Virus Corona

IDI Khawatir Herd Immunity Dikembangkan dalam New Normal, Pemerintah Terlalu Cepat Menyampaikan

Menurutnya, pandemi Virus Corona memang tidak mungkin berakhir dalam waktu dekat. Tidak hanya secara nasional, melainkan juga secara dunia.

Editor: Geafry Necolsen
Tribunnews
Petugas mengenakan masker dan hazmat suit sebelum melakukan evakuasi WNI yang tiba dari Wuhan di lokasi observasi Hangar Lanud Raden Sajad, Natuna, Kepri, Minggu (2/2/2020) 

IDI Khawatir Herd Immunity Dikembangkan dalam New Normal, Pemerintah Terlalu Cepat Menyampaikan

TRIBUNKALTIM.CO - Ikatan Dokter Indonesia atau IDI merespons pola hidup new normal yang didengungkan Presiden Joko Widodo atau Jokowi, baru-baru ini.

Hal ini diungkapkan Ketua Umum Terpilih Pengurus Besar IDI, dr Moh Adib Khumaidi dalam program AIMAN Kompas TV yang bertajuk "Sinyal Pelonggaran PSBB?".

Dalam program tersebut, hadir pula Menteri Jokowi, Suharso Monoarfa yang menjabat sebagai Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional.

Menurutnya, pandemi Virus Corona memang tidak mungkin berakhir dalam waktu dekat.

Tidak hanya secara nasional, melainkan juga secara dunia.

 

Dirinya juga tidak menampik soal akan menghadapi new normal dengan cara hidup berdampingan di tengah Corona.

"Jadi memang kita akan dihadapkan nanti pada sebuah kondisi yang seperti itu," ujar Adib Khumaidi.

"Artinya bahkan tidak mungkin satu tahun ke depan, kita akan berhadapan atau di dalam sebuah kehidupan yang seperti itu," jelasnya.

Meski begitu, kemungkinan tersebut seharusnya belum dikatakan pada saat sekarang.

Karena saat ini semuanya sedang berjuang untuk melawan Virus Corona.

"Tetapi kalau sekarang, kita terlalu cepat kalau mengatakan bahwa kita harus masuk ke new normal," kata Adib Khumaidi.

"Karena ini yang sangat berbahaya, kemudian kalau ada teori herd immunity yang kemudian dikembangkan di dalam new normal ini," tegasnya.

Maka dari itu, tugas pemerintah yang harusnya dilakukan pada saat ini adalah memikirkan bagaimana langkah bijak yang harus dilakukan.

Memastikan setiap langkah yang dilakukan mampu memberikan dampak efektif untuk mencegah penularangan Virus Corona.

"Oleh karena itulah, maka yang pertama tentunya adalah tetap kita harus buat indikator dan kriteria yang berbasis pada data penanganan covid secara medis dan epidemologis untuk bisa mengatakan bahwa interfensi yang kita lakukan berhasil atau tidak," terangnya.

"Strategi yang kita lakukan sudah tepat atau tidak," pungkasnya.

Simak videonya mulai menit ke- 44.27:

IDI Tanggapi Aksi 'Indonesia Terserah'

Sebelumnya, Ketua Umum Terpilih Ikatan Dokter Indonesia ( IDI), Mohammad Adib Khumaidi juga sempat buka suara soal aksi 'Indonesia Terserah' yang dilakukan oleh para tenaga medis.

Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved