Ekonomi

Penjualan Properti Anjlok 43 Persen, 30 Juta Pekerja Berpotensi Kena PHK

Pandemi Corona bukan saja mempengaruhi sisi kesehatan tetapi juga berimbas ke sektor sosial ekonomi masyarakatnya.

Editor: Geafry Necolsen
Tribun Kaltim
Ilustrasi. Proyek pembangunan perumahan 

Penjualan Properti Anjlok 43 Persen, 30 Juta Pekerja Berpotensi Kena PHK

TRIBUNKALTIM.CO - Pandemi Corona mendera berbagai negara, tidak kecuali negara Indonesia, beberapa provinsinya mengalami wabah covid-19

Pandemi Corona bukan saja mempengaruhi sisi kesehatan tetapi juga berimbas ke sektor sosial ekonomi masyarakatnya. 

Satu di antaranya, sisi ekonomi dunia properti. Kalangan pengusaha merasakan berat untuk menjalankan roda bisnisnya di bidang properti kala wabah covid-19 ini. 

Menurut mereka, industri properti Indonesia dinilai masih memiliki peluang untuk berkembang jika diberikan porsi yang seimbang oleh pemerintah.

Porsi seimbang yang dimaksud oleh Kadin, Apindo dan REI adalah kebijakan yang terintegrasi untuk pendanaan, perijinan dan pertanahan, perpajakan, kepemilikan properti, dan lain sebagainya.

Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Properti, Hendro Gondokusumo mengatakan kedudukan sektor properti yang berkaitan erat dengan sektor lain (backward linkage) dan mempengaruhi pertumbuhan sektor lain (forward linkage), menjadikan sektor properti memiliki peran sentral pada pembangunan.

 “Dari 175 sektor industri yang bergerak dengan keterkaitan langsung dan tidak langsung dengan sektor properti, industri properti memiliki pangsa jumlah permintaan akhir 33,9 persen sehingga ini yang menjadikan industri properti sebagai lokomotif pertumbuhan ekonomi nasional,” ungkap Hendro dalam konferensi pers virtual, Kamis (14/5/2020).

Menurutnya, angka itu menunjukkan multiplier effect yang tinggi di mana jika sektor properti meningkat akan memiliki dampak langsung pada 33,9 persen sektor yang berkaitan.

"Kami harapkan ke depan sektor ini mendapat perhatian lebih, apalagi berkaitan langsung tidak hanya dengan karyawan saja, tetapi dampaknya juga langsung bersentuhan dengan rakyat terutama kaitannya dengan perumahan,” ucap Hendro.

Hendro juga mengatakan, dalam situasi sekarang ini pergerakan sektor properti dalam negeri harus dioptimalkan di masa krisis covid-19.

“Sekarang saatnya untuk memaksimalkan potensi lokal. Industri properti Indonesia itu 90 persen kandungannya adalah lokal, bahkan 100 persen untuk rumah sederhana. Ini sangat strategis untuk menggerakkan perekonomian kita,” tegasnya.

Sementara itu, Ketua Bidang Properti Asosiasi Pengusaha Indonesia ( Apindo ) Sanny Iskandar mengatakan jika industri properti dan industri ikutannya terganggu maka kurang lebih sekitar 30 juta pekerja berpotensi terdampak PHK.

“Belum lagi ditambah dengan sektor informal yang juga ikut terdampak seperti sewa kontrakan dan warung-warung untuk para pekerja lapangan,” urai Sanny.

“Jadi kita semua harus berupaya agar industri properti ini jangan sampai terganggu karena ada 30 jutaan pekerja yang berpotensi terdampak. Ini khan jumlah yang sangat besar dan tidak main-main,” katanya.

Perlu diketahui, kontribusi sektor properti Indonesia terhadap PDB masih kecil dibandingkan dengan negara-negara di ASEAN.

Kontribusi properti nasional terhadap PDB pada tahun 2019 adalah sebesar 2,77 persen, sementara Thailand bisa mencapai 8,3 persen, Malaysia 20,53 persen, Filipina 21,09 persen dan Singapura 23,34 persen.

Penjualan Anjlok 43 Persen

Survei Harga Properti Residensial Bank Indonesia mengindikasikan kenaikan harga properti residensial di pasar primer yang melambat.

Hal ini tercermin dari kenaikan Indeks Harga Properti Residensial (IHPR) kuartal I 2020 sebesar 1,68 persen (year on year/yoy).

Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved