Sains

Para Ahli Peringatkan Jaringan 5G Bisa Pengaruhi Radar Pesawat Bahkan Picu Kecelakaan

Para ahli menyebutkan jaringan 5G yang menggunakan spektrum frekuensi 3,7 hingga 3,98 GHz dapat menganggu radar pesawat.

istimewa
Para ahli menyebutkan jaringan 5G yang menggunakan spektrum frekuensi 3,7 hingga 3,98 GHz dapat menganggu radar pesawat. 

Para Ahli Peringatkan Jaringan 5G Bisa Pengaruhi Radar Pesawat Bahkan Picu Kecelakaan

TRIBUNTRAVEL.COM - Para ahli di Amerika Serikat menyatakan kekhawatiran mereka akan penggunaan jaringan 5G yang dapat menyebabkan potensi kecelakan pesawat.

Ini dikarenakan jaringan 5G dapat menganggu altimeter radar pesawat dan menyebabkan kecelakaan.

Para ahli menyebutkan jaringan 5G yang menggunakan spektrum frekuensi 3,7 hingga 3,98 GHz dapat menganggu radar pesawat.

 

Dilansir dari laman news.com.au, Kamis (12/11/2020), Menurut Radio Technical Commision for Aeronautics (RTCA) yang memperingatkan Federal Aviation Administration (FAA) di Amerika, operasi 5G pada frekiensi tersebut dapat menganggu altimeter radar pesawat-yang menggunakan frekuensi 4,2 hingga 4,4 GHz.

Baca juga: Bolehkah Melakukan Panggilan Telepon Saat di Pesawat?

Altimeter radar mengukur ketinggian pesawat di atas medan dan potensi risiko lainnya seperti gunung atau bangunan.

Dokumen yang dirilis oleh RTCA telah memperingatkan bahwa 5G bisa menjadi risiko besar bagi pesawat.

tribunnews
Cek sinyal ponsel (PC Advisor)

Laporan tersebut memperingatkan bahwa jaringan 5G dapat berdampak pada operasi penerbangan di pesawat terbang baik di AS maupun di seluruh dunia.

Dengan potensi kegagalan bencana yang menyebabkan banyak kematian, jika tidak ada mitigasi yang sesuai.

RCTA menyatakan, “Hasil yang disajikan dalam laporan ini mengungkapkan risiko besar bahwa sistem telekomunikasi 5G di pita 3,7–3,98 GHz akan menyebabkan interferensi berbahaya pada altimeter radar pada semua jenis pesawat sipil - termasuk pesawat angkut komersial, bisnis, penerbangan regional, dan penerbangan umum; dan helikopter transportasi dan penerbangan umum. "

"Kegagalan sensor-sensor ini dapat menyebabkan insiden dengan hasil bencana," lanjutan isi laporan tersebut.

tribunnews
Ilustrasi pilot duduk di ruang kokpit, Rabu (19/8/2020). (Pixabay/StockSnap)

Mereka telah memperingatkan bahwa diperlukan lebih banyak penelitian tentang masalah ini, baik dari industri penerbangan dan jaringan seluler.

Terry McVenes, Presiden dan CEO RTCA mengatakan, “Kami dengan senang hati mengirimkan informasi teknis ini ke FCC yang memberikan evaluasi kuantitatif kinerja altimeter radar selama gangguan dari emisi 5G yang diharapkan yang digunakan oleh industri nirkabel seluler."

“Pemahaman menyeluruh tentang risiko yang terkait dengan gangguan ini dan dampaknya pada keselamatan penerbangan akan sangat penting dalam menyatukan penerbangan dan regulator spektrum untuk memastikan bahwa sistem penerbangan yang kritis terhadap keselamatan akan terus dilindungi untuk tujuan keselamatan publik,” lanjutnya.

Inggris meluncurkan 5G di seluruh negeri, dengan O2 meluncurkannya ke 100 kota besar.

Namun, China telah meluncurkan apa yang diklaimnya sebagai satelit 6G pertama di dunia yang memasuki orbit.

Bisa jadi 100 kali lebih cepat dari 5G.

Ikuti kami di
Editor: Geafry Necolsen
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved