dan manjur oleh Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM). 

Sikap dan pengambilan keputusan seseorang untuk berpartisipasi pada program vaksinasi merupakan masalah yang kompleks karena berkelindan dengan permintaan dan akses terhadap pelayanan kesehatan.

Selain itu, fenomena ini sangat sensitif terhadap konteks, bervariasi antar-waktu, tempat, dan jenis vaksinnya. Seseorang bisa saja menolak divaksin polio untuk anaknya misalnya, namun orang yang sama bersedia menerima untuk divaksin Covid-19.

Keputusan seseorang menolak vaksinasi tidak seluruhnya dilandasi alasan yang tidak masuk akal atau bahkan konspiratif.

Misalnya, dari survei Kementerian Kesehatan itu, di kelompok yang menolak sama sekali vaksin (7,6%), mayoritas dari responden (52%) berencana menolak vaksinasi Covid-19 karena tidak yakin atas keamanan dan kemanjurannya.

Alasan mereka sangat masuk akal, mengingat survei ini dilakukan pada November 2020, sebelum ada vaksin Covid-19 yang dinyatakan aman dan manjur oleh Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM). Begitu izin penggunaan darurat sudah turun, logikanya, proporsi yang menolak seharusnya semakin mengecil.

Alasan menerima vs menolak

Secara psikologis, 5C yakni confidence (keyakinan), complacency (kelengahan), convenience (kenyamanan), calculation (hitungan manfaat versus kerugian), dan collective responsibility (tanggung jawab bersama) mempengaruhi keputusan seseorang menolak atau menerima vaksin.

Yang pertama, keyakinan (confidence) mengacu pada keyakinan seseorang terhadap kemanjuran dan keamanan vaksin; sistem kesehatan yang menyediakannya, termasuk kompetensi fasilitas dan tenaga kesehatan; dan motivasi pengambil kebijakan program vaksinasi.

Kedua, kelengahan (complacency), terjadi jika persepsi seseorang mengenai risiko penularan suatu penyakit yang bisa dicegah melalui vaksinasi cenderung rendah. Dengan persepsi ini, vaksinasi tidak dianggap sebagai langkah pencegahan yang penting.

Ketiga, kenyamanan (convenience), yang mencakup keterjangkauan biaya, ketersediaan vaksin, akses terhadap pelayanan kesehatan, pengetahuan dan literasi kesehatan, dan banyak lagi. Kenyamanan merupakan determinan yang paling menonjol dalam menentukan keputusan vaksinasi.

Selanjutnya, keputusan vaksinasi mungkin akan bergantung ada perhitungan manfaat-kerugian (calculation) yang dihasilkan dari evaluasi seseorang atas berbagai informasi yang ia terima mengenai program vaksinasi.

Halaman
1234
Ikuti kami di
Editor: Geafry Necolsen
Sumber: Kompas.com
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved