Flora dan Fauna

Musim Hujan Telur-telur Ular Kobra Menetas, Bayi Kobra Tetap Mematikan

Banyak yang bertanya di grup percakapan, kenapa ular kobra muncul di musim penghujan dan bagaimana mengatasinya?

Editor: Geafry Necolsen
istimewa
Meskipun masih bayi, ular kobra sudah memiliki kelenjar bisa yang mampu menghasilkan bisa dan berbahaya bagi manusia 

Musim Hujan Telur-telur Ular Kobra Menetas, Bayi Kobra Tetap Mematikan

TRIBUNKALTIM.CO, WIKI -  Kemunculan ular kobra di tengah pemukiman masih berlanjut.

Mulai dari Jember, Jakarta Timur, Depok, Surakarta, hingga Kalimantan.

Kemunculan ular kobra yang serentak di berbagai daerah pun membuat penasaran masyarakat.

Banyak yang bertanya di grup percakapan, kenapa ular kobra muncul di musim penghujan dan bagaimana mengatasinya?

1. Sedang musim menetas

"Si kobra Jawa atau Naja sputatrix ini, memang di awal musim penghujan adalah musim dia menetas.

Musim kawinnya kemarin saat awal musim kemarau, lalu mereka (ular) sudah bertelur sekitar tiga atau empat bulan lalu," kata Amir Hamidy, peneliti ular dan reptil LIPI.

"Kemudian periode telur kobra menetas antara 70 sampai 90 hari," imbuh dia. Amir menjelaskan, induk kobra langsung pergi setelah dia bertelur.

Tidak ada parental care dalam perkembangbiakan ular kobra. Sekali bertelur, induk kobra dapat menghasilkan 10-20 butir telur dan 80 persennya bisa menetas.

Telur-telur itu diletakkan di lubang tanah atau di bawah daun kering yang lembab. "Jadi induknya pergi, anaknya dibiarkan.

Setelah telur (ular kobra) menetas, anakan ular ini akan menyebar ke mana-mana, termasuk ke pemukiman," jelas Amir.

2. Bisa bayi kobra membahayakan manusia

Ular kobra melumpuhkan mangsanya dengan menggigit dan menyuntikkan bisa pada hewan tangkapan melalui taringnya.

Bisa tersebut dapat melumpuhkan saraf dan otot mangsa hanya dalam beberapa menit saja.

"Meskipun masih bayi, ular kobra sudah memiliki kelenjar bisa yang mampu menghasilkan bisa dan berbahaya bagi manusia," terang Amir.

Pakar Toksonologi dan bisa ular Dr dr Tri Maharani, M.Si SP, mengatakan, bisa ular kobra dominan mengandung mycrotoxin, cardiotoxin, neurotoxin, dan cytotoxin.

"Paling banyak yang menyebabkan kematian di Indonesia karena (kandungan) cardiotoxin dan neurotoxin," ujar Tri.

Lamanya waktu hingga menimbulkan kematian ini tergantung dari banyaknya venom yang masuk ke dalam tubuh.

"Kalau banyak cardiotoxin dan neurotoxin-nya bisa cepat (meninggalnya), bisa beberapa menit sampai jam," kata Tri.

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved