Otomotif

BBM Oktan Tinggi Tidak Selalu Baik untuk Mesin, Chek Buku Manual Kendaraan

Setiap kendaraan telah memiliki hitungan rasio kompresi mesin. Hasil dari hitungan tersebut menentukan jenis BBM yang harus digunakan.

Kompas
Petugas mengisi BBM bersubsidi jenis Premium 

BBM Oktan Tinggi Tidak Selalu Baik untuk Mesin, Chek Buku Manual Kendaraan

TRIBUNKALTIM.CO, WIKI -  Di pasaran, tersedia banyak jenis BBM, mulai dari yang paling murah hingga BBM beroktan tinggi yang harganya mahal.

Lantas, apa sih efek menggunakan BBM dengan oktan lebih tinggi?

Baca juga: Saat Indikator BBM Berada di Posisi E, Berapa Jauh Mobil Bisa Berjalan?

Baca juga: Mengapa Tutup Tangki BBM Mobil Ada yang di Kiri dan Ada yang di Kanan?

Menurut Tri Yuswidjajanto Zaenuri, ahli konversi energi dari Fakultas Teknik dan Dirgantara Institut Teknologi Bandung, mengatakan jika setiap kendaraan telah memiliki hitungan rasio kompresi mesin.

Hasil dari hitungan tersebut menentukan jenis BBM yang harus digunakan.

“Tinggal disesuaikan saja dengan data spek, tapi kalau pakai bahan bakar dengan oktan yang terlalu tinggi justru tidak baik untuk kendaraan yang tidak sesuai,” ujarnya.

Sebagai contoh, mobil dengan rasio kompresi mesin di atas 10:1 harusnya sudah pakai RON 92 atau setara Pertamax.

Itu sebabnya, dirinya juga menyarankan agar pemilik kendaraan membaca buku manual yang diberikan produsen kendaraan.

Di sana tercantum spesifikasi mesin dan juga jenis BBM yang disarankan.

 Agar Tak Cidera, Kenali Ciri-Ciri Ular Berbisa

 8 Cara Mengatasi Gigitan Ular Kobra

Sementara untuk yang di atas 11:1 atau 12:1 tentu harus pakai yang oktan lebih tinggi. Untuk mobil-mobil keluaran tahun 2000-an ke bawah, biasanya rasio kompresi mesin masih rendah.

Sekitar 9:1 ke bawah, dan butuh BBM dengan RON 88 atau setara Premium.

“Kalau mobil lawas dengan kompresi rendah seperti itu, pakai oktan tinggi justru tidak baik. Karena pasti ada sisa-sisa bahan bakar yang enggak terbakar,” kata Yus.

Ia menambahkan, bahan bakar yang tidak terbakar ini bisa saja masuk ke komponen mesin, hingga tercampur dengan oli.

Hal ini tentu bisa berbahaya, apalagi kalau didiamkan dan makin menumpuk. “Lebih baik ikuti anjuran pabrikan, karena mereka yang telah mengatur engine management seperti apa, kompresinya, dan lain-lain,” ucapnya.

Ikuti kami di
Editor: Geafry Necolsen
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved