Sejarah

Radya Pustaka di Kota Solo, Museum Tertua di Indonesia

Selain kulinernya, Solo juga memiliki sejumlah tempat wisata yang menarik untuk dikunjungi.

Tribunnews
Museum Radya Pustaka. Selain kulinernya, Solo juga memiliki sejumlah tempat wisata yang menarik untuk dikunjungi. 

Sejarah Radya Pustaka di Kota Solo, Museum Tertua di Indonesia

TRIBUNTRAVEL.COM - Kota Surakarta atau yang lebih dikenal dengan Kota Solo merupakan salah satu detinasi tujuan di Jawa Tengah.

Mendengar nama Solo, tentu wisatawan identik dengan berbagai kuliner lezat di kota tersebut.

Namun selain kulinernya, Solo juga memiliki sejumlah tempat wisata yang menarik untuk dikunjungi.

Melansir pariwisatasolo.surakarta.go.id, Museum Radya Pustaka dibangun oleh Kanjeng Raden Adipati Sosrodiningrat IV pada masa pemerintahan Raja Surakarta saat itu, Pakubuwono IX di Dalem Kepatihan pada tanggal 28 Oktober 1890.

Baca juga: Pesawat Pertama Buatan RI, N250 Gatotkaca Dimuseumkan, Apa Alasannya?

Baca juga: Museum - museum Unik yang Ada di Indonesia

Baca juga: Museum Arak Bali Mulai Dibangun Tahun 2020 Ini

Adapun, pendiri museum pernah menjabat sebagai patih Pakubuwono IX dan raja selanjutnya, yakni Pakubuwono X.

Lokasi museum dulunya tidak berada di samping Jalan Slamet Riyadi Kota Solo.

Dari Dalem Kepatihan, Museum Radya Pustaka dipindah ke lokasi yang sekarang ini pada 1 Januari 1913.
Lokasi museum berada di samping Taman Sriwedari yang merupakan pusat hiburan warga Solo tempo dulu.

Gedung yang sekarang menjadi Museum Radya Pustaka dulunya merupakan kediaman seorang warga Belanda bernama Johannes Busselaar.

Sementara itu, menurut Indonesia.go.id, Museum Radya Pustaka menyimpan sejarah kerajaan Mataram Kuno dan Mataram Islam.

Di sana, ada pula koleksi bersejarah, seperti arca, manuskrip, buku, pusaka, dan wayang kulit kuno.

tribunnews
Pameran naskah kuno Ronggowarsito di Museum Radya Pustaka, Rabu (12/10/2016). (Tribun Solo/Eka Fitriani)

Terdapat patung seorang pujangga Keraton Surakarta pada abad ke-19 bernama Raden Ronggowarsito yang ada di halaman Museum Radya Pustaka.

Ia bisa jadi merupakan inisiator pengumpul artefak di museum karena predikatnya sebagai orang pintar atau pujangga di zamannya.

Adapun, dilansir dari kebudayaan.kemdikbud.go.id, penetapan Hari Museum Nasional berawal acara Musyawarah Museum se-Indonesia (MMI) di Yogyakarta pada 12-14 Oktober 2020.

Penetapan hari nasional yang jatuh setiap 12 Oktober itu terjadi saat Musyawarah Museum se-Indonesia (MMI) di Kota Malang, Jawa Timur, Selasa-Kamis (26-28 Mei 2015).

Ikuti kami di
Editor: Server
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved