Internasional

Ikut Jejak AS Jegal Huawei, China Balas Perlakuan Inggris dan Uni Eropa

China pun menargetkan Nokia dan Sony Ericsson sebagai balasan atas sikap Uni Eropa tersebut.

Editor: Geafry Necolsen
Shutterstock
Ilustrasi: Produk buatan China 

Ikut Jejak AS Jegal Huawei, China Balas Perlakuan Inggris dan Uni Eropa

TRIBUNKALTIM.CO - Ikut Amerika Serikat jegal Huawei, China balas perlakuan Inggris dan Uni Eropa, Nokia - Sony Ericsson jadi target.

Perang dagang antara Amerika Serikat dan China kini merembet ke Inggris dan Uni Eropa.

Kini, Inggris dan Uni Eropa ikutan menolak kehadiran Huawei, raksasa teknologi asal China.

Perang dagang antara China dan Amerika Serikat (AS) berujung pada nasib Huawei.

Raksasa teknologi asal China itu berkali-kali dihambat oleh kebijakan Amerika Serikat, akibat sentimen Presiden Donald Trump terhadap pemerintahan China saat ini.

Tak hanya di Amerika Serikat, China kini juga menghadapi risiko hambatan serupa di benua Eropa.

Beberapa negara barat sekutu Amerika Serikat di benua biru tersebut kini mulai mewacanakan dan bahkan sudah melakukan pembatasan terkait ekspansi Huawei di negara mereka.

Sebagai respons, kini China tengah mempertimbangkan melakukan pembalasan bila Uni Eropa mengikuti jejak Amerika Serikat (AS) dan Inggris melarang Huawei Technologies dari proyek 5G di negara-negara mereka.

China disebut tengah membidik perusahaan telekomunikasi Nokia dan Ericsson bila Uni Eropa membatasi Huawei, seperti dilaporkan Wall Street Journal yang mengabarkan tentang masalah ini.

Mengutip pemberitaan Reuters, Inggris pekan lalu memerintahkan operator telekomunikasi untuk tidak membeli komponen 5G dari Huawei mulai akhir tahun ini dan menghapus semua peralatan yang ada yang dibuat oleh raksasa telekomunikasi China dari jaringan 5G pada tahun 2027.

Produsen alat telekomunikasi Ericsson dari Swedia dan Nokia dari Finlandia merupakan di antara penerima manfaat paling cepat atas kampanye yang dipimpin AS melawan Huawei.

Kementerian Perdagangan China saat ini sedang mencari kontrol ekspor yang akan mencegah Nokia dan Ericsson mengirim produk yang dibuatnya di China ke negara lain.

Pembalasan itu akan menjadi skenario terburuk yang akan digunakan Beijing hanya jika negara-negara Eropa menyerang pemasok China dan melarang mereka dari jaringan 5G, mengutip laporan dari Journal.

UE sejauh ini tidak merekomendasikan larangan terhadap Huawei, tetapi telah mengeluarkan apa yang disebut "kotak peralatan" standar keamanan yang harus diterapkan oleh negara-negara anggota saat menggunakan pemasok yang dianggap berisiko tinggi untuk membangun jaringan 5G.

Pembatasan Huawei oleh Amerika Serikat

Amerika Serikat kini mulai melunakkan sentimen mereka terdahap China, termasuk di bidang ekonomi bisnis.

Amerika Serikat berencana mengubah larangannya kepada perusahaan di negaranya yang melakukan bisnis dengan Huawei, China, untuk memungkinkan mereka bekerja bersama dalam pengaturan standar untuk jaringan 5G.

Sebelumnya, Huawei akan benar-benar diblokir total untuk berekspansi ke Amerika Serikat. Namun, kondisi ekonomi terkini AS membuat mereka sedikit melunak, meski tetap saja membatasi Huawei.

Menurut pemberitaan kepada Reuters, Departemen Perdagangan AS dan badan-badan lainnya menandatangani perubahan peraturan tersebut dan sedang menunggu publikasi dalam Daftar Federal.

Amandemen itu muncul setahun setelah AS menempatkan Huawei ke dalam "daftar entitas" Departemen Perdagangan, sehingga membatasi penjualan barang dan teknologi Amerika kepada perusahaan itu terkait masalah keamanan nasional.

Sebelumnya, China siap memperlakuan Amerika Serikat dengan menempatkan perusahaan asal negeri itu dalam "daftar entitas yang tidak bisa dipercaya".

Ini sebagai bagian dari tindakan balasan terhadap langkah Washington yang memblokir pengiriman semikonduktor ke Huawei Technologies.

The Global Times mengutip sumber melaporkan pada 15 Mei lalu, langkah-langkah China tersebut termasuk meluncurkan penyelidikan dan memaksa pembatasan pada perusahaan AS, seperti Apple Inc, Cisco Systems Inc, dan Qualcomm Inc, serta menangguhkan pembelian pesawat Boeing Co.

Pada Mei, Departemen Perdagangan AS mengatakan, telah mengubah aturan ekspor yang "secara strategis menargetkan semikonduktor Huawei yang merupakan produk langsung dari perangkat lunak dan teknologi AS tertentu"

China Incar Apple, Boeing

China dikabarkan telah menargetkan sejumlah raksasa teknologi Amerika Serikat (AS) untuk membalas perlakuan AS terhadap Huawei.

Negara yang dipimpin oleh Presiden Donald Trump itu diketahui telah melakukan pembatasan baru terhadap raksasa telekomunikasi asal China itu.

Dikutip dari laman Russia Today, Minggu (17/5/2020), AS memang tengah berupaya untuk menyingkirkan perusahaan tersebut dari pasokan semikonduktor global.

Saat ketegangan antara dua ekonomi terbesar di dunia itu terus meningkat, Departemen Perdagangan AS mengumumkan pada Jumat lalu bahwa mereka telah mengubah aturan ekspor dan Daftar Entitas.

Ini 'secara khusus dan strategis' menargetkan akuisisi semikonduktor Huawei yang merupakan produk langsung dari perangkat lunak tertentu dan teknologi AS.

Media pemerintah China bereaksi cepat terhadap pembatasan baru yang diberlakukan pada pasokan teknologi utama bagi perusahaan domestiknya ini.

Menurut Global Times, China siap untuk menempatkan perusahaan-perusahaan AS pada apa yang disebut sebagai 'daftar entitas yang tidak dapat diandalkan'.

Selain itu, negara yang dipimpin Presiden Xi Jinping itu juga akan meluncurkan penyelidikan terhadap Qualcomm, Cisco dan Apple di bawah Tinjauan Cybersecurity dan Undang-undang (UU) Anti Monopoli.

Laporan itu menambahkan pula bahwa perusahaan-perusahaan tersebut kemungkinan akan menghadapi beberapa pembatasan.

Namun terkait rincian batasannya, belum ada laporan lebih lanjut.

China juga berencana menangguhkan pembelian pesawat keluaran AS, Boeing.

Ini bisa menjadi pukulan besar bagi produsen dirgantara kebanggaan AS itu lantaran mereka saat ini tengah menghadapi kerugian besar akibat krisis yang disebabkan virus corona (Covid-19).

Perlu diketahui, pembatasan terbaru yang diterapkan Departemen Perdagangan AS mewajibkan produsen semikonduktor asing yang menggunakan perangkat lunak dan teknologi AS untuk terlebih dahulu memperoleh lisensi dari pejabat AS, sebelum mengirimkan produknya ke Huawei.

Pada saat yang sama, larangan itu disebut tengah menargetkan chip yang dirancang untuk Huawei, yang tentunya membutuhkan lisensi serupa.

Huawei memang telah lama menjadi sasaran AS karena dugaan hubungan baik yang terjalin antara perusahaaan itu dengan pemerintah China.

Tuduhan ini berulang kali dibantah perusahaan tersebut.

Di sisi lain, AS menganggap Huawei sebagai ancaman bagi keamanan nasional.

AS juga telah mendorong sekutunya untuk menyingkirkan teknologi Huawei, terutama jaringan 5G dari negara mereka.

Tahun lalu, administrasi Trump melarang perusahaan AS melakukan bisnis dengan Huawei.

Namun telah memberikan lisensi sementara untuk memfasilitasi dukungan bagi perangkat keras yang ada, dengan pembaruan perangkat lunak sejak saat itu.

Sumber: Tribun Kaltim

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved