Sains

Sudah Musim Hujan, Kenapa Cuaca Tetap Panas?

Tidak selamanya musim hujan akan mengalami cuaca yang terus menerus diguyur hujan. Sebab, panas yang dirasakan tidak terkait suhu.

istimewa
Tidak selamanya musim hujan akan mengalami cuaca yang terus menerus diguyur hujan. Sebab, panas yang dirasakan tidak terkait suhu. 

Sudah Musim Hujan, Kenapa Cuaca Tetap Panas?

TRIBUNKALTIM.CO - Meski sedang memasuki musim penghujan, namun cuaca di beberapa daerah terasa panas, beberapa hari ini.

Termasuk di wilayah Kalimantan Timur, bahkan Jogjakarta.

 

Kepala Stasiun Klimatologi (Staklim) Yogyakarta, Reni Kraningtyas mengatakan panas yang dirasakan tidak terkait suhu.

Sebab, suhu yang panas maksimal umumnya terjadi pada bulan Oktober dan November.

Ia juga menjelaskan, cuaca yang cenderung cerah atau panas pada pagi dan siang hari itu adalah hal biasa di musim hujan.

Sebab, tidak selamanya musim hujan akan mengalami cuaca yang terus menerus diguyur hujan.

“Tentu, ini ada jedanya, cuaca cerah berawan pada saat tertentu tergantung perkembangan dinamika atmosfer yang berkembang saat ini,” ucapnya ketika dihubungi Tribun Jogja, Minggu (24/1/2021).

Baca juga: Cuaca Esktrem, Berikut Tips Menghindari Sambaran Petir, Jangan Berteduh di Bawah Pohon

Baca juga: Sejumlah Misteri Paling Membingungkan di Dunia, Mulai dari Fenomena Bola Petir hingga Hutan Bengkok

Ditambahkan Reni, cuaca cerah berawan di DIY itu disebabkan beberapa faktor yang mempengaruhi.

“Sebenarnya, suhu udara maksimal tidak terlalu panas, hanya berkisar 30-32 derajat Celcius, namun kelembaban udara pada pagi dan siang hari tidak terlalu tinggi, hanya 50-70 persen,” paparnya lagi.

Sehingga, udara yg tidak terlalu lembab itu tidak cukup mendukung terbentuknya awan-awan hujan.

Di samping itu, berdasarkan streamline tgl 22-23 Januari 2021, terdapat low pressure area, atau pusat tekanan rendah di Laut Cina Selatan, sebelah utara Kalimantan.

Baca juga: Ritual Unik dari Berbagai Negara untuk Mendatangkan Hujan

Baca juga: Musim Hujan Telur-telur Ular Kobra Menetas, Bayi Kobra Tetap Mematikan

Baca juga: Bayi Kobra Sama Bahayanya dengan Induknya, Musim Hujan Telur-telur Ular Kobra Menetas

Sirkulasi siklonik ini menghalangi aliran Monsoon Asia menuju wilayah DIY.

Maka, di DIY bertiup angin dari barat yg bersumber dari Samudera Hindia, barat Sumatera dengan kandungan uap air yang tidak terlalu banyak.

“Kelembaban udara yang tidak terlalu tinggi yang dibawa oleh angin ini menyebabkan awan hujan tidak banyak terbentuk,” tandasnya. 

Editor: Geafry Necolsen

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved