Virus Corona

CIA Tuduh China dan WHO Bekerja Sama Menimbun Peralatan Medis Sebelum Corona Mewabah

Laporan CIA menyebutkan Presiden Xi Jinping sendiri yang menekan Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus.

Editor: Geafry Necolsen
AFP
Sekretaris Jenderal Badan Kesehatan Dunia (WHO) Dr Tedros Adhanom Ghebreyesus. Laporan CIA menyebutkan Presiden Xi Jinping sendiri yang menekan Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus 

CIA Tuduh China dan WHO Bekerja Sama Menimbun Peralatan Medis Sebelum Corona Mewabah

TRIBUNKALTIM.CO - Kabar terbaru, Intelijen Amerika Serikat CIA bongkar aksi diam-diam Presiden China Xi Jinping dan Bos WHO soal Kasus Virus Corona alias covid-19.

Setelah FBI membuat tudingan China kerahkan hacker guna mencuri data vaksin covid-19 milik Amerika Serikat, CIA ikut-ikutan menyerang negeri Xi Jinping.

Badan Intelijen Pusat Amerika Serikat ( CIA ) meyakini, China berusaha menghalangi Badan Kesehatan Dunia ( WHO ) mengumumkan Virus Corona sebagai wabah.

Sebab, berdasarkan laporan yang diungkap dua sumber Intelijen, Negeri "Panda" saat itu tengah menimbun peralatan medis dari seluruh dunia.

Dalam pemberitaan yang dipublikasikan Newsweek, disebutkan China mengancam tidak akan bekerja sama dalam investigasi Virus Corona jika WHO mengumumkannya sebagai wabah.

Ini adalah laporan kedua dari telik sandi negara Barat, dan berpotensi memanaskan hubungan dengan China di tengah pandemi yang membunuh hampir 295.000 orang di Bumi ini.

laporan pertama China terhadap Beijing itu dibuat oleh Intelijen Jerman, dan dimuat oleh harian ternama setempat, Der Spiegel pekan lalu.

Dilansir Selasa (12/5/2020), laporan itu menyebutkan Presiden Xi Jinping sendiri yang menekan Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, pada 21 Januari.

Badan kesehatan di bawah PBB itu membantah sudah diintervensi, berdasarkan keterangan dari juru bicara Christian Lindmeier.

Namun, dia menolak menjawab terkait pertanyaan apakah Beijing berupaya menunda atau mungkin mengubah pengumuman Kepedulian Internasional mengenai Darurat Kesehatan Masyarakat (PHEIC).

Lindmeier menerangkan, selama wabah, organisasinya bergerak berdasarkan mandat mereka yang merujuk kepada bukti ilmiah untuk melindungi warga dunia.

"WHO mendasarkan rekomendasinya berdasarkan sains, data, nasihat pakar independen, maupun penerapan dari kesehatan publik," tegas Lindmeier.

Dia menegaskan, Dr Tedros tidak bertemu Xi Jinping pada 21 Januari, melainkan 28 Januari di Beijing.

Dalam agenda itu, mereka tidak membahas mengenai PHEIC.

Berdasarkan pernyataan dari sumber Intelijen Amerika Serikat, dirinya tidak bisa menekankan apakah Presiden China, Xi Jinping memainkan peranan dalam menekan organisasi kesehatan itu.

Ketika WHO mengumumkan darurat kesehatan publik pada 30 Januari, keputusan tersebut menuai kemarahan dari sebagian negara Barat.

Termasuk Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang menyebut badan itu " China - sentris", dan kemudian memutuskan membekukan penadanannya pada Maret.

Pada saat itu, Tedros menjelaskan bahwa pengumuman tersebut bukanlah bentuk ketidakpercayaan kepada China terkait penanganan wabah.

"Malah pada kenyataannya, kami terus menaruh kepercayaan terhadap China mampu mengatasi wabah yang bergulir," ujar pejabat dari Etiopia itu.

Kepada politisi dari Partai Republik, Donald Trump menuding organisasi kesehatan itu seakan menjadi organ China, dan bakal memutuskan seperti apa kelanjutan kooperasi Washington.

Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR
1217 articles 182 0

Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.


Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved