Lingkungan

Selama Pandemi Covid-19, Apa Terjadi di Antartika?

Antartika memiliki keindahan alam yang begitu memukau, di mana ada gunung es raksasa yang seolah mengapung dengan tenang di sana.

Editor: Geafry Necolsen
istimewa
Antartika memiliki keindahan alam yang begitu memukau, di mana ada gunung es raksasa yang seolah mengapung dengan tenang di sana. 

Meski belum disepakati, langkah keamanan baru kemungkinan mencakup pengurangan kapasitas, pengujian on-board, lebih banyak mencuci tangan, peningkatan jarak sosial dan prosedur yang direvisi pada waktu makan.

Perhatian terbesar bagi semua perusahaan adalah apa yang akan terjadi jika mereka memiliki penumpang yang positif kasus Covid-19.

Meskipun semua kapal pesiar membawa dokter dan fasilitas medis terbatas, mereka tidak diperlengkapi untuk menangani keadaan darurat yang mengancam jiwa.

Dalam situasi seperti itu, pasien biasanya akan dipindahkan ke kapal lain yang sedang menuju kembali ke pelabuhan atau dievakuasi dengan pesawat.

TONTON JUGA:

Alam bisa istirahat dari wisatawan

Tanpa puluhan ribu wisatawan yang berkunjung, risiko masuknya spesies non-asli, habitat yang terinjak-injak, atau daerah alami tercemar akan berkurang.

Saat kapal terdiam, emisi karbon juga berkurang.

Survei Antartika Inggris memperkirakan bahwa melakukan pelayaran Antartika setara dengan emisi 1,5 tahun untuk orang Eropa biasa.

Penguin bebas stres

Survei Antartika Inggris telah meneliti pengaruh pariwisata terhadap hewan Antartika, dengan kamera di koloni penguin untuk mempelajari pola perkembangbiakan.

Satu studi tentang koloni penguin gentoo di Port Lockroy, sebuah situs wisata populer, menunjukkan bahwa jumlah pasangan perkembangbiakan telah menurun 25% selama 21 tahun terakhir.

Tetapi studi lain tentang hormon stres pada penguin guano tidak menemukan perbedaan yang jelas dalam tingkat stres antara penguin yang tinggal di sekitar lokasi pengunjung dan yang tidak.

Sedangkan burung tampaknya telah terhabituasi dengan keberadaan manusia.

tribunnews
Ilustrasi kawanan penguin di Antartika, Sabtu (10/10/2020). (Pixabay/zhrenming)

Perubahan iklim

Masalah yang akan memiliki efek yang jauh lebih besar daripada pandemi pariwisata Antartika adalah perubahan iklim.

Lebih dari 95% pengunjung Antartika melakukan perjalanan ke Semenanjung Antartika, ujung paling utara yang membentang ke arah Amerika Selatan.

Ini adalah wilayah yang juga paling terpengaruh oleh perubahan iklim.

Sejak tahun 1950-an, suhu udara di sekitar semenanjung meningkat 3 derajat celsius, menjadikannya salah satu tempat yang paling cepat menghangat di planet ini.

Pada Februari 2020, daerah itu mencapai rekor hari terpanas yang suhunya capai 18,3 derajat celsius.

Suhu laut juga meningkat, dengan air di sekitar barat semenanjung memanas lebih dari 1 derajat celsiussejak 1955.

Akibatnya, rak es runtuh, gletser menyusut, es laut menurun dan periode bebas es semakin lama.

Semua ini akan berdampak pada industri pariwisata.

Antartika terbuka

Untuk operator tur dan pengunjung, perubahan ini bahkan dapat dilihat sebagai kabar baik.

Saat es mencair, situs baru terbuka dan sebagian benua menjadi lebih mudah diakses.

Rute dan tujuan akan berubah saat area baru tersedia dan saat hewan pindah untuk mencari tempat berkembang biak baru.

Pemanasan kawasan juga berdampak positif pada beberapa satwa liarnya.

Jumlah beberapa spesies paus termasuk paus bungkuk dan paus sikat selatan meningkat, sementara populasi penguin gentoo juga meningkat.

Tapi bagi jumlah penguin adelie dan chinstrap menurun, dan para ilmuwan sangat mengkhawatirkan penguin kaisar karena mereka mengandalkan es laut untuk berkembang biak.

Saat es menyusut, mereka harus melakukan perjalanan semakin jauh ke selatan untuk mencapai tempat berkembang biak yang sesuai, dan akhirnya mereka tidak punya tempat tujuan.

tribunnews
Antartika (pixabay.com/Eknbg)

Waktu untuk memobilisasi

Salah satu efek pandemi yang membuat para ilmuwan optimis adalah seberapa cepat negara-negara dapat bergerak dalam menghadapi krisis.

“Covid telah menjadi pelajaran yang bagus tentang seberapa cepat kita bisa membuat perubahan ketika kita benar-benar membutuhkannya,” kata Hughes.

“Namun sayangnya, saat ini perubahan iklim masih terlalu jauh untuk dilihat orang. Untuk membuat perbedaan nyata, pemerintah perlu membuat perubahan kebijakan yang drastis. Covid-19 telah membuktikan bahwa kita dapat melakukan perubahan itu," katanya.

"Jika pandemi ini dapat menyatukan pemerintah untuk memperkuat perlindungan Antartika dan meningkatkan penelitian, itu akan menjadi lapisan peraknya," terusnya.

Melihat ke masa depan

Pariwisata Antartika telah berkembang pesat selama beberapa tahun terakhir, tetapi para ahli berharap bahwa pandemi akan memberi operator tur kesempatan untuk mengambil langkah mundur dan memikirkan kembali.

"Jeda yang diberlakukan memberikan ruang untuk percakapan tentang seperti apa masa depan pariwisata Antartika yang kami inginkan," kata Jane Rumble OBE, Kepala Wilayah Kutub di Kantor Luar Negeri, Persemakmuran & Pembangunan Inggris.

"Pertumbuhan eksponensial dalam jumlah pariwisata akan berdampak pada pengalaman alam liar. Kita perlu memikirkan masa depan yang ingin kita lihat. Pembicaraan perlu mempertimbangkan apakah harus ada batasan di masa depan mengenai jumlah pariwisata, atau jenis kegiatan pariwisata. Kami sekarang memiliki kesempatan besar untuk menarik napas dan mencari tahu seperti apa tampilan semua ini dalam 10-20 tahun," tuturnya.

"Kami percaya bahwa pariwisata dapat memberikan dampak positif," kata Lynnes.

"Karena orang-orang yang mengunjungi [Antartika] benar-benar belajar untuk mencintai dan menghargainya dan itu menyebarkan pemahaman tentang mengapa sangat penting untuk melindunginya ke dunia yang lebih luas," pungkasnya.

Catatan Redaksi: Bersama kita lawan virus corona. TribunTravel.com mengajak seluruh pembaca untuk selalu menerapkan protokol kesehatan dalam setiap kegiatan. Ingat pesan ibu, 3M (Memakai masker, rajin Mencuci tangan, dan selalu Menjaga jarak).

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved