Fakta Unik

Negara Ini Melarang Warganya Punya Mobil Berwarna Hitam, Apa Alasannya?

Kebijakan tersebut juga diberlakukan karena menurut pemerintah kebanyakan kecelakaan adalah para pengendara dengan mobil berwarna hitam.

istimewa
Ilustrasi. Mobil hitam. Dua tahun lalu, negara ini juga telah melarang import mobil dengan warna hitam. 

Negara Ini Melarang Warganya Punya Mobil Berwarna Hitam, Apa Alasannya?

TRIBUNTRAVEL.COM - Melintasi jalan-jalan, serentetan mobil silih berganti lalu-lalang di sana.

Dari sekian banyak mobil yang lewat, warna hitam, silver, dan putih jadi pendominan.

Tiga warna ini dikenal netral sehingga penjualnnya pun lebih banyak.

Siapa saja yang nekat menggunakannya berarti siap pula untuk kena tilang. 

Berbeda dengan penilangan di Indonesia, di negara tersebut akan menarik mobil berwarna hitam dengan ditarik biaya pengecatan ulang yang akan diurus oleh pihak kepolisian.

Kemudian mobil akan dikembalikan pada pemilik setelah dicat ulang sesuai peraturan pemerintah yang berlaku. 

Hal ini terkait oleh kebijakan pemerintah setempat terutama presiden Gurbanguly Berdymukhammedov yang merupakan pecinta putih.

Tak hanya karena sang presiden menyukai warna putih, kebijakan tersebut juga diberlakukan karena menurut pemerintah kebanyakan kecelakaan adalah para pengendara dengan mobil berwarna hitam.

Dua tahun lalu, negara ini juga telah melarang import mobil dengan warna hitam. 

Warna putih dipilih untuk menjadi rekomendasi pengecatan mobil karena presiden secara pribadi mengangap warna tersebut merupakan simbol keberuntungan.

Peraturan tersebut mulai efektif pada awal tahun 2018, khususnya pada bulan Januari ini. 

Tindakan pelarangan ini kemudian mendapat banyak kecaman dari para aktivis HAM yang menganggap bahwa pelarangan menggunakan mobil berwarna hitam termasuk tindakan yang menyalahi HAM. 

Selain itu, banyak masyarakat yang merasa keberatan dengan biaya besar pengecatan ulang di mana mereka harus merogoh sekitar 7,000 manats atau Rp 27 juta, sedangkan rata-rata pendapatan warga hanya sekitar1,000 manats atau Rp 3,8 juta perbulan. 

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved