Virus Corona

Efek Samping Vaksin Virus Corona Buatan Rusia, yang Siap Diluncurkan Bulan Agustus 2020

Rusia dikabarkan siap meluncurkan vaksin virus Corona dalam waktu dekat.

Editor: Geafry Necolsen
Tribun Kaltim
Ilustrasi pemberian vaksin 

Dia lebih lanjut menambahkan produksi massal yang sama oleh pembuat obat pada September 2020.

Sebagai catatan, WHO masih mencantumkan kandidat vaksin Rusia dalam fase 1 uji klinis dan agar setiap vaksin disetujui untuk diproduksi skala besar, perlu menjalani tiga fase uji coba manusia.

Vaksin Virus Corona Hampir Siap, Negara Mana yang Bakal Dapat untuk Pertama Kali?

 Pandemi virus Corona kini menyebar di hampir seluruh dunia.

Banyak pihak kemudian berlomba-lomba untuk menciptakan vaksin penangkal covid-19.

beberapa diantaranya bahkan sudah hampir siap untuk diproduksi secara massal.

Beberapa kandidat vaksin virus corona sudah berada dalam tahap terakhir pada uji coba terhadap manusia.

Kandidat vaksin lainnya juga menyusul.

Namun, siapa yang akan mendapatkan vaksin pertama kali saat vaksin siap masih belum terlihat.

Seperti yang dilansir South China Morning Post, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), dan para pemimpin politik seperti Presiden Prancis Emmanuel Macron, Kanselir Jerman Angela Merkel dan Presiden Tiongkok Xi Jinping, semuanya menyerukan vaksin Covid-19 sebagai barang publik secara global.

Namun pada kenyataannya, banyak negara melakukan kesepakatan dengan perusahaan farmasi untuk memastikan mereka lah yang pertama kali mendapatkan vaksinnya terlebih dahulu.

Salah satu vaksin potensial telah dikembangkan oleh para peneliti di Universitas Oxford dan dilisensikan ke AstraZeneca, yang diharapkan akan tersedia untuk warga Inggris pada bulan September.

Pemerintah Inggris mencapai kesepakatan dengan pengembang bulan lalu untuk mendapatkan 30 juta dosis untuk kloter pertama dan 70 juta dosis tambahan kemudian.

Pemerintah Amerika Serikat juga membantu pendanaan pengembangan vaksin itu.

Sebagai imbalannya, mereka akan menerima 300 juta dosis vaksin.

Awal bulan Juni, Perancis, Jerman, Italia dan Belanda membentuk Aliansi Vaksin Inklusif untuk mempercepat proses pengembangan.

Mereka ingin perusahaan farmasi setuju bahwa produk apa pun yang dikembangkan, nantinya dapat diakses, tersedia, dan terjangkau di seluruh Uni Eropa.

Kanada, Brasil dan Uni Emirat Arab, yang setuju untuk menjadi tuan rumah uji coba fase 3 untuk vaksin yang dikembangkan oleh tiga perusahaan China, mungkin juga akan mendapatkan keuntungan.

Sebab, pemerintah mereka berusaha untuk mengamankan kesepakatan untuk memiliki vaksin, untuk nantinya diproduksi dan didistribusikan secara lokal.

3 Perusahaan farmasi China, yaitu CanSino Biologics, Sinovac Biotech dan China National Biotec Group, semuanya harus menemukan negara tuan rumah untuk menguji vaksin mereka.

Sebab, sangat sedikit kasus virus corona aktif di China pada saat mereka siap untuk pengujian.

Tetapi tidak semua orang mengira kesepakatan dua arah adalah yang terbaik untuk publik.

"Vaksin Covid-19 melibatkan pengembangan, pembuatan, pengadaan, dan administrasi."

"Saya pikir hal pertama yang harus dihindari dalam proses ini adalah nasionalisme vaksin," kata Zhang Li, direktur untuk inovasi strategis dan investor baru di Gavi, Aliansi Vaksin.

"Jika setiap negara terburu-buru untuk menandatangani perjanjian bilateral dengan semua produsen saat ini, itu pasti akan mengarah pada situasi di mana negara-negara berpenghasilan rendah atau negara-negara tanpa sumber daya tidak akan mendapatkan vaksin, terutama pada tahap awal."

Zhang mengatakan ada juga tantangan untuk membuat vaksin terjangkau.

"Yang paling penting adalah bagaimana mengintegrasikan kebutuhan keseluruhan semua negara, dan mengintegrasikan kapasitas produksi produsen untuk melakukan perencanaan dan distribusi makro, yang mungkin lebih baik daripada bilateral, kerja sama searah," katanya.

Sementara itu Li Yinuo, direktur kantor negara Bill & Melinda Gates Foundation, mengatakan bahwa teknologi akan menjadi kunci dalam menyelesaikan konflik kepentingan dalam memenuhi permintaan domestik serta membuat vaksin dapat diakses dan terjangkau bagi semua orang.

"Tidak semua orang harus diimunisasi dalam sehari," katanya.

"Program-program dapat dilaksanakan secara bertahap sesuai dengan kebutuhan."

"Dimulai dengan mereka yang paling berisiko, seperti orang tua dan pekerja perawatan kesehatan."

"Ini adalah tantangan yang bergantung pada kemajuan teknologi untuk menyelesaikannya."

"Kami telah melihat beberapa teknologi dapat mencapai kapasitas produksi tinggi dalam waktu yang relatif terkendali."

 2 Kali Uji Coba Pada Manusia, Vaksin Corona Buatan China Tunjukan Hasil Positif

Salah satu negara yang tengah berusaha menemukan vaksin virus Corona adalah China 

Vaksin Covid-19 unggulan dari China telah menyelesaikan uji coba tahap satu dan dua pada manusia.

Hasil uji coba menunjukan aman dan dapat menghasilkan respon kekebalan pada subjek yang diuji.

Hal itu disampaikan oleh pengembang vaksin dari China National Biotec Group (CNBG), Selasa, (16/6/2020).

 Kandidat vaksin yang dikembangkan oleh anak perusahaan CNBG, Institut Produk Biologi Wuhan ini, memulai uji coba manusia di provinsi Henan pada bulan April lalu.

Uji coba tersebut diinokulasi dengan dosis rendah, sedang dan tinggi kepada relawan berusia 18 hingga 59 tahun.

CNBG menyatakan, para relawan diberikan suntikan kedua dua minggu, tiga minggu atau empat minggu kemudian untuk mempelajari respon keamanan dan kekebalan vaksin.

Sebanyak 1.120 sukarelawan telah diberikan vaksin virus yang menyebabkan Covid-19.

Perusahaanitu juga mengatakan studi miliknya sejauh ini menunjukkan hasil vaksin itu aman tanpa kecelakaan atau efek samping yang parah.

"Tingkat antibodi yang tinggi telah diinduksi di antara program inokulasi yang berbeda dan dalam kelompok dosis yang berbeda," ujar perusahaan tersebut, dikutip Tribunnews dari SCMP.

"Program inokulasi sukarelawan dengan dua dosis empat minggu terpisah diinduksi antibodi menetralkan (menghalangi patogen dari menginfeksi sel manusia) di semua subjek uji," lanjutnya.

Mereka mengklaim penelitian ini adalah uji klinis pertama di dunia untuk mendapatkan data keamanan dan efektifitas dari vaksin Covid-19 dua dosis yang tidak aktif.

"Penelitian ini juga melibatkan periode terpanjang, data paling komprehensif dan hasil penelitian klinis paling memuaskan dari uji klinis vaksin Covid-19," ujar mereka.

Mereka menyatakan akan secara aktif memajukan uji klinis fase tiga di luar negeri.

Lebih lanjut, perusahaan itu telah mencapai "niat kerjasama" dengan perusahaan dan lembaga di berbagai negara.

China memiliki lima vaksin yang sedang dalam studi klinis.

Adapun empat vaksin tidak aktif dan satu lagi menggunakan teknologi vaksin vektor virus berbasis adenovirus.

Anak perusahaan CNBG kedua, Institut Produk Biologis Beijing, juga memiliki kandidat vaksin yang menjalani uji klinis.

CNBG telah membangun fasilitas dengan tingkat keamanan hayati yang tinggi untuk memproses virus yang sangat patogen untuk produksi vaksin.

Kedua pabrik akan memiliki kapasitas produksi tahunan gabungan dari 200 juta hingga 220 juta dosis.

 

Pengumuman CNBG datang hanya beberapa hari setelah pengembang vaksin Cina lainnya, Sinovac Biotech dari Beijing, mengatakan kandidat vaksin Covid-19 eksperimentalnya menginduksi antibodi penetralisasi pada relawan "di atas 90 persen" setelah menerima dua suntikan, dua minggu terpisah, dalam fase satu dan fase dua.

Sinovac juga mengatakan vaksinnya aman dan tanpa efek samping yang serius.

Sinovac menuturkan akan menyerahkan laporan studi klinis dan protokol studi klinis fase dua kepada regulator obat China, Administrasi Produk Medis Nasional, dan mengajukan permohonan uji klinis fase tiga di luar China.

Perusahaan tersebut mengumumkan sebelumnya mereka telah mencapai kesepakatan dengan Instituto Butantan di Brazil untuk mempersiapkan dan melakukan studi klinis fase tiga.

Sumber: Tribun Kaltim

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved