Memahami D-dimer pada Pasien Covid-19, Apa Sih Itu?

Dahlan Iskan yang seorang penyintas Covid-19 mengaku saat terinfeksi Covid-19 Januari lalu, tingkat D-dimer dalam darahnya mencapai angka 2.600.

istimewa
Pasien virus corona 

Dilansir SehatQ, emboli merupakan penyumbatan pada arteri akibat bekuan darah atau gelembung udara (embolus).

Setiap jaringan dan organ tubuh memerlukan oksigen dalam darah yang diangkut ke seluruh tubuh melalui aliran darah.

Apabila penyediaan darah ke otak, jantung atau paru-paru terhambat, maka organ-organ tersebut akan kehilangan sebagian atau keseluruhan dari fungsinya. Sebab, oksigen yang diperlukan tidak terpenuhi.

Untuk melakukan pengecekan D-dimer, ini hanya bisa dilakukan melalui cek laboratorium.

"Dan hal ini perlu jadi perhatian terhadap pasien Covid-19 dan pasien lain yang penyakitnya menyebabkan hiperkoagulabilitas tersebut.” ucap dokter Koko.

Cara mengontrol D-dimer

Dokter Koko menyarankan agar kita terus menerapkan pola hidup sehat seperti mengonsumsi makanan sehat, tidak makan gorengan, mengontrol konsumsi gula, olahraga rutin, dan tidak merokok.

"Pada pasien yang dirawat yang ditemukan angka D-dimer tinggi, dokter akan melakukan evaluasi berkala dan juga memberikan obat tertentu untuk mengatasi kondisi hiperkoagulabilitas itu," ujar dokter Koko.

Pembekuan darah pada pasien Covid-19

Pembekuan darah menjadi salah satu yang menyebabkan beberapa orang dengan Covid-19 mengembangkan sakit parah.

Hal ini diungkapkan oleh tim peneliti yang menulis di Jurnal Radiology.

Melansir Medical News Today, meskipun belum diketahui secara pasti bagaimana virus SARS-CoV-2 menyebabkan kematian, laporan klinis menunjukkan bahwa orang dengan Covid-19 parah mengembangkan pnemonia, sindrom gangguan pernapasan akut dan kegagalan banyak organ.

Halaman
1234
Ikuti kami di
Editor: Geafry Necolsen
Sumber: Kompas.com
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved